Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2322 tentang Dunia terkutuk kecuali dzikir dan ilmu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa dunia dan segala isinya pada dasarnya tercela dan tidak bernilai di sisi Allah, kecuali empat hal: dzikir kepada Allah, segala sesuatu yang mendukung dzikir (seperti amal shalih), orang alim (berilmu), dan orang yang menuntut ilmu. Ini bukan berarti kita dilarang memiliki dunia, tetapi kita diperingatkan agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan melalaikan akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Perawi: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
  • Kitab: Jami' At-Tirmidzi, no. 2322
  • Status: Hasan Gharib menurut Imam At-Tirmidzi

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا»

Terjemahan: "Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terkutuk, dan terkutuk pula segala isinya, kecuali dzikir kepada Allah, apa yang mendukungnya (ketaatan), orang alim, dan orang yang belajar."

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ

(QS. Al-Hadid [57]: 20)

Terjemahan: "Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."

Penjelasan Rinci

Makna "Dunia Terkutuk"

Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa makna "terkutuk" (ملعونة) di sini bukan berarti dunia itu haram atau najis secara fisik. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dunia itu tercela dan dijauhkan dari rahmat Allah, karena ia melalaikan manusia dari akhirat. Dunia menjadi "terkutuk" karena sifatnya yang menipu dan membuat manusia lalai dari tujuan penciptaan mereka.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Madarij as-Salikin menambahkan bahwa kecintaan berlebihan kepada dunia adalah pangkal segala kesalahan. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H): "Dunia adalah ladang bagi orang mukmin dan penjara bagi orang kafir." Maksudnya, orang mukmin bersabar di dunia untuk meraih pahala akhirat, sedangkan orang kafir merasa bebas di dunia namun akan merugi di akhirat.

Pengecualian dalam Hadits

Hadits ini mengecualikan empat hal dari kutukan dunia:

  1. Dzikir kepada Allah – Segala bentuk mengingat Allah, baik dengan lisan (tasbih, tahmid, tahlil) maupun hati (merenungkan kebesaran-Nya).
  2. Apa yang mendukung dzikir (ما والاه) – Imam Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari menjelaskan ini mencakup semua amal shalih yang mendekatkan kepada Allah, seperti shalat, puasa, sedekah, dan berbuat baik kepada sesama.
  3. Orang alim (berilmu) – Yaitu ulama yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah ditanya tentang keutamaan ilmu, beliau menjawab: "Ilmu adalah cahaya yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada hamba-Nya."
  4. Orang yang belajar – Yaitu penuntut ilmu yang ikhlas mencari ridha Allah. Imam asy-Syafi'i (w. 204 H) berkata: "Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah."

Pandangan Ulama Lain

Imam Abu Hanifah (w. 150 H) menekankan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar'i yang bermanfaat, bukan ilmu duniawi semata. Beliau berkata: "Ilmu adalah apa yang diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah, dan apa yang mendekatkan kepada Allah."

Imam Malik bin Anas (w. 179 H) ketika ditanya tentang hadits ini, beliau menjelaskan bahwa "orang alim" adalah mereka yang takut kepada Allah dan mengamalkan ilmunya. Beliau mengutip firman Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

(QS. Fathir [35]: 28)

Terjemahan: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh as-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti kita dilarang memiliki harta atau bekerja. Yang dilarang adalah menjadikan dunia sebagai tujuan hidup dan melupakan akhirat. Beliau mencontohkan: "Jika seseorang memiliki harta lalu digunakan untuk bersedekah dan membantu dakwah, maka hartanya termasuk dalam pengecualian 'apa yang mendukung dzikir'."

Story Telling

Kisah Fudail bin 'Iyadh dan Harta Dunia

Fudail bin 'Iyadh (w. 187 H) adalah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in yang terkenal zuhud. Suatu hari, seorang saudagar kaya datang membawa hadiah emas untuknya. Fudail menolak dengan lembut seraya berkata:

"Wahai saudaraku, jika engkau ingin memberi, berilah aku sesuatu yang lebih berharga dari emas."

Saudagar itu heran: "Apa yang lebih berharga dari emas, wahai Syaikh?"

Fudail menjawab: "Berilah aku nasihat yang membuatku ingat kepada Allah. Itulah harta yang tidak akan pernah habis. Adapun emas, ia akan membuatku sibuk menghitung dan menyimpannya, sehingga melalaikanku dari mengingat Allah."

Saudagar itu pun menangis dan berkata: "Engkau benar, wahai Syaikh. Aku datang dengan emas, namun pulang dengan pelajaran berharga."

Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa orang alim dan penuntut ilmu lebih mulia dari harta dunia. Fudail mengajarkan bahwa yang bernilai abadi adalah ilmu dan dzikir, bukan kekayaan materi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama – Gunakan harta, jabatan, dan keluarga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai tujuan hidup.
  2. Perbanyak dzikir – Biasakan berdzikir setiap saat, baik dengan lisan maupun hati.
  3. Cari ilmu syar'i – Jadilah penuntut ilmu yang ikhlas, karena ilmu adalah salah satu pengecualian dari kutukan dunia.
  4. Hormati ulama – Mereka adalah pewaris nabi yang membawa cahaya ilmu.
  5. Amalkan ilmu – Ilmu tanpa amal akan menjadi beban di akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.