Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2320 tentang Dunia sangat hina di sisi Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang hina dan rendahnya nilai dunia di sisi Allah ﷻ. Jika dunia ini memiliki nilai yang setara dengan sayap nyamuk sekalipun di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi seteguk air pun kepada orang kafir. Ini menunjukkan bahwa dunia dan segala isinya, betapapun megahnya, adalah sesuatu yang sangat kecil dan tidak bernilai di sisi Allah. Ujian dan kenikmatan dunia yang diberikan kepada siapa pun, baik mukmin maupun kafir, hanyalah ujian sementara, bukan tanda kasih sayang atau kemuliaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda berikan):

> حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ "

Terjemahan: "Jika dunia di sisi Allah sama dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak akan memberikan seorang kafir pun seteguk air darinya." (HR. At-Tirmidzi, Kitab Zuhd, Bab Apa yang Dikatakan tentang Hinaan Dunia di Sisi Allah, no. 2320; beliau berkata: "Hadits ini shahih gharib dari jalur ini.")

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hadid [57]: 20

> اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ

Artinya: "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (209-279 H) menilai hadits ini shahih gharib.
  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali (736-795 H) dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam dan Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa hinanya dunia di sisi Allah, dan bahwa Allah tidak menjadikan dunia sebagai balasan bagi kekasih-Nya, melainkan sebagai ujian.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan bahwa dunia tidak memiliki nilai di sisi Allah, dan bahwa kenikmatan dunia yang diberikan kepada orang kafir adalah bentuk istidraj (penangguhan azab), bukan penghormatan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan makna hadits ini dari beberapa sisi:

1. Makna "sayap nyamuk" sebagai perumpamaan kehinaan dunia

Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa Allah ﷻ memilih perumpamaan "sayap nyamuk" karena nyamuk adalah makhluk yang sangat kecil dan lemah. Sayapnya adalah bagian yang paling ringan dan tidak berharga dari tubuhnya. Ini menunjukkan bahwa dunia di sisi Allah lebih rendah daripada sesuatu yang paling kecil dan hina sekalipun.

2. Makna "tidak memberi kafir seteguk air"

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa jika dunia memiliki nilai di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberikannya kepada orang-orang kafir yang memusuhi-Nya. Karena Allah hanya memberikan sesuatu yang berharga kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya. Namun kenyataannya, orang-orang kafir justru sering diberikan kekayaan, kekuasaan, dan kenikmatan dunia yang melimpah. Ini membuktikan bahwa dunia itu hina dan tidak bernilai di sisi Allah.

3. Hikmah di balik pemberian dunia kepada orang kafir

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah (691-751 H) dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa pemberian dunia kepada orang kafir adalah bentuk istidraj — yaitu Allah memberikan kenikmatan dunia kepada mereka sebagai ujian dan penangguhan azab, bukan sebagai penghormatan. Ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 178:

> وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًا ۗ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

Artinya: "Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tangguhan (azab) yang Kami berikan kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguhan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan bagi mereka azab yang menghinakan."

4. Nilai dunia bagi seorang mukmin

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (1307-1376 H) dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa meskipun dunia ini hina di sisi Allah, namun dunia bisa menjadi mulia dan berharga bagi seorang mukmin jika digunakan sebagai sarana untuk meraih akhirat. Dunia adalah ladang akhirat. Maka seorang mukmin tidak boleh terlena dengan dunia, tetapi harus menjadikannya sebagai kendaraan menuju surga.

5. Perbedaan antara mukmin dan kafir dalam memandang dunia

Imam Ibn Katsir (701-774 H) dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa orang mukmin memandang dunia sebagai tempat ujian dan persinggahan sementara, sedangkan orang kafir memandang dunia sebagai tujuan akhir. Karena itu, orang mukmin akan menggunakan dunia untuk beribadah dan mencari bekal akhirat, sedangkan orang kafir hanya mengejar kesenangan dunia yang fana.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri (97-161 H), salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in, pernah berkata kepada murid-muridnya:

> "Wahai para penuntut ilmu, janganlah kalian menjadikan dunia sebagai tujuan utama kalian. Sesungguhnya dunia itu hina di sisi Allah. Jika dunia memiliki nilai di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberikannya kepada orang-orang kafir dan orang-orang fasik. Tetapi Allah memberikan dunia kepada mereka sebagai ujian dan istidraj. Maka jadikanlah akhirat sebagai tujuan kalian, dan jadikanlah dunia hanya sebagai bekal untuk mencapai akhirat."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf memahami hadits ini dengan sangat mendalam. Mereka tidak terpedaya oleh gemerlap dunia, tetapi menjadikannya sebagai sarana untuk meraih keridhaan Allah dan kebahagiaan akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Rendahkan pandangan terhadap dunia — Jangan menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Dunia hanyalah sarana untuk meraih akhirat.
  2. Jangan iri kepada orang kafir yang diberi kekayaan — Kekayaan mereka adalah istidraj dan ujian, bukan tanda kemuliaan.
  3. Gunakan dunia untuk ketaatan — Jadikan harta, waktu, dan tenaga sebagai bekal untuk beribadah dan beramal shalih.
  4. Perbanyak mengingat akhirat — Karena akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi, sedangkan dunia hanyalah persinggahan sementara.
  5. Bersyukur atas nikmat Allah — Meskipun dunia ini hina, nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah karunia yang harus disyukuri, bukan untuk disombongkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?