Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah perintah dari Nabi ﷺ agar kita memperbanyak mengingat kematian. Kematian disebut sebagai "pemutus kenikmatan" karena ia memutus seluruh kenikmatan dunia secara tiba-tiba. Mengingat kematian secara rutin akan membuat seorang muslim lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah, zuhud terhadap dunia, dan selalu siap menghadapi akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Al-Anbiya' [21]: 35
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."
Hadits Terkait:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Zuhud, Bab tentang Mengingat Kematian, nomor 2307. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Jawab al-Kafi menjelaskan bahwa mengingat kematian adalah obat yang paling mujarab untuk melunakkan hati yang keras dan memutuskan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Beliau berkata, "Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, maka dimuliakan baginya dunia dan dihinakan baginya urusan dunia."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Rasulullah ﷺ menggunakan kata "hādzimil ladzdzāt" (pemutus kenikmatan) untuk menggambarkan kematian. Ini adalah metafora yang sangat kuat. Kenikmatan duniawi—baik itu harta, kedudukan, keluarga, kesehatan, maupun kesenangan lainnya—semuanya akan terputus seketika saat kematian datang.
Makna "Perbanyaklah Mengingat Kematian"
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, dan Sa'id bin al-Musayyib, sangat menekankan amalan ini. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Perbanyaklah mengingat kematian, karena ia akan menghancurkan syahwat dan mencegahmu dari berbuat dosa."
Mengingat kematian bukanlah ajakan untuk bersedih dan berputus asa secara berlebihan. Akan tetapi, ia adalah pengingat yang menyeimbangkan jiwa. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa mengingat kematian memiliki dua faedah besar:
- Mendorong Taubat dan Ibadah: Seseorang yang sadar bahwa ajalnya tidak diketahui akan segera bertaubat dari dosa dan bersemangat melakukan kebaikan.
- Menimbulkan Zuhud: Seseorang akan lebih mudah melepaskan diri dari cinta dunia yang berlebihan. Ia akan fokus pada bekal akhirat.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mengingat kematian adalah bagian dari taqwa yang hakiki. Orang yang bertakwa adalah orang yang selalu mempersiapkan diri untuk perjumpaan dengan Rabbnya.
Peringatan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Beliau rahimahullah mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam mengingat kematian yang hanya bersifat lisan tanpa perubahan amal. Mengingat kematian yang benar adalah yang membuat kita semakin takut kepada Allah dan semakin banyak beramal shalih.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya, "Wahai Abu Sa'id, mengapa kami merasa berat untuk mati?" Beliau menjawab, "Karena kalian telah memakmurkan dunia dan merusak akhirat kalian. Maka, kalian benci untuk berpindah dari tempat yang makmur ke tempat yang rusak."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa beratnya mengingat kematian bagi sebagian orang adalah karena cinta mereka yang berlebihan kepada dunia. Semakin seseorang terikat dengan dunia, semakin berat baginya untuk mengingat kematian. Sebaliknya, orang yang hatinya terikat dengan akhirat, maka kematian adalah saat yang dirindukan untuk bertemu dengan Rabbnya.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan Mengingat Kematian sebagai Kebiasaan Harian: Bukan berarti kita bersedih terus-menerus, tetapi jadikan ia sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri.
- Ziarah Kubur: Nabi ﷺ menganjurkan ziarah kubur karena dapat mengingatkan kita pada kematian.
- Evaluasi Diri: Setiap kali mengingat kematian, evaluasilah amalan kita. Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju akhirat?
- Kurangi Cinta Dunia: Ingatlah bahwa semua kenikmatan dunia akan terputus. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa pada tujuan hidup yang sebenarnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.