Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan dua hal utama: anjuran kuat untuk bersiwak (membersihkan gigi dan mulut) sebelum setiap shalat, dan anjuran mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam. Namun, karena Nabi ﷺ sangat sayang kepada umatnya, beliau tidak menjadikan keduanya sebagai perintah yang wajib, melainkan sebagai sunnah yang sangat dianjurkan. Hadits ini juga menggambarkan semangat sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani dalam mengamalkan sunnah siwak, bahkan ia selalu menyiapkan siwaknya di telinga seperti seorang penulis menyimpan penanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat At-Tirmidzi:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Thaharah, Bab "Apa yang Dikatakan Tentang Siwak", nomor 23. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih (baik dan sahih).
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Tentang kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, Allah berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan beliau sangat penyayang dan pengasih terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah [9]: 128)
Ayat ini menjelaskan sifat kasih sayang Nabi ﷺ yang menjadi alasan beliau tidak memberatkan umatnya dengan perintah yang bersifat wajib.
Penjelasan Rinci
1. Makna Hadits Secara Umum
Hadits ini mengandung dua pesan utama:
Pertama: Anjuran Bersiwak Sebelum Setiap Shalat
Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat." Ini menunjukkan bahwa bersiwak sebelum shalat adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Namun, karena dikhawatirkan menjadi beban, beliau tidak mewajibkannya.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa bersiwak adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan waktu yang paling utama adalah ketika hendak shalat, karena malaikat hadir dalam shalat dan mulut yang bersih lebih baik untuk membaca Al-Qur'an dan berdzikir.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa siwak memiliki hikmah besar: membersihkan mulut, menghilangkan bau tidak sedap, dan menyenangkan Allah serta malaikat. Beliau juga menegaskan bahwa siwak disunnahkan setiap kali hendak shalat, baik shalat wajib maupun sunnah.
Kedua: Anjuran Mengakhirkan Shalat Isya
Nabi ﷺ bersabda: "Dan (seandainya tidak memberatkan) aku akan menunda shalat Isya hingga sepertiga malam." Ini menunjukkan bahwa waktu yang paling utama untuk shalat Isya adalah di sepertiga malam, karena lebih khusyuk dan lebih dekat dengan waktu mustajabnya doa.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa anjuran ini berlaku bagi orang yang mampu dan tidak memberatkan. Adapun bagi orang yang khawatir terlewat atau memberatkan, maka lebih baik shalat di awal waktu. Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa mengakhirkan Isya hingga sepertiga malam adalah sunnah, tetapi jika dikhawatirkan terlewat atau memberatkan, maka shalat di awal waktu lebih utama.
2. Sikap Sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani
Dalam hadits ini disebutkan bahwa Zaid bin Khalid Al-Juhani selalu membawa siwaknya di telinganya, seperti seorang penulis yang menyimpan pena di telinganya. Setiap kali hendak shalat, ia selalu bersiwak terlebih dahulu. Ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat terhadap sunnah Nabi ﷺ, hingga mereka selalu menyiapkan perlengkapan ibadahnya.
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa perilaku sahabat ini adalah bukti pemahaman mereka yang mendalam terhadap sunnah. Mereka tidak hanya mendengar hadits, tetapi langsung mengamalkannya dengan penuh semangat dan konsistensi.
3. Hikmah Larangan Memberatkan
Nabi ﷺ tidak mewajibkan siwak dan tidak mewajibkan mengakhirkan Isya karena kasih sayangnya kepada umat. Ini sejalan dengan prinsip syariat yang memudahkan, sebagaimana firman Allah:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, dan setiap perintah yang memberatkan tanpa darurat akan diringankan oleh Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sangat memperhatikan kebersihan mulutnya. Beliau selalu bersiwak setiap kali hendak shalat, bahkan ketika beliau sedang sakit dan terbaring lemah. Ketika ditanya mengapa beliau tetap bersiwak padahal sedang sakit, beliau menjawab: "Aku tidak ingin meninggalkan sunnah yang dicintai Rasulullah ﷺ, karena aku takut mati dalam keadaan meninggalkan sunnah."
Kisah ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat menjaga sunnah-sunnah Nabi ﷺ, meskipun dalam kondisi sulit sekalipun. Mereka memahami bahwa bersiwak bukan sekadar kebersihan fisik, tetapi juga ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Bersiwak sebelum setiap shalat adalah sunnah yang sangat dianjurkan, baik shalat wajib maupun sunnah. Jika tidak ada siwak, bisa menggunakan sikat gigi atau cara lain yang membersihkan mulut.
- Mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam adalah sunnah bagi yang mampu, tetapi jika khawatir terlewat atau memberatkan, shalat di awal waktu lebih utama.
- Meneladani sahabat Zaid bin Khalid dengan selalu menyiapkan perlengkapan ibadah dan konsisten dalam mengamalkan sunnah.
- Memahami kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, yang tidak memberatkan kita dalam beribadah, namun tetap menganjurkan amalan-amalan yang dicintai Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.