Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah mimpi Nabi ﷺ yang menceritakan perumpamaan kepemimpinan Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab. Abu Bakr digambarkan menarik satu atau dua ember dengan sedikit kelemahan, lalu Allah mengampuninya; sedangkan Umar digambarkan menarik ember besar dengan kekuatan luar biasa hingga orang banyak mendapat air. Para ulama menjelaskan ini sebagai isyarat masa kepemimpinan keduanya, kelembutan Abu Bakr, dan kekuatan Umar dalam menegakkan urusan kaum muslimin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Kitab Mimpi dari Rasulullah ﷺ, Bab Apa yang Diriwayatkan Tentang Mimpi Nabi, nomor 2289, dari jalur Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih gharib dari hadits Ibnu Umar.
Teks hadits yang disebutkan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ رُؤْيَا النَّبِيِّ، ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ قَالَ "رَأَيْتُ النَّاسَ اجْتَمَعُوا فَنَزَعَ أَبُو بَكْرٍ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ فِيهِ ضَعْفٌ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ قَامَ عُمَرُ فَنَزَعَ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا يَفْرِي فَرِيَّهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ بِعَطَنٍ". قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ.
Terjemahan ringkas: Nabi ﷺ melihat orang-orang berkumpul, lalu Abu Bakr menarik satu atau dua ember dengan sedikit kelemahan, dan Allah mengampuninya. Kemudian Umar berdiri dan menarik, lalu ember itu berubah menjadi sangat besar, dan beliau tidak pernah melihat orang kuat bekerja seperti itu hingga orang-orang berhenti di tempat minum unta.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan para sahabat dan kepemimpinan:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
QS. An-Nur [24]: 55.
Terjemahan ringkas: Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, meneguhkan agama mereka, dan menggantikan rasa takut mereka dengan keamanan, selama mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan dan kepemimpinan yang tegak di atas iman adalah karunia Allah, sebagaimana yang tampak pada masa Abu Bakr dan Umar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk mimpi Nabi ﷺ yang mengandung perumpamaan dan isyarat tentang perkara yang akan terjadi pada umatnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu, sehingga apa yang dilihat Nabi ﷺ dalam mimpi memiliki makna yang benar dan perlu ditadabburi. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa mimpi Nabi ﷺ adalah bagian dari kenabian dan tidak sama dengan mimpi manusia biasa.
Dalam hadits ini, orang-orang berkumpul di sekitar sumur untuk mengambil air. Air dalam bahasa perumpamaan sering dipahami sebagai ilmu, hidayah, atau urusan kaum muslimin. Abu Bakr menarik satu atau dua ember, dan di dalamnya ada kelemahan. Para ulama seperti Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah isyarat masa kepemimpinan Abu Bakr yang singkat, sekitar dua tahun, dan adanya kelembutan atau kelemahan manusiawi dalam sebagian urusan, namun Allah mengampuninya karena keimanan, kejujuran, dan pengorbanannya. Ini bukan celaan terhadap Abu Bakr, tetapi justru kabar gembira bahwa kekurangan tersebut ditutup dengan ampunan Allah.
Kemudian Umar berdiri dan menarik ember itu, lalu ember tersebut berubah menjadi gharb yaitu ember yang sangat besar. Nabi ﷺ bersabda bahwa beliau tidak pernah melihat seorang 'abqari yang bekerja seperti itu, yaitu orang yang sangat kuat dan cekatan, hingga orang-orang berhenti di tempat minum unta. Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah isyarat masa kepemimpinan Umar yang panjang, luas, dan penuh penaklukan, keadilan, serta penegakan syariat. Umar dikenal sangat kuat dalam membela agama, tegas dalam kebenaran, dan luas kepemimpinannya hingga banyak negeri masuk Islam pada masanya.
Imam at-Tirmidzi menyebut hadits ini shahih gharib dari hadits Ibnu Umar. Gharib di sini bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan bahwa jalur atau lafazhnya jarang dari jalur Ibnu Umar. Para ulama hadits seperti Abu Zur'ah dan Abu Hatim ar-Razi menilai hadits ini sebagai hadits yang diterima, dan maknanya sejalan dengan hadits-hadits lain tentang keutamaan Abu Bakr dan Umar.
Perlu dipahami bahwa mimpi ini bukan berarti Nabi ﷺ memilih pemimpin berdasarkan mimpi semata, tetapi Allah memperlihatkan kepada Nabi-Nya isyarat tentang urutan kepemimpinan setelah beliau. Ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakr dan Umar yang telah diakui oleh kaum muslimin, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain yang shahih.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, kaum muslimin berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berbicara dengan lembut dan penuh hikmah, mengingatkan keutamaan kaum Anshar dan Muhajirin, hingga akhirnya kaum muslimin sepakat membaiatnya. Masa kepemimpinannya singkat, sekitar dua tahun, tetapi penuh dengan penegakan agama, memerangi orang murtad, dan mengumpulkan Al-Qur'an. Kemudian Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memimpin dengan kekuatan dan keadilan yang luar biasa. Wilayah Islam meluas, keadilan tegak, dan orang-orang merasa aman. Ini sesuai dengan isyarat mimpi Nabi ﷺ bahwa Abu Bakr menarik satu atau dua ember dengan sedikit kelemahan, lalu Umar menarik ember besar dengan kekuatan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
Kesimpulan Praktis
- Mimpi Nabi ﷺ adalah wahyu dan mengandung pelajaran yang benar, sehingga kita wajib menghormatinya.
- Abu Bakr dan Umar adalah dua khalifah yang paling utama setelah Nabi ﷺ, dan keutamaan mereka diakui oleh para ulama Ahlus Sunnah.
- Kelemahan manusiawi tidak menghapus keutamaan seseorang jika ia beriman, jujur, dan beramal saleh, sebagaimana Abu Bakr yang diampuni Allah.
- Kekuatan dan ketegasan dalam menegakkan kebenaran adalah sifat terpuji, sebagaimana Umar bin al-Khaththab.
- Hendaknya kita mengambil pelajaran dari kepemimpinan mereka: lembut dalam kebenaran, tegas dalam keadilan, dan selalu kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.