Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa mimpi itu ada tiga macam: (1) mimpi yang benar dari Allah, (2) mimpi yang berasal dari bisikan hati/angan-angan seseorang, dan (3) mimpi yang menakutkan dari setan. Jika seseorang bermimpi buruk, beliau ﷺ mengajarkan untuk bangun dan shalat, tidak menceritakannya kepada sembarang orang, dan tidak perlu merasa cemas. Hadits ini juga mengajarkan bahwa mimpi bertemu Nabi ﷺ adalah benar dan setan tidak bisa menyerupai beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi, Kitab Mimpi, Bab Tentang Tafsir Mimpi dan Apa yang Disukai dan Tidak Disukai, no. 2280, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan mimpi yang benar (ru'ya shadiqah) adalah firman Allah Ta'ala:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Dia (Ya'qub) berkata: 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)
Ayat ini menunjukkan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu dan mimpi yang benar. Namun untuk mimpi orang biasa, tidak semua mimpi bisa dijadikan dasar hukum.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan pembagian mimpi ini dengan sangat rinci. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa mimpi itu ada tiga jenis sebagaimana disebutkan dalam hadits ini:
- Ru'ya Haqq (mimpi yang benar) – Ini adalah mimpi yang berasal dari Allah, bisa berupa kabar gembira, peringatan, atau petunjuk. Mimpi para nabi adalah wahyu, sedangkan mimpi orang-orang shalih adalah kabar gembira. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Mimpi yang baik dari seorang muslim yang shalih adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian."
- Mimpi bisikan hati (haditsun nafs) – Yaitu mimpi yang muncul karena pikiran seseorang yang sedang memikirkan sesuatu, atau angan-angan yang menguasai pikirannya sebelum tidur. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi jenis ini adalah percampuran dari apa yang dipikirkan seseorang di siang hari, lalu terbawa ke alam tidurnya.
- Mimpi menakutkan dari setan – Yaitu mimpi buruk yang sengaja ditampilkan setan untuk membuat seseorang cemas, sedih, dan takut. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Shalihin menjelaskan bahwa setan berusaha mengganggu manusia melalui mimpi agar hatinya tidak tenang dan ibadahnya terganggu.
Yang dilakukan ketika mimpi buruk:
Dalam hadits ini dan hadits-hadits lain, para ulama menyebutkan beberapa hal yang dianjurkan:
- Bangun dan shalat (sebagaimana dalam hadits ini)
- Meludah ke kiri tiga kali
- Berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi dan dari setan
- Tidak menceritakan mimpi buruk kepada orang lain
- Berpindah posisi tidur jika ingin tidur kembali
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa shalat yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalat sunnah, karena ini adalah bentuk perlindungan diri kepada Allah dan cara untuk menghilangkan gangguan setan.
Tentang mimpi bertemu Nabi ﷺ:
Beliau ﷺ bersabda: "Barangsiapa melihatku (dalam mimpi), maka sesungguhnya aku adalah dia, karena setan tidak mampu menyerupai aku." Para ulama menjelaskan bahwa mimpi bertemu Nabi ﷺ adalah mimpi yang benar dan bisa menjadi kabar gembira. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "aku adalah dia" adalah bahwa orang yang melihat Nabi ﷺ dalam mimpinya benar-benar melihat beliau, bukan sekadar gambaran atau perumpamaan. Namun perlu dipahami bahwa mimpi tersebut tidak bisa dijadikan sumber syariat baru, karena wahyu telah sempurna dengan wafatnya beliau ﷺ.
Tentang tidak menceritakan mimpi kecuali kepada orang berilmu:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mimpi hanya boleh diceritakan kepada orang yang memiliki ilmu tentang takwil mimpi dan orang yang tulus nasihatnya. Karena jika diceritakan kepada orang yang tidak paham, bisa jadi ditakwilkan dengan takwil yang buruk dan menimbulkan kesedihan.
Tentang belenggu (qaid) dan kalung besi (ghull):
Nabi ﷺ bersabda bahwa beliau menyukai belenggu (qaid) dan tidak menyukai kalung besi (ghull). Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belenggu dalam mimpi menunjukkan keteguhan dalam agama, sedangkan kalung besi menunjukkan keterikatan yang buruk atau kekikiran. Ini adalah bagian dari ilmu takwil mimpi yang diajarkan Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Muhammad bin Sirin – beliau adalah salah satu perawi hadits ini dan dikenal sebagai ulama yang paling ahli dalam takwil mimpi di zamannya. Diceritakan bahwa beliau sangat berhati-hati dalam menakwilkan mimpi. Apabila seseorang datang menceritakan mimpinya, beliau akan bertanya tentang keadaan orang tersebut, pekerjaannya, dan keadaannya sehari-hari sebelum menakwilkan mimpinya.
Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Muhammad bin Sirin dan berkata, "Aku bermimpi seolah-olah aku sedang mengumandangkan adzan." Maka Muhammad bin Sirin bertanya, "Apakah engkau seorang yang shalih?" Orang itu menjawab, "Ya." Maka beliau berkata, "Engkau akan menunaikan ibadah haji." Kemudian orang lain datang dengan mimpi yang sama, dan Muhammad bin Sirin bertanya, "Apakah engkau seorang yang shalih?" Orang itu menjawab, "Tidak, aku banyak bermaksiat." Maka beliau berkata, "Engkau akan mencuri." Ternyata benar, orang itu kemudian tertangkap mencuri.
Kisah ini menunjukkan bahwa takwil mimpi membutuhkan ilmu dan kehati-hatian, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan agar mimpi tidak diceritakan kecuali kepada orang yang berilmu dan tulus nasihatnya.
Kesimpulan Praktis
- Kenali tiga jenis mimpi – Mimpi dari Allah (benar), mimpi bisikan hati, dan mimpi dari setan. Jangan menjadikan semua mimpi sebagai sesuatu yang penting.
- Jika bermimpi buruk – Bangunlah, berwudhu, dan shalat. Berlindunglah kepada Allah dari keburukan mimpi dan jangan menceritakannya kepada orang lain.
- Jika bermimpi baik – Bersyukurlah kepada Allah dan boleh menceritakannya kepada orang yang berilmu atau orang yang tulus nasihatnya.
- Mimpi bertemu Nabi ﷺ – Ini adalah kabar gembira, namun tidak bisa dijadikan dasar hukum baru karena syariat telah sempurna.
- Jangan terlalu sibuk dengan mimpi – Yang terpenting adalah amal shalih dan keistiqamahan dalam ketaatan, bukan mengejar mimpi-mimpi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.