Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2271 tentang Mimpi orang beriman bagian dari kenabian

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa mimpi yang baik dan benar yang dialami oleh orang beriman merupakan salah satu bagian dari kenabian. Ini adalah kabar gembira dari Allah kepada hamba-Nya yang beriman, sebagai salah satu bentuk wahyu atau ilham yang tersisa setelah masa kenabian berakhir. Mimpi baik adalah salah satu dari 46 bagian kenabian, yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya, namun bukan berarti setiap mimpi bisa dijadikan sumber hukum syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Rasulullah ﷺ bersabda:

> رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

"Mimpi orang beriman adalah bagian dari empat puluh enam bagian dari kenabian." (HR. At-Tirmidzi no. 2271, dari sahabat 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, dan beliau menyatakan hadits ini shahih)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman tentang mimpi Nabi Ibrahim 'alaihis salam:

QS. Ash-Shaffat [37]: 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'"

Penjelasan Ulama:

Imam Al-Qurthubi dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu dari Allah yang benar dan wajib dilaksanakan, sebagaimana mimpi Nabi Ibrahim yang menjadi dasar perintah penyembelihan putranya.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits

Para ulama menjelaskan bahwa maksud "bagian dari kenabian" dalam hadits ini adalah bahwa mimpi yang benar merupakan salah satu bentuk pemberitaan gaib dari Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana wahyu yang diberikan kepada para nabi. Namun tentu saja, mimpi bukanlah wahyu yang menjadi sumber hukum syariat bagi umat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Imam Al-Khathabi menjelaskan bahwa maknanya adalah mimpi yang benar itu termasuk bagian dari tanda-tanda kenabian, karena mimpi yang benar adalah salah satu cara Allah menyampaikan kabar gaib kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa mimpi yang benar adalah salah satu bentuk ilham dan pemberitahuan dari Allah. Beliau berkata: "Mimpi yang benar adalah bagian dari kenabian, karena mimpi tersebut mengandung kabar gaib yang Allah beritahukan kepada hamba-Nya."

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmah disebutnya angka 46 adalah untuk menunjukkan bahwa mimpi yang benar itu sangat sedikit dibandingkan dengan total bagian kenabian, sehingga seorang mukmin tidak boleh terlalu berlebihan dalam mengandalkan mimpi.

Jenis-Jenis Mimpi

Para ulama membagi mimpi menjadi tiga jenis:

  1. Mimpi yang baik dan benar - berasal dari Allah sebagai kabar gembira
  2. Mimpi buruk - berasal dari setan untuk menakut-nakuti dan mengganggu
  3. Mimpi dari bisikan jiwa - berasal dari pikiran dan angan-angan seseorang

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa mimpi yang benar adalah mimpi yang dialami oleh orang-orang yang jujur dan saleh, dan mimpi tersebut menjadi kabar gembira bagi mereka.

Adab Terhadap Mimpi

Rasulullah ﷺ mengajarkan adab ketika melihat mimpi:

  1. Jika melihat mimpi baik: bersyukur kepada Allah dan menceritakannya kepada orang yang dicintai
  2. Jika melihat mimpi buruk: berlindung kepada Allah dari keburukannya, meludah ke kiri tiga kali, dan tidak menceritakannya kepada orang lain

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Mimpi yang baik berasal dari Allah, dan mimpi buruk berasal dari setan. Maka jika salah seorang dari kalian bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali dan berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut."

Story Telling

Dahulu, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang mimpi. Beliau berkata: "Mimpi yang benar adalah kabar gembira bagi orang beriman. Namun janganlah seseorang menjadikan mimpinya sebagai sumber hukum atau keyakinan yang mengikat. Karena syariat telah sempurna dengan Al-Qur'an dan Sunnah."

Ada juga kisah tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang pernah berkata: "Mimpi yang benar adalah salah satu pintu kabar gembira yang Allah buka untuk hamba-Nya yang beriman. Namun orang yang berakal tidak akan meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah hanya karena sebuah mimpi."

Kisah lain yang masyhur adalah ketika Imam Asy-Syafi'i rahimahullah ditanya tentang seseorang yang bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ dan mendapat perintah tertentu. Beliau menjawab: "Mimpi bertemu Rasulullah ﷺ adalah benar dan merupakan kabar gembira. Namun jika mimpi itu berisi perintah yang bertentangan dengan syariat, maka tidak boleh diikuti. Karena syariat telah ditetapkan dan tidak bisa diubah oleh mimpi."

Kesimpulan Praktis

  1. Mimpi yang baik adalah kabar gembira dari Allah untuk orang beriman, namun bukan sumber hukum syariat
  2. Jangan menjadikan mimpi sebagai dasar untuk mengambil keputusan besar dalam agama, karena syariat telah sempurna
  3. Jika bermimpi baik, bersyukurlah kepada Allah dan berdoa agar kebaikan itu terwujud
  4. Jika bermimpi buruk, berlindunglah kepada Allah dari keburukannya dan jangan menceritakannya kepada orang lain
  5. Tetap berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber utama hukum dan petunjuk

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.