Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan dua kondisi zaman yang berbeda: pertama, di masa awal Islam yang penuh kekuatan iman dan cahaya wahyu, meninggalkan sedikit saja dari perintah Allah sudah dapat menyebabkan kebinasaan karena dosa besar dan ringannya maaf. Kedua, di akhir zaman yang penuh fitnah, kelemahan iman, dan kesulitan beragama, mengerjakan sedikit saja dari perintah Allah sudah cukup menjadi sebab keselamatan. Hadits ini dinilai gharib oleh Imam at-Tirmidzi dan dilemahkan oleh Syaikh al-Albani, namun maknanya sejalan dengan banyak dalil shahih tentang sulitnya berpegang pada agama di akhir zaman.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
QS. At-Taghabun [64]: 16
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِّأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُّوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah serta taatlah, dan belanjakanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini menunjukkan bahwa takwa dan amal diukur sesuai kemampuan, sesuai dengan inti hadits tentang “sepersepuluh”.
2. Hadits riwayat at-Tirmidzi (2267) – teks Arab telah disebutkan dalam pertanyaan.
Perawi: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Sanad: Nu'aim bin Hammad – Sufyan bin 'Uyainah – Abu az-Zinad – al-A'raj – Abu Hurairah.
Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib; kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Nu'aim bin Hammad dari Sufyan bin 'Uyainah.”
3. Perkataan ulama:
- Imam Ahmad bin Hanbal (sebagaimana dinukil oleh Ibn Qayyim dalam Madarij as-Salikin) memberikan isyarat bahwa pada masa awal, kaum muslimin sangat bersungguh-sungguh sehingga dosa sekecil apa pun amat berbahaya.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Dha'if at-Tirmidzi (no. 2267) menyatakan hadits ini dha'if karena Nu'aim bin Hammad – meskipun tsiqah – memiliki beberapa kekeliruan dalam meriwayatkan hadits. Namun, beliau juga mengakui bahwa maknanya benar karena ada dalil lain yang shahih.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (13/45) ketika menjelaskan hadits-hadits fitnah menyebutkan bahwa pada akhir zaman, amal saleh yang sedikit pun menjadi sangat berat dan bernilai tinggi di sisi Allah karena banyaknya rintangan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan perbedaan tingkatan iman dan kesungguhan antara generasi awal Islam dan generasi akhir zaman. Makna “sepersepuluh” di sini adalah isyarat tentang jumlah minimal perintah yang ditinggalkan (pada zaman awal) atau yang dikerjakan (pada zaman akhir), bukan angka pasti 10%, melainkan perumpamaan untuk menunjukkan sedikitnya amal yang bisa menyebabkan hukuman atau keselamatan.
Pertama: “Meninggalkan sepersepuluh dari yang diperintahkan akan binasa”
Ini terjadi pada masa sahabat dan tabi'in di mana cahaya wahyu masih terang, iman kuat, dan suasana ibadah penuh kekhusyukan. Para ulama salaf seperti al-Hasan al-Bashri menggambarkan bahwa di masa itu seorang muslim merasa takut sekali jika jatuh dalam dosa walau kecil, karena mereka menyadari besarnya hak Allah dan ringannya amal mereka. Mujahid bin Jabr dan Qatadah menafsirkan ayat-ayat ancaman dengan sangat tegas, menunjukkan bahwa dosa sekecil apa pun tidak boleh dianggap enteng pada saat iman masih prima. Maka meninggalkan sebagian kecil perintah pun sudah menjadi dosa besar karena kesengajaan dan ringannya maaf dari sisi Allah akibat kekuatan iman mereka? Sebenarnya, yang dimaksudkan adalah bahwa pada zaman awal, kebenaran begitu jelas dan dukungan iman sangat kuat, sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan sedikit perintah pun. Konsekuensinya, jika tetap ditinggalkan, hal itu menunjukkan kelemahan iman yang parah, sehingga ancaman “binasa” (hukuman) sangat mungkin terjadi.
Kedua: “Mengerjakan sepersepuluh dari yang diperintahkan akan selamat”
Ini terjadi pada akhir zaman di mana fitnah merajalela, syahwat menguasai, agama seperti barang yang asing, dan orang yang berpegang pada kebenaran laksana menggenggam bara api (HR. Tirmidzi, shahih). Dalam kondisi demikian, melaksanakan sepersepuluh dari perintah – yaitu amal minimal yang masih bisa dilakukan di tengah kesulitan – sudah menjadi bukti kesabaran dan ketakwaan yang luar biasa. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (syarah hadits ke-36) menjelaskan bahwa pahala amal di akhir zaman berlipat-lipat karena kesulitan dan sedikitnya jumlah orang yang benar-benar beriman. Oleh karena itu, dengan amal sedikit itu seseorang bisa selamat dari neraka.
Perbedaan pendapat tentang sanad:
Imam at-Tirmidzi menganggap hadits ini gharib karena hanya diriwayatkan melalui Nu'aim bin Hammad. Nu'aim bin Hammad adalah seorang hafizh dan fadhil (ahli hadits besar), namun ia sering menyendiri dalam periwayatan. Al-Albani melemahkannya karena Nu'aim bin Hammad terkadang keliru dan ada beberapa haditsnya yang munkar. Namun Ibnu Hajar dalam Taqrib at-Tahdzib menilainya shaduq (jujur) meskipun sering salah. Adz-Dzahabi menyebutnya 'allamah namun mengkritik hafalannya. Secara umum, hadits ini berstatus dha'if dari segi sanad, akan tetapi maknanya shahih secara keseluruhan karena didukung oleh hadits-hadits lain seperti: “Barangsiapa berpegang dengan sunnahku pada saat rusaknya umatku, baginya pahala seratus syuhada” (HR. Baihaqi dalam az-Zuhd; hasan). Maka kita tetap boleh mengambil pelajaran dan nasihat darinya dengan tetap menyadari statusnya.
Story Telling
Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri – seorang ulama tabi'in besar – bahwa beliau berkata: “Aku mendapati suatu kaum (para sahabat) yang apabila melakukan suatu dosa kecil, mereka begitu khawatir seolah-olah akan dicampakkan ke dalam neraka. Adapun kami (pada masanya), jika melakukan dosa besar, kami merasa aman-aman saja.” (Shahih, riwayat Ibnu Abi ad-Dunya dalam at-Tawbah).
Kisah ini menggambarkan betapa besar rasa takut dan kesungguhan generasi awal, sekaligus menjadi peringatan bagi kita di akhir zaman agar jangan sampai kita meremehkan dosa-dosa besar, apalagi kecil. Tapi sebaliknya, jika kita masih sanggup melakukan amal sekecil apa pun di tengah fitnah zaman, hal itu adalah karunia besar yang patut disyukuri.
Kesimpulan Praktis
- **Jangan mer