Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang dekatnya hari kiamat. Beliau mengabarkan bahwa tidak ada satu jiwa pun yang hidup pada masa beliau yang akan mencapai usia seratus tahun setelah sabda itu disampaikan. Ini adalah salah satu tanda kenabian, karena apa yang beliau kabarkan benar-benar terjadi. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu berangan-angan panjang tentang dunia, karena ajal bisa datang kapan saja.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik).
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar, dan berikut kami tuliskan kembali dengan harakat lengkap:
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مَا عَلَى الأَرْضِ نَفْسٌ مَنْفُوسَةٌ - يَعْنِي الْيَوْمَ تَأْتِي عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ"
Makna hadits: "Tidak ada jiwa yang dilahirkan di atas bumi - maksudnya pada hari ini - yang akan datang kepadanya seratus tahun."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2538) dari jalur sahabat Jabir bin Abdillah dengan lafaz yang semakna. Imam Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam Shahih-nya (no. 6035) dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang nyata. Beliau mengabarkan bahwa tidak ada seorang pun yang hidup pada masa sabda itu yang akan mencapai usia seratus tahun setelahnya. Dan memang demikianlah yang terjadi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah kabar tentang dekatnya kiamat. Beliau menukil bahwa para ulama memahami hadits ini sebagai isyarat bahwa umur dunia setelah masa Nabi ﷺ tidak akan panjang. Ini menunjukkan bahwa hari kiamat sudah sangat dekat, sebagaimana firman Allah:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
"Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan." (QS. Al-Qamar [54]: 1)
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "nafsun manfusatun" adalah jiwa yang dilahirkan. Beliau menegaskan bahwa kabar ini benar-benar terjadi, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang hidup pada masa itu mencapai usia seratus tahun setelah sabda tersebut.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa usia umat ini tidak akan mencapai seratus tahun setelah masa Nabi ﷺ. Beliau juga menjelaskan bahwa sebagian ulama memahami bahwa yang dimaksud adalah tidak ada jiwa yang hidup saat itu yang akan tetap hidup hingga seratus tahun kemudian, dan ini adalah kabar ghaib yang terbukti kebenarannya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran penting: janganlah seseorang terlena dengan panjang angan-angan. Karena Nabi ﷺ mengabarkan bahwa usia umat ini pendek, maka hendaknya kita mempersiapkan diri menghadapi kematian dan hari akhir.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dekatnya kiamat adalah salah satu hal yang wajib diimani, dan hadits-hadits Nabi ﷺ yang mengabarkan tentang hal ini adalah benar dan nyata.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika hadits ini sampai kepada para sahabat, mereka sangat tersentuh. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda pada suatu hari di atas mimbar: 'Tidak ada jiwa yang dilahirkan di atas bumi yang akan datang kepadanya seratus tahun.' Maka para sahabat mengira bahwa yang beliau maksud adalah umur dunia akan berakhir dalam seratus tahun. Namun ternyata yang beliau maksud adalah bahwa tidak ada jiwa yang hidup pada hari itu yang akan mencapai usia seratus tahun."
Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan setiap sabda Nabi ﷺ dan berusaha memahaminya dengan benar. Mereka tidak langsung menyimpulkan, tetapi bertanya dan merenungkan. Ini pelajaran bagi kita untuk tidak tergesa-gesa dalam memahami dalil, dan selalu merujuk kepada pemahaman para ulama.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada kabar ghaib dari Nabi ﷺ - Hadits ini menguatkan keimanan kita bahwa Nabi ﷺ benar-benar menerima wahyu dan kabar dari Allah.
- Mempersiapkan diri menghadapi kematian - Karena usia umat ini pendek, jangan menunda taubat dan amal shalih.
- Tidak berangan-angan panjang - Hendaknya kita tidak terlena dengan dunia dan selalu mengingat akhirat.
- Meneladani para sahabat - Mereka sangat serius dalam memahami sabda Nabi ﷺ, demikianlah seharusnya sikap kita terhadap dalil-dalil syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.