Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2247 tentang Pertemuan Nabi dengan Ibn Sa'id dan tanda-tanda Dajjal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan pertemuan Nabi ﷺ dengan Ibnu Shayyad (Ibnu Sha'id), seorang anak Yahudi yang dianggap memiliki tanda-tanda Dajjal. Nabi ﷺ mengujinya dengan pertanyaan tauhid, dan anak itu menjawab dengan teka-teki yang membingungkan. Hadits ini mengajarkan kita tentang kewaspadaan terhadap fitnah Dajjal, pentingnya ilmu tauhid, dan adab Nabi ﷺ dalam menghadapi orang yang meragukan kenabiannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Fitnah, Bab Apa yang Dikatakan tentang Ibn Sa'id, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka dengan lafaz yang semakna, dari sahabat Ibnu Umar dan Abu Sa'id Al-Khudri.

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan fitnah besar dan Dajjal, Allah ﷻ berfirman:

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّي بِغَيْبِهِنَّ عَلِيمٌ

QS. Yusuf [12]: 50

Terjemahan: "Dan raja berkata: 'Bawalah dia kepadaku.' Maka ketika utusan itu datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata: 'Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana keadaan perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian dan fitnah dapat datang dalam berbagai bentuk, dan seorang mukmin harus berpegang pada ilmu dan kebenaran.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Pengujian Nabi ﷺ terhadap Ibnu Shayyad

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sengaja menguji Ibnu Shayyad untuk mengetahui hakikatnya. Pertanyaan "Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?" adalah pertanyaan tauhid yang fundamental. Ibnu Shayyad menjawab dengan membalikkan pertanyaan, yang menunjukkan kesombongan dan kebingungan.

2. Jawaban Nabi ﷺ yang Mengajarkan Tauhid

Ketika Ibnu Shayyad membalikkan pertanyaan, Nabi ﷺ tidak marah, melainkan mengucapkan kalimat iman: "Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kiamat." Ini adalah pengajaran tauhid yang agung. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan bahwa iman yang benar mencakup keyakinan kepada semua rukun iman, tidak setengah-setengah.

3. Penglihatan Ibnu Shayyad dan Penjelasan Nabi ﷺ

Ibnu Shayyad mengaku melihat "singgasana di atas air." Nabi ﷺ menjelaskan bahwa itu adalah singgasana Iblis di atas laut. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Iblis memiliki singgasana yang ia gunakan untuk menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa Iblis meletakkan singgasananya di atas air.

4. Kebingungan Ibnu Shayyad

Ketika Ibnu Shayyad mengatakan melihat "seorang yang jujur dan dua pendusta" atau "dua yang jujur dan seorang pendusta," Nabi ﷺ bersabda: "Dia telah bingung (dibuat bingung)." Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa Ibnu Shayyad berada dalam kebingungan dan tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Ini adalah tanda-tanda Dajjal yang akan datang.

5. Perintah Nabi ﷺ untuk Meninggalkannya

Nabi ﷺ bersabda: "Maka tinggalkan dia." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah perintah untuk tidak terlalu sibuk dengan urusan Ibnu Shayyad, karena urusannya telah jelas kebingungannya. Namun, ini bukan berarti mengabaikan kewaspadaan terhadap fitnah Dajjal.

Perbedaan Pendapat Ulama

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal yang ditunggu-tunggu atau bukan. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, sementara yang lain berpendapat bahwa dia bukan Dajjal, melainkan hanya memiliki kemiripan. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Dajjal yang sebenarnya belum muncul, dan Ibnu Shayyad hanyalah salah satu tanda atau pendahuluannya. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwa-fatwanya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah pertemuan ini, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah bersumpah di hadapan Nabi ﷺ bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Namun Nabi ﷺ tidak membenarkan atau menyalahkannya secara tegas, melainkan bersabda: "Jika dia adalah Dajjal, maka kamu tidak akan mampu menghadapinya, dan jika bukan, maka kamu tidak perlu membunuhnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini mengajarkan kita bahwa urusan Dajjal adalah urusan besar yang harus diserahkan kepada Allah, dan kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari fitnahnya, bukan sibuk mencari-cari identitasnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Pelajari Tauhid dengan Benar: Sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan rukun iman, kita harus memahami dan mengamalkan tauhid yang benar.
  2. Waspadai Fitnah Dajjal: Kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Jangan Sibuk dengan Urusan yang Membingungkan: Jika ada hal yang tidak jelas, serahkan kepada Allah dan jangan terlalu sibuk membahasnya.
  4. Berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah: Dalam menghadapi fitnah, kita harus berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
  5. Bersikap Lembut dalam Berdakwah: Nabi ﷺ tetap lembut dalam menghadapi Ibnu Shayyad, meskipun anak itu membangkang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?