Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ bagi orang-orang yang berjalan menuju masjid dalam keadaan gelap, terutama untuk shalat Isya dan Subuh berjamaah. Mereka dijanjikan cahaya yang sempurna (nurun tamm) pada hari kiamat, yaitu cahaya yang menerangi jalan mereka di atas shirath (jembatan) menuju surga. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan menjaga shalat berjamaah di masjid, meskipun harus melewati kegelapan dan kesulitan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi No. 223:
Rasulullah ﷺ bersabda:
> بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat."
(HR. At-Tirmidzi, Kitab Shalat, Bab Keutamaan Shalat Isya dan Subuh Berjamaah, no. 223. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini gharib dari jalur ini, marfu' dan shahih musnad, serta mauquf kepada para sahabat Nabi ﷺ.")
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
> يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
"Pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka."
(QS. Al-Hadid [57]: 12)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) menilai hadits ini shahih dalam sunannya.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 223.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) sering menyebutkan hadits ini dalam pembahasan keutamaan shalat berjamaah, terutama shalat Isya dan Subuh.
Penjelasan Rinci
Makna "berjalan dalam kegelapan" (المَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ):
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang keluar rumah menuju masjid dalam keadaan gelap, baik gelapnya malam untuk shalat Isya maupun gelapnya waktu sahur/pagi buta untuk shalat Subuh. Ini menunjukkan kesungguhan dan kecintaan mereka kepada masjid.
Makna "cahaya yang sempurna" (النُّورِ التَّامِّ):
- Imam Al-Mubarakfuri (dalam Tuhfatul Ahwadzi, syarah Sunan At-Tirmidzi) menjelaskan bahwa "cahaya yang sempurna" adalah cahaya yang tidak ada kegelapan padanya, berbeda dengan cahaya orang munafik yang padam di tengah jalan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) menjelaskan bahwa cahaya ini akan menerangi mereka di hari kiamat, terutama saat melewati shirath. Semakin banyak amal kebaikan, semakin sempurna cahayanya.
- Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa cahaya seorang hamba di hari kiamat sesuai dengan kadar cahaya iman dan amal shalihnya di dunia. Orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan, Allah akan berikan cahaya yang sempurna sebagai balasan yang setimpal.
Perbedaan Riwayat:
Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) dan juga mauquf (hanya sampai kepada sahabat). Namun yang marfu' adalah yang shahih, dan ini dikuatkan oleh riwayat lain dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhum.
Hikmah di Balik Janji Ini:
- Allah membalas sesuai jenis amal: mereka yang berjalan dalam kegelapan di dunia, akan diberi cahaya di akhirat.
- Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang bersusah payah untuk taat.
- Shalat berjamaah di masjid adalah syi'ar Islam yang agung, dan menjaga shalat Isya serta Subuh adalah ciri orang munafik jika ditinggalkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidak ada seorang pun yang shalat Isya dan Subuh berjamaah melainkan ia akan mendapatkan cahaya di hari kiamat."
Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah ditanya tentang orang yang meninggalkan shalat berjamaah, beliau menjawab dengan tegas bahwa ini adalah perkara yang sangat dikhawatirkan. Para ulama salaf sangat menjaga shalat berjamaah, bahkan Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata: "Barangsiapa yang hatinya terikat dengan masjid, maka Allah akan memberinya cahaya di hari kiamat."
Ada kisah tentang seorang sahabat yang buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu 'anhu. Ia pernah meminta keringanan kepada Nabi ﷺ untuk shalat di rumah karena buta dan rumahnya jauh. Namun Nabi ﷺ tetap memerintahkannya untuk datang ke masjid, karena keutamaan shalat berjamaah sangat besar. Ini menunjukkan bahwa kesulitan berjalan menuju masjid justru menambah pahala dan cahaya.
Kesimpulan Praktis
- Jaga shalat Isya dan Subuh berjamaah di masjid — ini adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan dijanjikan cahaya sempurna di hari kiamat.
- Niatkan kesulitan berjalan dalam gelap sebagai ibadah — setiap langkah menuju masjid dicatat sebagai pahala dan penghapus dosa.
- Jangan remehkan shalat berjamaah — para ulama salaf sangat menjaga dan mengkhawatirkan orang yang meninggalkannya.
- Perbanyak doa memohon cahaya — sebagaimana doa Nabi ﷺ: "Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, dalam penglihatanku cahaya, dalam pendengaranku cahaya..." (HR. Bukhari-Muslim).
- Ajak keluarga dan tetangga untuk bersama-sama menjaga shalat berjamaah, terutama di waktu gelap.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.