Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2220
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi kabar dari Nabi ﷺ bahwa di kalangan kabilah Thaqif akan muncul dua tokoh besar yang membawa kerusakan: seorang pendusta besar dan seorang penghancur (yang banyak membunuh tanpa hak). Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud pendusta adalah Al-Mukhtar bin Abi 'Ubaid, dan yang dimaksud penghancur adalah Al-Hajjaj bin Yusuf. Hadits ini termasuk tanda kenabian (nubuwwah) karena memberitakan hal yang terjadi setelahnya, dan menjadi pelajaran agar kita berhati-hati terhadap kedustaan dan kezaliman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Al-Fitan, dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Syarik."
Teks hadits yang disebutkan:
> عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "فِي ثَقِيفٍ كَذَّابٌ وَمُبِيرٌ"
Terjemahan: "Dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Di Thaqif ada seorang pendusta dan seorang penghancur.'"
Keterangan At-Tirmidzi: "Dikatakan bahwa pendusta itu adalah Al-Mukhtar bin Abi 'Ubaid, dan penghancur itu adalah Al-Hajjaj bin Yusuf." Kemudian beliau menyebut riwayat dari Hisyam bin Hassan: "Mereka menghitung jumlah orang yang dibunuh Al-Hajjaj secara sengaja (tanpa hak), maka mencapai seratus dua puluh ribu orang."
Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang bahaya kedustaan dan kezaliman:
QS. An-Nahl [16]: 105
وَمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ إِلَّا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
Terjemahan: "Dan tidaklah yang mengada-adakan kebohongan itu melainkan orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah; dan mereka itulah orang-orang pendusta."
QS. Al-Ma'idah [5]: 32 (tentang besarnya dosa membunuh tanpa hak):
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
Terjemahan: "Oleh karena itu Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa barangsiapa membunuh seseorang bukan karena (membunuh) orang lain atau bukan karena (dia) berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia."
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa dari kabilah Thaqif (kabilah Arab yang tinggal di Thaif) akan muncul dua sosok yang membawa fitnah besar: seorang kadzdzab (pendusta besar) dan seorang mubir (penghancur/perusak). Kata mubir berasal dari al-bawār yang berarti kebinasaan — yakni orang yang banyak membinasakan manusia.
Pemahaman ulama dalam daftar:
Imam At-Tirmidzi sendiri (dalam kitabnya) menegaskan bahwa yang dimaksud pendusta adalah Al-Mukhtar bin Abi 'Ubaid — seorang yang mengaku sebagai penerima wahyu dan mengaku sebagai Mahdi, serta melakukan banyak kedustaan atas nama agama. Adapun Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi adalah mubir — ia dikenal sebagai gubernur yang zalim, banyak membunuh ulama dan orang-orang saleh tanpa hak. Hisyam bin Hassan menyebut jumlah korban yang dibunuh Al-Hajjaj secara sengaja mencapai 120.000 orang.
Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya menyebutkan bahwa Al-Mukhtar bin Abi 'Ubaid mengaku mendapat wahyu dan berdusta atas nama Allah, sedangkan Al-Hajjaj dikenal kezalimannya. Keduanya berasal dari Thaqif, sesuai sabda Nabi ﷺ.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda kenabian, karena memberitakan peristiwa ghaib yang kemudian terjadi persis sebagaimana disabdakan.
Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan dan kitab-kitabnya sering menyebut Al-Hajjaj sebagai contoh pemimpin zalim yang membunuh tanpa hak, dan Al-Mukhtar sebagai contoh pendusta yang memakai nama agama untuk kepentingan pribadi.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif mengingatkan bahwa umat ini akan diuji dengan pemimpin zalim dan pendusta, dan obatnya adalah sabar, taat kepada Allah, serta berpegang pada sunnah.
Catatan penting: Hadits ini bukan celaan terhadap seluruh kabilah Thaqif, karena di antara mereka juga ada sahabat-sahabat mulia. Bahkan Nabi ﷺ pernah memuji sebagian mereka. Yang dicela adalah individu-individu tertentu yang muncul dari mereka.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi pernah berkata di depan manusia: "Aku tidak takut kepada Allah sebagaimana kalian takut." Ia membunuh banyak ulama dan orang saleh, termasuk Sa'id bin Jubair (seorang tabi'in murid Ibnu Abbas). Ketika hendak membunuh Sa'id bin Jubair, Sa'id berkata: "Aku tidak akan menghindar dari takdir Allah." Al-Hajjaj lalu memerintahkan untuk membunuhnya. Peristiwa ini disebutkan dalam kitab-kitab sejarah seperti Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir.
Adapun Al-Mukhtar bin Abi 'Ubaid, ia mengaku sebagai penerima wahyu dan mengaku sebagai Mahdi. Ia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, dan membunuh banyak orang dengan alasan agama. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa kedustaan Al-Mukhtar sangat jelas, dan ia akhirnya dibunuh oleh Mush'ab bin Az-Zubair.
Hikmah: Kedua sosok ini menjadi contoh bahwa kedustaan atas nama agama dan kezaliman terhadap manusia adalah dua penyakit besar yang harus dijauhi oleh setiap Muslim.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini adalah tanda kenabian — Nabi ﷺ mengabarkan peristiwa yang kemudian terjadi persis, sehingga menambah keyakinan kita kepada risalah beliau.
- Jauhi kedustaan atas nama agama — Al-Mukhtar bin Abi 'Ubaid adalah contoh pendusta yang memakai nama Islam untuk kepentingan pribadi. Setiap Muslim wajib menjauhi berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
- Jauhi kezaliman terhadap manusia — Al-Hajjaj bin Yusuf adalah contoh pemimpin zalim yang membunuh tanpa hak. Setiap Muslim, terutama pemimpin, wajib berlaku adil.
- Bersabar menghadapi fitnah — Ibn Rajab al-Hanbali mengingatkan bahwa umat ini akan diuji dengan pemimpin zalim dan pendusta; obatnya adalah sabar, taat kepada Allah, dan berpegang pada sunnah.
- Berhati-hati dalam menerima berita — Pelajaran dari Al-Mukhtar: jangan mudah percaya pada orang yang mengaku membawa agama tetapi bertentangan dengan Al-Qur'an dan sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.