Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang salah satu tanda dekatnya hari Kiamat, yaitu ketika urusan dunia justru berada di tangan orang-orang yang hina, rendah, dan tidak punya kapasitas. Kata "لُكَعُ ابْنُ لُكَعَ" adalah ungkapan celaan orang Arab yang artinya "orang hina anak dari orang hina" atau "orang yang tidak punya harga diri dan tidak punya kebaikan". Ini adalah peringatan dari Nabi ﷺ agar kita tidak terpedaya oleh kemewahan dunia, dan agar kita berhati-hati karena dunia bisa berpaling kepada orang yang tidak layak sebagai ujian bagi manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، ح قَالَ وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَنْصَارِيُّ الأَشْهَلِيُّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعَ"
Terjemahan: "Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang paling bahagia dengan dunia adalah Luka' bin Luka' (orang hina anak dari orang hina)."
Komentar Imam At-Tirmidzi: Beliau berkata: "Hadits ini gharib (asing), kami hanya mengetahuinya dari hadits 'Amr bin Abi 'Amr."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Kahfi [18]: 45
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا
Terjemahan: "Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan kehidupan dunia, yaitu seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Penjelasan ulama tentang makna "لُكَع":
Imam Ibnul Atsir dalam kitab An-Nihayah menjelaskan bahwa "لُكَع" adalah orang yang hina dan rendah. Ada juga yang mengatakan maknanya adalah orang yang tidak punya kebaikan sama sekali. Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini gharib, namun para ulama hadits lainnya seperti Imam Al-Albani menilai hadits ini hasan dalam Shahih At-Tirmidzi.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk berita ghaib Nabi ﷺ tentang tanda-tanda akhir zaman. Makna "أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا" (orang yang paling bahagia dengan dunia) bukan berarti orang yang paling banyak hartanya, tetapi orang yang paling menikmati dan menguasai urusan dunia — baik harta, kekuasaan, maupun fasilitasnya — padahal dia adalah orang yang hina dan tidak layak.
Penjelasan Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa di akhir zaman, Allah akan memberikan dunia kepada orang-orang yang tidak bersyukur dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan. Ini adalah bentuk istidraj (jebakan halus) dari Allah kepada hamba-Nya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa "لُكَعُ ابْنُ لُكَعَ" adalah ungkapan yang menunjukkan kehinaan orang tersebut dan kedua orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa orang yang paling berkuasa dan paling kaya di akhir zaman nanti justru orang-orang yang tidak punya kapasitas keilmuan, tidak punya ketakwaan, dan tidak punya akhlak mulia.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang hadits ini menjelaskan bahwa ini adalah berita dari Nabi ﷺ bahwa di akhir zaman, dunia akan diberikan kepada orang-orang yang hina. Ini bukan pujian, tetapi justru peringatan bahwa kemuliaan sejati bukan diukur dengan dunia, tetapi dengan ketakwaan.
Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa Allah terkadang memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan juga kepada orang yang Dia benci. Namun Allah hanya memberikan iman dan ketakwaan kepada orang yang Dia cintai. Maka ketika dunia jatuh ke tangan orang hina, itu adalah tanda bahwa Allah sedang menguji manusia: apakah mereka akan tetap berpegang pada agama atau justru ikut-ikutan mengejar dunia.
Perbedaan pendapat ulama tentang status hadits:
- Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini gharib (hanya diriwayatkan dari satu jalur).
- Imam Al-Albani menilai hadits ini hasan dalam Shahih At-Tirmidzi dan Silsilah Ash-Shahihah.
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits semakna dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah: "Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."
Hadits ini juga sejalan dengan hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran." Para sahabat bertanya: "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Beliau menjawab: "Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran."
Story Telling
Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman — beliau adalah sahabat yang diberi tahu oleh Nabi ﷺ tentang banyak fitnah di akhir zaman. Beliau sering bertanya kepada Nabi tentang kebaikan dan keburukan agar bisa menghindari keburukan tersebut.
Suatu ketika, Hudzaifah berkata: "Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam kebodohan dan kejahatan, lalu Allah datang membawa kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?" Nabi ﷺ menjawab: "Ya." Hudzaifah bertanya lagi: "Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?" Nabi ﷺ menjawab: "Ya, tetapi di dalamnya ada kabar (asap/duri)." Hudzaifah bertanya: "Apa kabar itu?" Nabi ﷺ menjawab: "Yaitu suatu kaum yang mengajak kepada selain sunnahku. Engkau mengenal mereka dan mengingkari mereka." (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa Hudzaifah adalah sahabat yang sangat perhatian terhadap tanda-tanda akhir zaman. Hadits tentang "Luka' bin Luka'" ini adalah salah satu kabar yang beliau sampaikan kepada umat sebagai peringatan agar kita tidak tertipu oleh dunia.
Kesimpulan Praktis
- Jangan tertipu oleh dunia — kemewahan dan kekuasaan bukan ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah.
- Jadikan ketakwaan sebagai tolok ukur — orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling kaya atau berkuasa.
- Berhati-hatilah dengan istidraj — jika seseorang diberikan dunia tetapi semakin jauh dari Allah, itu adalah jebakan, bukan anugerah.
- Perbanyak syukur — jika Allah memberikan kita nikmat, gunakan untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan.
- Jangan iri dengan orang yang diberi dunia — bisa jadi itu adalah ujian baginya dan rahmat bagi kita yang dijauhkan darinya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.