Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan salah satu tanda besar hari kiamat: bumi akan memuntahkan simpanan emas dan peraknya yang berbentuk seperti tiang-tiang besar. Ketika itu terjadi, pencuri, pembunuh, dan orang yang memutus kekerabatan akan menyesal dan berkata bahwa merekalah yang dulu berbuat dosa demi harta ini — namun penyesalan itu sudah tidak berguna, karena semua orang justru meninggalkan harta tersebut tanpa mengambilnya sedikit pun.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Fitnah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan beliau menilainya hasan shahih gharib. Hadits semakna juga diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih Muslim (Kitab Fitnah dan Tanda Kiamat) dari Abu Hurairah, dan Imam Al-Bukhari menyebut maknanya dalam Shahih Al-Bukhari.
Teks hadits (potongan utama):
تَقِيءُ الأَرْضُ أَفْلَاذَ كَبِدِهَا أَمْثَالَ الأُسْطُوَانِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
"Bumi akan memuntahkan potongan-potongan dari perutnya (yakni simpanan terbaiknya), berupa emas dan perak seperti tiang-tiang."
Dan sabda beliau ﷺ:
فَيَجِيءُ السَّارِقُ فَيَقُولُ فِي مِثْلِ هَذَا قُطِعَتْ يَدِي
"Maka datanglah pencuri seraya berkata: 'Karena (harta) seperti ini tanganku dipotong.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keluarnya simpanan bumi pada hari kiamat:
وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
QS. Az-Zalzalah [99]: 2
"Dan bumi mengeluarkan beban-beban beratnya (yang dikandungnya)."
Mujahid bin Jabr dan Qatadah bin Di'amah menjelaskan bahwa "atsqal" (beban berat) di sini adalah simpanan-simpanan bumi berupa harta dan orang-orang mati yang dikeluarkan pada hari kiamat. Penjelasan ini dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa menjelang kiamat, bumi akan "memuntahkan" simpanan terbaiknya — emas dan perak — dalam bentuk tiang-tiang besar yang menakjubkan. Ini adalah bagian dari tanda-tanda besar kiamat yang pasti terjadi.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa tidak berharganya harta dunia pada saat itu. Harta yang dulu diperebutkan, bahkan sampai orang memotong tangan, membunuh, dan memutus kekerabatan karenanya, justru menjadi tidak berguna ketika kiamat tiba.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa penyesalan pencuri, pembunuh, dan pemutus kekerabatan adalah penyesalan yang tidak berguna (nadm la yanfa'). Mereka mengakui bahwa dosa-dosa besar itu mereka lakukan demi harta yang kini tergeletak tanpa pemilik.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab-kitabnya tentang fitnah dan akhirat menegaskan bahwa hadits ini termasuk peringatan keras terhadap cinta dunia yang berlebihan (hubb ad-dunya), karena cinta dunia inilah akar dari pencurian, pembunuhan, dan pemutusan kekerabatan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa harta pada hakikatnya adalah "beban" (atsqal) — ia memberatkan pemiliknya di dunia dan menjadi saksi atas perbuatannya di akhirat, kecuali harta yang digunakan untuk ketaatan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman saat menafsirkan QS. Az-Zalzalah menegaskan bahwa bumi mengeluarkan isinya pada hari kiamat sebagai bentuk kesaksian atas perbuatan manusia, dan manusia melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang dahulu ia perjuangkan.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama (seperti Ibn Katsir) memahami "memuntahkan simpanan" ini terjadi pada hari kiamat sebagai bagian dari tanda besar. Sebagian lain memahami bahwa bumi mengeluarkan simpanan terbaiknya sebelum kiamat sebagai ujian bagi manusia. Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibn Katsir dan As-Sa'di — adalah bahwa peristiwa ini terjadi menjelang dan pada hari kiamat, karena konteks hadits menunjukkan penyesalan yang tidak berguna, dan itu hanya terjadi setelah manusia melihat akibat amalnya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sebagaimana dalam Shahih Muslim — bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang simpanan emas dan perak yang berbentuk tiang besar. Bayangkan seorang pencuri yang dulu rela tangannya dipotong demi beberapa keping uang, kini berdiri di depan tumpukan emas setinggi tiang, dan ia hanya bisa berkata dengan penuh penyesalan: "Karena harta seperti ini tanganku dipotong?" — tetapi tidak ada yang menjawab, dan tidak ada yang mengambil. Demikian pula pembunuh dan pemutus kekerabatan. Semua harta itu tergeletak, dan semua orang meninggalkannya. Inilah gambaran betapa dunia ini fana dan betapa besar kerugian orang yang mengorbankan agamanya demi dunianya.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata — maknanya — bahwa manusia paling merugi adalah yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya, dan dunia itu akan pergi meninggalkannya juga.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mengorbankan agama demi harta. Pencurian, pembunuhan, dan memutus kekerabatan adalah dosa besar yang dalam hadits ini digambarkan sebagai perbuatan yang dilakukan "demi harta" — dan harta itu akan ditinggalkan begitu saja.
- Jaga silaturahim. Memutus kekerabatan termasuk dosa besar yang disebutkan sejajar dengan mencuri dan membunuh dalam konteks penyesalan di akhirat.
- Cintailah akhirat, cukupkan dunia. Harta halal yang digunakan untuk ketaatan adalah berkah; harta yang membuat kita melanggar syariat adalah bencana.
- Ingatlah hari kiamat. Semua yang kita kumpulkan akan ditinggalkan; yang tersisa hanyalah amal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.