Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu tanda-tanda kecil hari kiamat yang disabdakan oleh Nabi ﷺ. Intinya, menjelang kiamat akan terjadi kerusakan besar: ilmu agama diangkat (dengan wafatnya para ulama), kebodohan merajalela, perzinaan dan minuman keras menjadi perkara yang biasa, serta terjadi ketimpangan jumlah antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang sudah kita saksikan sebagiannya di zaman sekarang, dan menjadi pengingat bagi kita untuk berpegang teguh pada ilmu dan amal sebelum semuanya terlambat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (Kitab Al-Fitan, Bab Ma Ja'a fi 'Alamat As-Sa'ah, no. 2205) menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang hampir sama.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang diangkatnya ilmu dan munculnya kebodohan, serta akibatnya:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali 'Imran [3]: 164)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu agama adalah karunia terbesar. Ketika Rasul ﷺ diutus, beliau mengajarkan ilmu. Maka, tanda kiamat berupa "diangkatnya ilmu" adalah hilangnya karunia besar ini dari tengah-tengah manusia.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf menjelaskan makna hadits ini dengan sangat mendalam. Berikut perinciannya:
1. Makna "Diangkatnya Ilmu" (يُرْفَعَ الْعِلْمُ)
Yang dimaksud dengan "ilmu" di sini adalah ilmu syar'i yang bermanfaat, yaitu ilmu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Para ulama menjelaskan bahwa ilmu diangkat bukan dengan cara dicabut dari dada para ulama secara langsung, melainkan dengan diwafatkannya para ulama pewaris Nabi.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak tersisa seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Al-Bukhari no. 100)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa hilangnya ilmu ini adalah hilangnya ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu warisan para Nabi. Ketika ulama wafat, maka yang tersisa hanyalah orang-orang yang mengaku berilmu tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.
2. Makna "Munculnya Kebodohan" (وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ)
Kebodohan di sini mencakup kebodohan dalam urusan agama dan kebodohan dalam urusan dunia. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ketika ilmu diangkat, maka kebodohan akan semakin tampak dan meluas. Manusia akan beramal tanpa dasar ilmu, beribadah tanpa tuntunan, dan berfatwa tanpa pemahaman.
3. Makna "Banyaknya Zina dan Diminumnya Khamar" (وَيَفْشُوَ الزِّنَا وَتُشْرَبَ الْخَمْرُ)
Perbuatan zina dan minum khamar adalah dua dosa besar yang akan menjadi perkara yang dianggap biasa dan meluas di akhir zaman. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Da'u wad-Dawa' menjelaskan bahwa zina dan khamar adalah sumber dari berbagai kerusakan. Keduanya merusak akal, kehormatan, dan keturunan. Ketika kedua hal ini dianggap lumrah, maka itulah tanda kehancuran.
4. Makna "Banyaknya Wanita dan Sedikitnya Laki-laki" (وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ)
Ini adalah konsekuensi dari banyaknya peperangan dan pembunuhan di akhir zaman, yang banyak memakan korban laki-laki. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa kondisi ini menyebabkan satu orang laki-laki harus menjadi pemimpin (qayyim) bagi banyak wanita, hingga 50 orang wanita. Ini juga menunjukkan banyaknya fitnah yang menimpa kaum wanita karena tidak adanya perlindungan dari laki-laki yang shalih.
Kesimpulan dari Para Ulama:
Hadits ini adalah kabar ghaib yang disampaikan Nabi ﷺ, dan sebagian besarnya telah terjadi di zaman kita. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim sepakat akan keshahihan hadits ini. Para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan ulama kontemporer seperti Syaikh Al-Albani dan Syaikh Al-Utsaimin menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar'i sebelum datangnya hari di mana ilmu diangkat.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata dengan penuh kejujuran dan kehati-hatian: "Aku akan menceritakan kepada kalian sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ, yang tidak ada seorang pun setelahku yang akan menceritakan bahwa ia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ."
Ini menunjukkan betapa berharganya ilmu yang didengar langsung dari Nabi ﷺ. Anas bin Malik adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan hidup paling lama setelah Nabi ﷺ. Beliau khawatir jika beliau wafat, maka tidak ada lagi yang bisa meriwayatkan hadits ini secara langsung dari Nabi ﷺ.
Kisah ini mengajarkan kita tentang semangat para sahabat dalam menjaga dan menyampaikan ilmu. Mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, karena mereka tahu bahwa ini adalah warisan Nabi ﷺ yang akan menjadi petunjuk bagi umat hingga akhir zaman. Ketika kita melihat hadits ini, kita seakan-akan mendengar langsung suara Anas bin Malik yang menyampaikan kabar penting dari Rasulullah ﷺ tentang masa depan umat ini.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguhlah menuntut ilmu syar'i selagi masih ada ulama dan guru yang bisa mengajarkan kita. Jangan menunda-nunda, karena ilmu akan diangkat dengan wafatnya para ulama.
- Jauhi perbuatan zina dan khamar, serta segala hal yang mendekatinya. Keduanya adalah dosa besar yang akan menjadi tanda kerusakan zaman.
- Jaga diri dan keluarga dari fitnah, terutama di zaman ketika jumlah wanita lebih banyak dan godaan semakin meluas. Perbanyak ibadah dan doa agar Allah menjaga kita.
- Jangan menjadi orang yang bodoh yang berani berfatwa tanpa ilmu. Jika tidak tahu, katakan "tidak tahu" dan bertanyalah kepada ulama yang terpercaya.
- Perbanyak amal shalih sebelum datangnya hari kiamat, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.