Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian dan kecintaan Nabi ﷺ terhadap kebersihan mulut, khususnya dengan bersiwak. Beliau sangat ingin memerintahkan umatnya untuk bersiwak setiap kali hendak shalat, tetapi tidak melakukannya karena khawatir hal itu akan memberatkan mereka. Ini adalah dalil yang sangat kuat tentang sunnahnya bersiwak, terutama sebelum shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab tentang Siwak, nomor 22, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih karena diriwayatkan dari banyak jalur.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim:
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ
"Kalau tidak karena akan memberatkan umatku (atau manusia), niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali shalat." (HR. Al-Bukhari no. 887 dan Muslim no. 252)
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan Ahlul Hadits seperti Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan ulama setelahnya seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjadikan hadits ini sebagai dalil utama disunnahkannya bersiwak, terutama ketika hendak melaksanakan shalat.
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keutamaan dan Hukum Bersiwak
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum bersiwak. Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa bersiwak itu wajib berdasarkan keumuman perintah dalam hadits-hadits lain. Namun, pendapat yang lebih kuat dan dipilih oleh jumhur (mayoritas) ulama, termasuk Imam Asy-Syafi'i dan Imam Malik, adalah bahwa bersiwak itu sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan wajib. Hal ini dikuatkan oleh hadits ini sendiri, karena Nabi ﷺ tidak memerintahkannya secara tegas karena khawatir memberatkan umatnya. Seandainya itu wajib, tentu beliau akan tetap memerintahkannya meskipun memberatkan.
2. Waktu yang Paling Dianjurkan untuk Bersiwak
Hadits ini secara khusus menyebutkan bersiwak "pada setiap kali shalat". Ini menunjukkan bahwa waktu yang paling utama untuk bersiwak adalah ketika hendak melaksanakan shalat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hikmahnya adalah karena ketika shalat, seorang hamba sedang bermunajat kepada Rabb-nya, sehingga sudah sepantasnya ia dalam keadaan bersih dan harum mulutnya. Malaikat juga hadir di majelis-majelis dzikir dan shalat.
3. Kasih Sayang Nabi ﷺ kepada Umatnya
Bagian terpenting dari hadits ini adalah ungkapan Nabi ﷺ, "Seandainya tidak memberatkan umatku...". Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau kepada kita. Beliau tidak ingin menyusahkan umatnya, bahkan dalam perkara yang baik sekalipun. Ini adalah pelajaran tentang rahmah (kasih sayang) dalam syariat Islam. Syariat tidak pernah memerintahkan sesuatu yang memberatkan di luar kemampuan, dan Nabi ﷺ selalu memperhatikan kondisi umatnya.
4. Perhatian terhadap Kebersihan Mulut
Bersiwak bukan hanya sekadar membersihkan gigi, tetapi juga merupakan bentuk kebersihan yang sangat dicintai Allah. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa bersiwak disunnahkan untuk membersihkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan diri, terutama pada bagian yang digunakan untuk beribadah, seperti mulut yang digunakan untuk membaca Al-Qur'an dan berdzikir.
5. Perbedaan Riwayat dan Penilaian Imam At-Tirmidzi
Dalam catatan Imam At-Tirmidzi setelah menyebutkan hadits ini, beliau menjelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid. Beliau menilai kedua riwayat tersebut shahih karena saling menguatkan. Ini menunjukkan ketelitian para ulama hadits dalam meneliti dan menilai suatu riwayat.
Story Telling
Dahulu, para sahabat sangat bersemangat dalam mengamalkan sunnah bersiwak. Diriwayatkan bahwa sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu biasa bersiwak setiap kali hendak shalat, bahkan beliau melakukannya setiap kali masuk ke rumahnya. Beliau sangat menjaga kebersihan mulutnya karena mengetahui bahwa malaikat turun dan hadir di tempat-tempat ibadah.
Ada juga kisah tentang seorang sahabat yang sangat menjaga kebersihan giginya. Suatu ketika, Nabi ﷺ bersabda bahwa bersiwak itu dapat membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Allah. Para sahabat pun sangat antusias mengamalkannya, dan mereka menjadikan siwak sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka, sebagaimana disebutkan dalam berbagai kitab sirah dan hadits.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa ibadah yang sederhana seperti bersiwak, jika dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti sunnah, akan menjadi amalan yang sangat dicintai Allah dan dapat mendatangkan keridhaan-Nya.
Kesimpulan Praktis
Beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Bersiwaklah setiap kali hendak melaksanakan shalat, karena ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan dicintai Nabi ﷺ.
- Jagalah kebersihan mulut karena mulut adalah tempat untuk membaca Al-Qur'an dan berdzikir kepada Allah.
- Teladani kasih sayang Nabi ﷺ dengan tidak memberatkan orang lain dalam hal-hal yang tidak wajib, dan selalu memperhatikan kondisi serta kemampuan mereka.
- Gunakan siwak atau sikat gigi sebagai pengganti siwak, karena tujuan utamanya adalah membersihkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.
- Jangan meremehkan amalan kecil, karena bisa jadi amalan yang dianggap kecil oleh manusia justru sangat besar pahalanya di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.