Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan tentang munculnya kelompok Khawarij di akhir zaman, yang ciri-cirinya: usia muda, akal bodoh, membaca Al-Qur'an tetapi tidak meresap ke hati, berkata dengan perkataan yang baik (mengaku sebagai sebaik-baik makhluk), namun keluar dari agama seperti anak panah lepas dari busurnya. Hadits ini memperingatkan umat agar waspada terhadap sifat-sifat mereka, yaitu fanatik buta, mudah mengkafirkan sesama Muslim, dan pemahaman yang dangkal terhadap Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Jami' At-Tirmidzi no. 2188, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi. Juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ali dan Abu Sa'id al-Khudri dalam redaksi yang serupa.
Ayat Al-Qur'an relevan:
Tidak ada ayat yang secara langsung menyebut kelompok ini, tetapi sifat mereka digambarkan dalam firman Allah tentang orang yang membuang ayat-ayat-Nya:
QS. Al-Baqarah [2]: 204
وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ
_Artinya: "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi,' mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.'"_
Ayat ini menggambarkan orang yang merasa benar padahal mereka adalah perusak, mirip dengan Khawarij yang mengaku memperbaiki agama namun justru merusak.
Penjelasan dari ulama dalam daftar:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (komentar atas hadits riwayat Bukhari) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “membaca Al-Qur'an tidak melewati kerongkongan” artinya bacaan mereka tidak meresap ke hati, tidak diamalkan, dan tidak memberikan pemahaman yang benar. Mereka hanya sekadar membaca tanpa tadabbur dan tanpa ilmu yang mendalam.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa ciri-ciri Khawarij adalah: 1) usia muda, 2) akal dangkal (sufaha’ al-ahlam), 3) bacaan Al-Qur'an yang tidak sampai ke hati karena pemahaman mereka yang sempit, 4) mereka mengucapkan perkataan seolah-olah dari sebaik-baik manusia, 5) keluar dari agama dengan kecepatan anak panah.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Khawarij adalah orang yang membunuh Muslim dan membiarkan penyembah berhala. Mereka memutarbalikkan Al-Qur'an dan menakwilkan secara bathil.
- Ibnu Taymiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa menekankan bahwa Khawarij adalah kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar, dan mereka termasuk ahli bid’ah yang sesat, meskipun mereka rajin beribadah dan membaca Al-Qur'an.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu tanda kenabian Muhammad ﷺ karena ia mengabarkan tentang munculnya suatu kelompok yang memiliki ciri-ciri spesifik. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in seperti Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Umar telah mengenali kelompok ini sebagai Khawarij (orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada imam yang sah dan mengkafirkan umat Islam).
Makna kalimat "membaca Al-Qur'an tidak melewati kerongkongan" menurut Qatadah dan Ibnu Hajar adalah mereka membaca dengan suara merdu dan panjang, tetapi pemahaman mereka tidak meresap ke dalam hati. Mereka hanya memakai Al-Qur'an sebagai hujjah untuk kepentingan hawa nafsu, bukan untuk mencari kebenaran. Akibatnya, mereka mudah keluar dari agama karena pemahaman yang dangkal.
"Marikah" (الْمَارِقَة) artinya anak panah yang menembus sasaran dan keluar di sisi lain. Ini menggambarkan bahwa Khawarij keluar dari Islam dengan cepat dan total, tidak ada sisa sedikit pun. Seperti anak panah yang lepas dari busur, tidak akan kembali. Demikian pula Khawarij jika sudah keluar, sulit kembali ke jalan yang benar kecuali dengan hidayah.
Perkataan mereka yang mengaku sebagai "khairul bariyyah" (sebaik-baik makhluk) menunjukkan bahwa mereka memiliki sifat ujub (bangga diri) dan merasa paling benar. Ini bertentangan dengan sifat mukmin yang tawadhu.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam syarh hadits) menegaskan bahwa Khawarij di zaman sekarang memiliki cara pandang yang sama meskipun nama dan tempatnya berbeda. Mereka fanatik terhadap kelompoknya, menghalalkan darah dan harta kaum Muslimin yang tidak sepaham, serta menganggap dosa besar sebagai kekafiran yang mengeluarkan dari Islam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah menghadapi kelompok Khawarij dalam perang Nahrawan. Setelah berhasil mengalahkan mereka, beliau memerintahkan untuk mencari siapa saja di antara pasukannya yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebut dalam hadits. Lalu didatangkan seorang pemuda yang tangannya tidak memiliki daging (ciri salah satu pemimpin Khawarij). Kemudian Ali berkata, "Demi Allah, aku tidak berdusta dan tidak didustakan. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengabarkan kepadaku tentang tanda-tanda mereka." (HR. Muslim). Kisah ini menunjukkan betapa jelasnya tanda-tanda yang disebut dalam hadits sehingga sahabat pun dapat mengenali mereka secara fisik dan perilaku.
Kesimpulan Praktis
- Waspadai fanatisme buta terhadap kelompok atau tokoh yang mengaku paling benar, meskipun mereka rajin membaca Al-Qur'an dan beribadah.
- Jangan mudah mengkafirkan atau membid'ahkan sesama Muslim hanya karena perbedaan pemahaman selama masih dalam kerangka Ahlus Sunnah.
- Perdalam ilmu agama dengan bimbingan ulama yang muttabi' (mengikuti salaf) agar tidak jatuh pada pemahaman yang dangkal.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk yang meresap ke dalam hati, bukan sekadar bacaan di lidah. Caranya dengan tadabbur, tafsir, dan mengamalkan sesuai pemahaman salafus shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.