Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2187 tentang Kemunculan Ya'juj dan Ma'juj serta azab saat keburukan merajalela

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ terbangun dengan wajah memerah dan mengucapkan "Lā ilāha illallāh" tiga kali, lalu memperingatkan bahwa telah dibuka celah dari tembok Ya'juj dan Ma'juj, serta mencelakai orang Arab karena keburukan yang dekat. Ketika Zainab binti Jahsh bertanya apakah orang saleh juga akan binasa, Nabi ﷺ menjawab: "Ya, apabila keburukan (al-khabats) telah merajalela." Hadits ini menunjukkan tanda-tanda kiamat, pentingnya amar ma'ruf nahi munkar, dan bahaya dosa yang merata di tengah masyarakat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait Ya'juj dan Ma'juj:

QS. Al-Kahfi [18]: 94

وَقَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

Terjemahan: "Mereka berkata: 'Wahai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?'"

QS. Al-Anbiya' [21]: 96

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ

Terjemahan: "Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Kitab al-Fitan, Bab tentang keluarnya Ya'juj dan Ma'juj, dari jalur Sufyan bin 'Uyainah, dari az-Zuhri, dari 'Urwah bin az-Zubair, dari Zainab binti Abi Salamah, dari Habibah, dari Ummu Habibah, dari Zainab binti Jahsh (radhiyallahu 'anhuma). Imam at-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan shahih."

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari jalur az-Zuhri, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, Nabi ﷺ terbangun dari tidur dengan wajah memerah, yang menunjukkan betapa beratnya perkara yang beliau ketahui atau lihat. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam menyampaikan peringatan kepada umatnya. Ucapan "Lā ilāha illallāh" yang diulang tiga kali adalah bentuk pengagungan kepada Allah dan pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk tanda-tanda kiamat.

Kedua, sabda beliau: "Celaka bagi orang Arab dari keburukan yang mendekat" — ini bukan celaan kepada bangsa Arab, melainkan peringatan bahwa fitnah dan keburukan akan terjadi di tengah mereka, dan dampaknya akan luas. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah isyarat tentang berbagai fitnah besar yang akan menimpa umat Islam, termasuk peperangan, perpecahan, dan munculnya berbagai keburukan.

Ketiga, "Hari ini telah dibuka dari tembok Ya'juj dan Ma'juj seperti ini" — Nabi ﷺ membentuk lingkaran dengan jari dan ibu jarinya (atau membentuk angka sepuluh), menunjukkan bahwa celah itu sudah mulai terbuka, meskipun masih kecil. Ini adalah tanda bahwa kiamat sudah dekat. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah isyarat bahwa waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sudah semakin dekat, dan setiap hari celah itu semakin terbuka.

Keempat, pertanyaan Zainab binti Jahsh: "Apakah kami akan dihancurkan padahal di antara kami ada orang-orang saleh?" — Ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Nabi ﷺ menjawab: "Ya, apabila keburukan (al-khabats) telah merajalela."

Makna "al-khabats" (الخبث):

Para ulama menjelaskan makna "al-khabats" di sini:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa al-khabats berarti kemungkaran, dosa, dan keburukan yang merajalela. Ini mencakup berbagai bentuk kemaksiatan, kezaliman, dan kerusakan moral.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa al-khabats mencakup kekufuran, kemunafikan, dan berbagai dosa besar yang dilakukan secara terang-terangan.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa ketika kemungkaran sudah merajalela dan tidak ada yang mengingkari, maka azab bisa menimpa semua orang, baik yang saleh maupun yang fasik.

Pelajaran penting:

Hadits ini mengajarkan bahwa azab Allah bisa menimpa suatu kaum secara merata ketika kemungkaran sudah merajalela, meskipun di antara mereka ada orang-orang saleh. Ini bukan berarti Allah tidak adil, tetapi ini adalah sunnatullah bahwa ketika masyarakat sudah rusak secara kolektif, maka azab bisa datang secara kolektif pula.

Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa orang saleh yang hidup di tengah masyarakat yang rusak tetap akan mendapatkan keselamatan di akhirat, tetapi di dunia mereka bisa terkena dampak dari azab kolektif. Ini adalah ujian bagi mereka, dan mereka akan mendapatkan pahala atas kesabaran mereka.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari azab kolektif adalah agar orang saleh semakin giat dalam amar ma'ruf nahi munkar, dan tidak tinggal diam terhadap kemungkaran.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami bahwa "al-khabats" di sini merujuk pada kekufuran dan kemunafikan yang merajalela. Sebagian lain memahami bahwa ini mencakup semua bentuk kemaksiatan, termasuk dosa-dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus dan terang-terangan.

Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah bahwa al-khabats mencakup semua bentuk kemungkaran dan dosa yang merajalela, baik yang besar maupun yang kecil, ketika sudah dilakukan secara terang-terangan dan tidak ada yang mengingkari.

Story Telling

Kisah Zainab binti Jahsh dan Pertanyaannya:

Zainab binti Jahsh (radhiyallahu 'anha) adalah istri Nabi ﷺ yang dikenal dengan kecerdasan dan kepekaannya terhadap perkara agama. Ketika Nabi ﷺ terbangun dengan wajah memerah dan menyampaikan peringatan tentang Ya'juj dan Ma'juj, Zainab langsung bertanya dengan pertanyaan yang sangat mendalam: "Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihancurkan padahal di antara kami ada orang-orang saleh?"

Pertanyaan ini menunjukkan pemahaman Zainab bahwa azab Allah bisa menimpa semua orang, dan beliau ingin mengetahui apakah keberadaan orang saleh bisa menjadi pelindung bagi masyarakat. Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat jelas: "Ya, apabila keburukan telah merajalela."

Hikmah dari kisah ini:

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa keberadaan orang saleh di tengah masyarakat tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa azab tidak akan datang. Yang menjadi penentu adalah apakah masyarakat secara keseluruhan masih menjaga kebaikan atau sudah rusak secara kolektif.

Kisah dari salafus shalih:

Al-Hasan al-Bashri (rahimahullah) pernah ditanya tentang ayat yang berbunyi: "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu." (QS. Al-Anfal [8]: 25). Beliau menjawab: "Ini adalah azab yang bisa menimpa semua orang ketika kemungkaran sudah merajalela dan tidak ada yang mengingkari."

Sufyan ats-Tsauri (rahimahullah) pernah berkata: "Ketika orang-orang saleh tidak lagi mengingkari kemungkaran, maka azab akan datang kepada semua orang."

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini adalah peringatan tentang tanda-tanda kiamat, khususnya tentang keluarnya Ya'juj dan Ma'juj. Kita harus selalu mengingat bahwa kiamat semakin dekat dan mempersiapkan diri dengan amal saleh.
  2. Amar ma'ruf nahi munkar adalah kewajiban kolektif. Ketika kemungkaran sudah merajalela dan tidak ada yang mengingkari, maka azab bisa menimpa semua orang, termasuk orang-orang saleh yang tidak melakukan kemungkaran.
  3. Jangan merasa aman dengan keberadaan orang saleh di tengah kita. Setiap individu bertanggung jawab untuk menjaga kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuannya.
  4. Perbanyak istighfar dan taubat. Ketika kita melihat kemungkaran merajalela, hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak istighfar, dan berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang mengingkari kemungkaran.
  5. Berdoa kepada Allah agar dilindungi dari fitnah. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berlindung dari fitnah yang tampak dan tersembunyi. Perbanyak doa: "Allahumma inni a'udzu bika min fitnati al-mahya wal-mamat" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?