Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2184 tentang Tentara yang ditelan bumi karena menyerang Kabah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memberitakan tanda besar sebelum kiamat: akan ada pasukan yang berniat menyerang Ka'bah (Baitullah) di Makkah, lalu Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi di suatu tempat bernama Al-Baida'. Yang menarik, orang-orang yang sebenarnya tidak setuju atau dipaksa ikut, tetap dibangkitkan oleh Allah sesuai niat dan isi hati mereka. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi, dan menunjukkan bahwa Allah menghukumi hamba berdasarkan niat, bukan sekadar tampilan luar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Fitnah, Bab Apa yang Diriwayatkan Tentang Gempa (no. 2184), dari jalur Salamah bin Kuhail, dari Abu Idris Al-Marhabi, dari Muslim bin Shafwan, dari Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu 'anha. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."

Teks hadits yang disebutkan:

لَا يَنْتَهِي النَّاسُ عَنْ غَزْوِ هَذَا الْبَيْتِ حَتَّى يَغْزُوَ جَيْشٌ، حَتَّى إِذَا كَانُوا بِالْبَيْدَاءِ أَوْ بِبَيْدَاءَ مِنَ الْأَرْضِ خُسِفَ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، وَلَمْ يَنْجُ أَوْسَطُهُمْ

"Orang-orang tidak akan berhenti menyerang Rumah ini sampai diserang oleh sebuah pasukan; ketika mereka berada di Al-Baida' atau sebuah Baida' di bumi, maka ditenggelamkanlah yang pertama hingga yang terakhir, dan yang di tengah tidak selamat."

Kemudian Shafiyyah bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan mereka yang tidak setuju?" Beliau menjawab:

يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ عَلَى مَا فِي أَنْفُسِهِمْ

"Allah akan membangkitkan mereka berdasarkan apa yang ada dalam jiwa mereka."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema niat dan isi hati:

QS. Al-Baqarah [2]: 225

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

"Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu maksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu karena apa yang kamu kerjakan (niat) di dalam hatimu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun."

Dalil tentang setiap orang dibangkitkan sesuai niatnya, juga dikuatkan oleh hadits masyhur:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits niat ini adalah pondasi besar dalam Islam, dan bahwa Allah memperhitungkan maksud hati seorang hamba, bukan hanya gerakan badannya.

Penjelasan Rinci

1. Makna umum hadits

Hadits ini termasuk berita ghaib (nubuat) yang disampaikan Nabi ﷺ tentang peristiwa besar menjelang kiamat. Akan datang suatu kaum yang bertekad menyerang Ka'bah untuk menghancurkan atau menodainya. Namun sebelum mereka sampai, Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi di suatu tempat bernama Al-Baida' — yaitu tanah datar di antara Makkah dan Madinah.

Yang ditenggelamkan adalah seluruh pasukan, dari yang paling depan sampai yang paling belakang, dan yang di tengah pun tidak selamat. Ini menunjukkan azab yang menyeluruh.

2. Pertanyaan Shafiyyah dan jawaban Nabi ﷺ

Shafiyyah radhiyallahu 'anha bertanya dengan pertanyaan yang sangat cerdas: bagaimana dengan orang yang sebenarnya tidak setuju, tetapi ikut dalam pasukan itu — mungkin karena dipaksa, karena takut, atau karena tidak tahu tujuan jahatnya?

Nabi ﷺ menjawab: "Allah akan membangkitkan mereka berdasarkan apa yang ada dalam jiwa mereka."

Artinya: hukuman di dunia mungkin menimpa mereka semua secara lahiriah, tetapi hisab di akhirat sesuai niat masing-masing. Orang yang hatinya menolak kezaliman itu tidak dihukum seperti orang yang memang berniat jahat.

3. Bagaimana para ulama memahami hadits ini

  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang niat menegaskan bahwa Allah tidak melihat bentuk luar semata, tetapi melihat maksud hati. Orang yang dipaksa atau tidak ridha terhadap kemungkaran tidak sama dengan pelakunya.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa seseorang bisa saja secara lahiriah bersama suatu kaum, tetapi secara batin berbeda. Karena itu hisab di akhirat bersifat adil dan sesuai hakikat batin.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika membahas ayat-ayat tentang hari kiamat menegaskan bahwa Allah akan membangkitkan manusia sesuai niat dan amal batinnya, bukan hanya penampilan luar.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati, dan balasan-Nya selalu sesuai ilmu-Nya yang sempurna.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah memasukkan hadits ini sebagai hadits shahih, dan menegaskan bahwa peristiwa penenggelaman pasukan penyerang Ka'bah adalah tanda kiamat yang pasti terjadi.

4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar

Para ulama daftar sepakat bahwa hadits ini shahih dan berita tentang pasukan yang ditenggelamkan adalah benar. Perbedaan hanya pada rincian teknis, misalnya:

  • Apakah peristiwa ini terjadi sebelum atau sesudah munculnya Dajjal dan Imam Mahdi?
  • Apakah pasukan ini adalah pasukan yang sama dengan yang disebut dalam hadits-hadits lain tentang penyerangan Ka'bah?

Namun inti maknanya tidak diperselisihkan: penenggelaman itu nyata, dan hisab akhirat sesuai niat.

Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat yang menyatakan bahwa peristiwa ini termasuk tanda kiamat besar, dan bahwa Allah menghukumi hamba sesuai niat batinnya — sebagaimana ditegaskan dalam hadits niat yang shahih.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, adalah wanita yang cerdas dan berani bertanya. Ketika Nabi ﷺ menyampaikan berita tentang pasukan yang akan ditenggelamkan, beliau tidak hanya diam menerima, tetapi bertanya dengan pertanyaan yang menyentuh keadilan: bagaimana dengan orang yang tidak setuju?

Pertanyaan ini menunjukkan kepekaan hati seorang mukmin terhadap keadilan Allah. Dan jawaban Nabi ﷺ menjadi pelajaran abadi: Allah tidak menzalimi seorang pun, bahkan orang yang secara lahiriah ikut dalam barisan jahat, tetapi hatinya menolak, akan dibangkitkan sesuai isi hatinya.

Ini mengingatkan kita pada kisah seorang munafik yang berperang bersama kaum muslimin di Perang Tabuk, tetapi hatinya tidak ikut berjihad. Nabi ﷺ bersabda tentang mereka bahwa amal lahiriah tanpa iman tidak bermanfaat. Sebaliknya, ada orang yang lemah atau sakit, tidak bisa ikut berjihad, tetapi niatnya tulus — maka Allah mencatat pahala baginya. (Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsir QS. At-Taubah [9]: 46)

Hikmahnya: jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luar, dan jangan pula merasa aman hanya karena berada di barisan yang benar secara lahiriah, karena Allah melihat hati.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki niat dalam setiap amal, karena Allah menilai hati, bukan hanya perbuatan.
  2. Jangan ikut serta dalam kezaliman, meskipun hanya secara lahiriah, karena bisa terkena azab dunia.
  3. Jika dipaksa atau tidak ridha, maka hisab akhirat sesuai niat — ini penghiburan bagi orang yang lemah dan tertindas.
  4. Yakinlah pada berita Nabi ﷺ tentang tanda-tanda kiamat, termasuk penenggelaman pasukan penyerang Ka'bah.
  5. Jaga hati dari keridhaan terhadap kemungkaran, karena keridhaan hati adalah bagian dari amal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?