Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2165 tentang Wasiat berpegang pada jamaah dan menjauhi perpecahan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi wasiat agung dari Nabi ﷺ yang disampaikan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Intinya adalah perintah untuk mencintai dan mengikuti para sahabat, generasi setelahnya (tabi'in), dan generasi berikutnya (tabi'ut tabi'in). Juga peringatan tentang bahaya kebohongan, larangan berkhalwat (berduaan) dengan lawan jenis, dan perintah untuk selalu bersama jama'ah (persatuan kaum muslimin) serta larangan berpecah belah, karena syaitan lebih mudah menggoda orang yang sendirian.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

(QS. Ali Imran [3]: 103)

Terjemahan: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara."

Hadits:

Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan, Bab Ma Ja'a fi Luzumil Jama'ah, no. 2165. Beliau menilai hadits ini hasan shahih gharib.

Kaitan dengan Ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "jama'ah" dalam hadits-hadits semacam ini adalah as-Sawad al-A'zam (kelompok mayoritas) dari kaum muslimin yang berpegang teguh pada kebenaran, bukan sekadar kuantitas. Beliau menukil dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa jama'ah adalah apa yang diyakini oleh para sahabat dan tabi'in.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah berpegang pada jama'ah berarti perintah untuk bersatu di atas kebenaran dan menjauhi perpecahan.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menekankan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa keselamatan ada pada mengikuti manhaj (jalan) para sahabat dan generasi awal umat ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu wasiat Nabi ﷺ yang sangat komprehensif, mencakup akidah, akhlak, dan muamalah. Mari kita bedakan poin-poin pentingnya:

  1. Wasiat tentang Sahabat dan Generasi Salaf: Nabi ﷺ memerintahkan untuk berpegang pada jalan para sahabat, kemudian tabi'in, kemudian tabi'ut tabi'in. Ini adalah fondasi Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu mengikuti pemahaman generasi terbaik. Imam Malik berkata, "Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya." Imam Ahmad dan Imam Asy-Syafi'i juga menekankan pentingnya mengikuti atsar (jejak) para salaf.
  2. Peringatan tentang Penyebaran Kebohongan: Ini adalah tanda akhir zaman. Orang akan bersumpah dan menjadi saksi tanpa diminta, menunjukkan hilangnya sifat amanah. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ini adalah bentuk meremehkan hak Allah dan hak sesama.
  3. Larangan Berkhalwat (Berduaan dengan Lawan Jenis): Ini adalah penjagaan syariat yang sangat ketat terhadap kehormatan dan kemurnian hati. Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin membuat bab khusus tentang larangan ini. Syaitan adalah pihak ketiga yang akan membisikkan keburukan. Ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga dari pintu-pintu fitnah.
  4. Perintah Berjama'ah dan Larangan Berpecah: Ini adalah inti dari hadits. "Jama'ah" di sini bukan sekadar kumpulan orang, tetapi persatuan di atas kebenaran yang dipahami oleh para sahabat. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Jama'ah itu adalah apa yang sesuai dengan kebenaran meskipun engkau sendirian." Namun, makna yang lebih kuat menurut Ibnu Hajar dan Imam Al-Barbahari adalah bahwa jama'ah adalah kelompok besar kaum muslimin yang berpegang pada sunnah dan imam mereka. Syaitan lebih mudah menggoda orang yang menyendiri dan memecah belah.
  5. Tanda Orang Beriman: Tanda seorang mukmin sejati adalah ia bergembira dengan ketaatannya dan bersedih dengan kemaksiatannya. Ini adalah tolok ukur keimanan dalam hati. Al-Hasan al-Bashri berkata, "Iman itu bukanlah angan-angan dan bukan pula hiasan, tetapi sesuatu yang menetap di hati dan dibuktikan oleh amal."

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Jama'ah itu adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, meskipun engkau sendirian." (Riwayat Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah)

Kisah ini menunjukkan bahwa hakikat jama'ah bukanlah sekadar jumlah yang banyak, tetapi kesesuaian dengan kebenaran yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Seorang muslim harus tetap teguh di atas kebenaran meskipun banyak orang meninggalkannya. Namun, ini tidak berarti boleh meninggalkan jama'ah kaum muslimin secara fisik selama mereka masih berada di atas kebenaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintai dan pelajari jalan para sahabat dan salafus shalih. Jadikan mereka panutan dalam beragama.
  2. Jauhi kebohongan dalam bentuk apa pun, termasuk sumpah palsu dan kesaksian palsu.
  3. Jaga diri dari berkhalwat (berduaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Ini adalah pintu setan yang sangat berbahaya.
  4. Jaga persatuan dengan sesama muslim di atas kebenaran. Jangan mudah terpecah belah karena perbedaan sepele.
  5. Evaluasi hatimu: Apakah kamu senang ketika berbuat baik dan sedih ketika berbuat dosa? Itulah tanda iman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.