Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2157 tentang Segala sesuatu diciptakan Allah dengan ketetapan takdir

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa orang-orang musyrik Quraisy datang kepada Nabi ﷺ untuk berdebat tentang takdir (qadar). Ketika itulah Allah menurunkan firman-Nya dalam QS. Al-Qamar [54]: 48-49, yang menegaskan bahwa segala sesuatu telah diciptakan Allah dengan qadar (ketentuan dan ukuran) yang telah ditetapkan. Hadits ini menunjukkan bahwa iman kepada takdir adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah, dan perdebatan tentang takdir yang dilakukan dengan cara yang keliru adalah perbuatan tercela yang telah diperingatkan sejak zaman Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Qamar [54]: 48-49

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ ﴿٤٨﴾ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴿٤٩﴾

Terjemahan: "(Yaitu) pada hari mereka diseret ke dalam neraka dengan wajah mereka (tertelungkup), (dikatakan kepada mereka): 'Rasakanlah sentuhan api neraka Saqar.' Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar (ketentuan)."

2. Hadits:

Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Qadar, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) memuat hadits ini dalam kitabnya dan menshahihkannya.
  • Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik yang memperdebatkan takdir.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kekuasaan Allah yang mutlak atas segala sesuatu.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil penting dalam masalah qadar (takdir). Mari kita pahami beberapa poin penting:

1. Latar Belakang Turunnya Ayat

Orang-orang musyrik Quraisy datang kepada Nabi ﷺ untuk "berdebat" (يُخَاصِمُونَ) tentang takdir. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin Allah menghukum manusia atas perbuatan mereka, padahal segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah sejak azali. Ini adalah perdebatan yang keliru karena mereka mencampuradukkan antara ilmu Allah yang telah menetapkan segala sesuatu dengan keadilan Allah dalam memberikan balasan atas perbuatan hamba-Nya.

2. Makna Ayat yang Turun

Allah menurunkan dua ayat sekaligus sebagai jawaban:

  • Ayat 48 menggambarkan azab yang akan diterima orang-orang kafir di hari kiamat—mereka diseret di atas wajah mereka ke dalam neraka. Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Adil dalam memberikan balasan.
  • Ayat 49 menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah dengan qadar. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa kata qadar di sini mencakup ilmu Allah yang telah mendahului segala sesuatu, penulisan takdir di Lauh Mahfuzh, kehendak Allah yang pasti terjadi, dan penciptaan Allah atas segala sesuatu.

3. Pemahaman Ulama tentang Takdir

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah bantahan terhadap kelompok Qadariyah (yang mengingkari takdir) dan kelompok Jabariyah (yang mengatakan manusia tidak punya kehendak sama sekali). Ahlus Sunnah mengambil jalan tengah: Allah menetapkan takdir, namun manusia tetap memiliki kehendak dan perbuatan yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dalam Ushul As-Sunnah menegaskan bahwa iman kepada takdir—baik yang baik maupun yang buruk—adalah bagian dari rukun iman. Beliau berkata: "Tidaklah seorang hamba beriman kepada Allah kecuali ia beriman kepada qadar, baik dan buruknya."

Imam Al-Barbahari (w. 329 H) dalam Syarh As-Sunnah juga menekankan bahwa memperdebatkan takdir adalah perbuatan yang dilarang, karena takdir adalah rahasia Allah yang tidak boleh diperdebatkan dengan akal semata.

4. Hikmah Larangan Berdebat tentang Takdir

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam Syifa Al-'Alil menjelaskan bahwa perdebatan tentang takdir yang dilakukan orang-orang musyrik bukanlah untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membantah wahyu dan mencari alasan menolak perintah Allah. Karena itu, Allah menjawab dengan tegas bahwa segala sesuatu telah diciptakan dengan qadar, dan manusia tetap akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat memahami bahwa takdir adalah ketetapan Allah yang tidak bisa ditolak. Namun mereka tidak pernah menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan.

Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang hamba beriman kepada takdir sampai ia yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang tidak menimpanya tidak akan mengenainya."

Para sahabat memahami bahwa takdir bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Justru, karena takdir sudah ditetapkan, mereka bersemangat beramal. Ketika Nabi ﷺ ditanya: "Wahai Rasulullah, apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang telah ditetapkan atau sesuatu yang masih baru?" Beliau menjawab: "Beramallah kalian, karena setiap orang dimudahkan sesuai dengan apa yang ia diciptakan untuknya." (HR. Muslim)

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim.
  2. Jangan memperdebatkan takdir dengan cara yang keliru, karena itu adalah perbuatan orang-orang musyrik yang dibantah oleh Allah dalam Al-Qur'an.
  3. Takdir tidak menghilangkan tanggung jawab—manusia tetap diperintahkan beramal dan akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
  4. Sikapi takdir dengan benar: bersabar atas musibah, bersyukur atas nikmat, dan tetap bersemangat dalam ketaatan.
  5. Rujuklah kepada ulama yang memahami masalah ini dengan benar, jangan berdebat tanpa ilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.