Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2145 tentang Empat perkara yang wajib diimani seorang hamba

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa iman seorang hamba belum sempurna sebelum ia meyakini empat pokok: (1) syahadat tauhid dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, (2) iman kepada kematian, (3) iman kepada kebangkitan setelah kematian, dan (4) iman kepada takdir. Iman kepada takdir adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan, bukan pelengkap. Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa siapa yang menolak takdir, imannya cacat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Qamar [54]: 49

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (ukuran yang telah ditetapkan)."

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

Hadits terkait:

Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih Muslim, ketika Jibril bertanya tentang iman, Nabi ﷺ menjawab: "Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk." (HR. Muslim)

Kaitan dengan ulama:

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dalam Kitab al-Qadar, dan beliau menilai riwayat Abu Dawud (ath-Thayalisi) dari Syu'bah lebih shahih daripada riwayat an-Nadhr bin Syumail. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang takdir mutawatir maknanya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menegaskan bahwa iman kepada takdir adalah rukun keenam dari rukun iman.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ menyebutkan empat perkara yang menjadi syarat kesempurnaan iman seorang hamba:

  1. Syahadat — mengakui tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul yang diutus dengan kebenaran.
  2. Iman kepada kematian — meyakini bahwa kematian pasti datang, dan itu adalah ketetapan Allah.
  3. Iman kepada kebangkitan setelah kematian — meyakini hari akhir dan hisab.
  4. Iman kepada takdir — meyakini bahwa segala sesuatu terjadi sesuai ketetapan Allah.

Pemahaman ulama tentang takdir:

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Takdir adalah kekuasaan Allah." Beliau menegaskan bahwa iman kepada takdir mencakup empat tingkatan yang dijelaskan oleh para ulama:

  • Ilmu (pengetahuan): Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya.
  • Kitabah (penulisan): Allah menulis segala sesuatu di Lauh Mahfuzh.
  • Masyi'ah (kehendak): Tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali dengan kehendak Allah.
  • Khalq (penciptaan): Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa iman kepada takdir tidak berarti meniadakan usaha hamba. Manusia tetap memiliki pilihan dan tanggung jawab, namun semua itu berada dalam lingkup pengetahuan dan kehendak Allah.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil menjelaskan bahwa takdir ada dua macam: takdir mutlak (yang tidak berubah) dan takdir mu'allaq (yang dapat berubah dengan doa, sedekah, dan amal saleh). Ini menunjukkan bahwa manusia tetap dianjurkan berusaha dan berdoa.

Perbedaan pendapat:

Sebagian orang memahami takdir secara berlebihan (ghuluw) sehingga meninggalkan usaha, dan sebagian lagi menolak takdir sehingga menganggap manusia sepenuhnya bebas. Ahlus Sunnah berada di tengah: meyakini takdir Allah sekaligus menetapkan usaha dan tanggung jawab hamba. Imam asy-Syafi'i berkata: "Tidak ada seorang pun yang berhujjah dengan takdir untuk meninggalkan kewajiban."

Catatan sanad:

Imam at-Tirmidzi menyebutkan bahwa riwayat Abu Dawud ath-Thayalisi dari Syu'bah dari Manshur dari Rib'i bin Hirasy dari Ali lebih shahih. Ada riwayat lain yang menyebut "Rib'i dari seorang lelaki dari Ali." Namun riwayat yang shahih adalah yang menyebutkan langsung dari Ali. Waki' bin al-Jarrah berkata: "Kami mendengar bahwa Rib'i tidak pernah berdusta dalam Islam sama sekali." Ini menunjukkan kepercayaan ulama terhadap kejujuran Rib'i bin Hirasy.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu suatu ketika ditanya tentang takdir. Beliau menjawab dengan tegas bahwa takdir adalah rahasia Allah, dan barang siapa yang mencoba menyelami kedalamannya tanpa ilmu akan tersesat. Beliau juga mengajarkan bahwa iman kepada takdir harus disertai dengan amal, bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

Dalam sebuah riwayat, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah menangkap seorang pencuri. Pencuri itu berkata: "Ini sudah takdir Allah." Umar menjawab: "Dan kami pun menghukummu dengan takdir Allah." Ini menunjukkan bahwa takdir tidak menghapus tanggung jawab manusia.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini empat pokok iman yang disebutkan dalam hadits ini sebagai bagian tak terpisahkan dari keimanan.
  2. Pelajari takdir dengan benar — jangan berlebihan hingga meninggalkan usaha, dan jangan menolaknya hingga merasa bebas mutlak.
  3. Berusaha dan berdoa — karena takdir mu'allaq dapat berubah dengan doa dan amal saleh.
  4. Terima musibah dengan sabar — karena semua telah tertulis dan mengandung hikmah.
  5. Jauhi perdebatan takdir yang tidak bermanfaat — fokuslah pada amal dan taat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?