Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2144 tentang Iman kepada takdir baik dan buruk

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa iman kepada takdir (qadar) adalah bagian dari iman yang wajib diyakini. Inti dari iman kepada takdir adalah keyakinan yang mantap bahwa segala sesuatu yang menimpa seorang hamba—baik berupa kebaikan maupun keburukan—tidak akan pernah meleset darinya, dan apa pun yang tidak menimpanya, maka ia tidak akan pernah mendapatkannya. Ini adalah keyakinan yang menenangkan hati dan menghilangkan kegelisahan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (juga) yang menimpa dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

Hadits terkait:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Takdir, Bab Iman kepada Takdir Baik dan Buruk, no. 2144, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.

Catatan penting tentang sanad hadits ini:

Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini gharib (hanya diriwayatkan dari satu jalur) dan beliau menyebut bahwa perawi Abdullah bin Maimun adalah munkarul hadits (haditsnya diingkari). Oleh karena itu, para ulama ahli hadits seperti Imam Adz-Dzahabi dan lainnya melemahkan hadits ini dari sisi sanad.

Namun, makna hadits ini sangat kuat dan didukung oleh banyak dalil lain yang shahih, di antaranya:

Hadits Jibril yang masyhur, ketika Jibril bertanya tentang iman, Rasulullah ﷺ menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk." (HR. Muslim dari Umar bin Khattab)

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa iman kepada takdir mencakup empat tingkatan:

  1. Ilmu - Meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi.
  2. Kitabah - Meyakini bahwa Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk di Lauh Mahfuzh.
  3. Masyi'ah - Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah.
  4. Khalq - Meyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa iman kepada takdir bukan berarti menghilangkan usaha dan ikhtiar. Justru seorang mukmin yang benar memahami takdir akan bersungguh-sungguh dalam beramal, karena ia tahu bahwa Allah telah menetapkan sebab dan akibat. Beliau berkata bahwa takdir tidak menjadi alasan untuk meninggalkan perintah Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keyakinan kepada takdir membawa ketenangan jiwa. Ketika seseorang ditimpa musibah, ia tidak berputus asa karena ia tahu itu sudah menjadi ketetapan Allah. Dan ketika ia kehilangan sesuatu, ia tidak bersedih berlebihan karena ia yakin bahwa apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan pernah sampai kepadanya.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Syifa' al-'Alil menjelaskan bahwa keyakinan kepada takdir adalah obat bagi hati yang gelisah. Beliau mencontohkan bahwa seorang hamba yang yakin akan takdir akan terhindar dari dua penyakit hati: hasad (iri hati) dan hubbud dunya (cinta dunia berlebihan). Karena ia tahu bahwa rezeki dan ketentuan sudah diatur oleh Allah.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar gembira bagi orang beriman: apa pun yang ditakdirkan menimpanya, baik susah maupun senang, itu adalah kebaikan baginya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits shahih: "Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya..." (HR. Muslim).

Story Telling

Ada kisah indah tentang keyakinan kepada takdir dari masa salaf. Diceritakan bahwa Al-Hasan Al-Bashri pernah ditanya, "Wahai Abu Sa'id, apakah engkau melihat orang-orang yang beriman kepada takdir?" Beliau menjawab, "Ya, mereka adalah orang-orang yang ketika ditimpa musibah, mereka bersabar; ketika diberi nikmat, mereka bersyukur; dan ketika kehilangan sesuatu, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka tidak gelisah dengan apa yang luput, dan tidak sombong dengan apa yang didapat."

Kisah lain, ketika terjadi musibah besar di kota Bashrah, Al-Hasan Al-Bashri tetap tenang. Para sahabatnya bertanya, "Wahai guru, mengapa engkau begitu tenang?" Beliau menjawab, "Karena aku tahu bahwa apa yang menimpaku tidak akan pernah meleset dariku, dan apa yang meleset dariku tidak akan pernah menimpaku. Maka untuk apa aku gelisah?"

Ini adalah buah dari keyakinan yang benar kepada takdir—hati menjadi tenang, jiwa menjadi lapang, dan hidup menjadi berkah.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah rukun iman yang wajib diyakini, baik takdir yang baik maupun yang buruk.
  2. Yakinlah bahwa segala yang menimpa kita sudah ditetapkan Allah, tidak ada yang salah dan tidak ada yang sia-sia.
  3. Tetap berusaha dan berikhtiar, karena takdir tidak menghilangkan kewajiban beramal.
  4. Saat ditimpa musibah, ucapkan istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) dan bersabarlah.
  5. Saat mendapat nikmat, bersyukurlah dan jangan sombong.
  6. Jangan iri dengan nikmat orang lain, karena rezeki sudah diatur oleh Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?