Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2143 tentang Tidak ada penularan penyakit, semua takdir Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa segala sesuatu—termasuk penyakit, rezeki, dan musibah—terjadi hanya dengan izin dan ketetapan Allah, bukan karena menular dengan sendirinya. Nabi ﷺ membantah anggapan orang Badui bahwa penyakit kudis menular otomatis, lalu mengarahkan bahwa Allahlah yang menciptakan, menuliskan kehidupan, rezeki, dan musibah setiap jiwa. Kita wajib beriman kepada takdir, namun tetap diperintahkan berusaha dan menjauhi sebab-sebab bahaya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu), dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (no. 2143) dalam Kitab Takdir, dan dinilai shahih oleh Syeikh al-Albani.
  • Hadits senada dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Anas (disebutkan At-Tirmidzi dalam bab ini).
  • Hadits shahih lain: "لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ" (dari Abu Hurairah, riwayat Al-Bukhari dan Muslim), yang menegaskan penafian keyakinan jahiliyah tentang penularan otomatis dan kesialan bulan Safar.

Kaitan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits "لا عدوى" bukan menafikan adanya sebab, tetapi menafikan keyakinan bahwa sesuatu menular dengan sendirinya tanpa izin Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini termasuk pokok aqidah tentang takdir.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Syarh Sunan Abi Dawud dan Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa penafian 'adwa tidak bertentangan dengan perintah menjauhi orang sakit, karena itu adalah bagian dari sebab yang Allah tetapkan.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ bersabda "لا يُعدي شيء شيئًا" — "Satu hal tidak menularkan kepada yang lain." Maksudnya, tidak ada sesuatu pun yang menularkan penyakit dengan kekuatan dan tabiatnya sendiri. Penularan hanya terjadi bila Allah menghendaki, sebagai bagian dari takdir-Nya.

Bantahan kepada orang Badui:

Orang Badui berargumen dengan pengamatan empiris: unta yang sehat bila didekatkan dengan unta berkudis, lalu terkena kudis. Nabi ﷺ tidak menafikan pengamatan itu, tetapi membantah keyakinan bahwa kudis itu menular sendiri. Beliau bertanya: "Siapa yang menjadikan unta pertama terkena kudis?" Artinya, jika penularan itu mandiri, dari mana unta pertama terkena? Ini menunjukkan bahwa semua terjadi dengan ketetapan Allah.

Penjelasan ulama daftar:

  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah (dalam Syarh Sunan Abi Dawud dan Madarij as-Salikin) menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan dua hal: (1) penafian keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular sendiri, dan (2) penetapan takdir menyeluruh atas kehidupan, rezeki, dan musibah. Beliau juga menegaskan bahwa menjauhi sebab (seperti menjauhi orang sakit) tidaklah bertentangan dengan tawakal, karena itu bagian dari sunnatullah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menyebutkan bahwa para ulama sepakat hadits "لا عدوى" tidak menafikan adanya sebab-akibat yang Allah tetapkan, tetapi menafikan keyakinan bahwa sebab itu mandiri.
  • Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dasar aqidah tentang takdir, dan bahwa seorang Muslim wajib meyakini tidak ada yang terjadi tanpa izin Allah.
  • Syeikh Abdurrahman as-Sa'di (dalam Tafsir as-Sa'di pada QS. Al-Hadid: 22) menegaskan bahwa segala musibah telah tertulis, sehingga manusia tidak perlu berputus asa dan tidak perlu sombong.
  • Syeikh al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memahami "لا عدوى" secara mutlak, sebagian lain memahaminya sebagai penafian keyakinan jahiliyah. Yang paling kuat—sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan Ibn Qayyim—adalah bahwa penularan itu ada sebagai sebab yang Allah tetapkan, tetapi tidak mandiri; karena itu Nabi ﷺ tetap memerintahkan menjauhi orang yang sakit (seperti dalam hadits "فر من المجذوم" — "menjauhlah dari orang yang berpenyakit lepra").

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu 'anhu) pernah hendak bepergian ke Syam, lalu sampai berita bahwa di sana sedang wabah tha'un. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, beliau memutuskan tidak masuk. Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertanya: "Apakah engkau lari dari takdir Allah?" Umar menjawab: "Seandainya bukan engkau yang berkata, wahai Abu Ubaidah... Ya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain." (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim). Kisah ini menunjukkan bahwa menjauhi sebab bahaya bukanlah menentang takdir, melainkan menjalankan sunnatullah. Inilah pemahaman yang ditegaskan Ibnu Hajar dan Ibn Qayyim dalam menjelaskan hadits 'adwa.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini takdir: Semua yang terjadi—penyakit, rezeki, musibah—sudah tertulis dan terjadi dengan izin Allah.
  2. Jangan percaya penularan mandiri: Penyakit tidak menular dengan kekuatannya sendiri, tetapi dengan ketetapan Allah.
  3. Tetap berusaha: Menjauhi sebab bahaya (seperti menjauhi orang sakit menular) adalah bagian dari syariat, bukan menentang takdir.
  4. Jangan ghuluw: Tidak boleh menyalahkan orang sakit sebagai penyebab mutlak, dan tidak boleh meninggalkan ikhtiar dengan alasan tawakal.
  5. Perbanyak doa dan dzikir: Karena hanya Allah yang menjaga dan menetapkan segala urusan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?