Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu kesucian dan kecenderungan bawaan untuk mengakui Allah sebagai Rabbnya dan siap menerima agama Islam. Namun, lingkungan keluarga dan pendidikan orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk keyakinan anak setelah ia lahir. Adapun nasib anak yang meninggal sebelum baligh atau sebelum terpengaruh lingkungan, urusannya dikembalikan kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang akan mereka lakukan.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum [30]: 30)
Ayat ini menjadi dasar utama bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang lurus, yaitu Islam.
2. Hadits:
Hadits yang Anda tanyakan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Takdir, Bab "Apa yang Dikatakan Setiap Anak yang Dilahirkan dalam Fitrah", nomor 2138. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dengan lafaz yang serupa dalam kitab shahih mereka, yang menunjukkan keshahihan dan kemasyhurannya.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan makna fitrah ini secara mendalam, bahwa fitrah adalah agama Islam yang murni, dan setiap manusia dilahirkan di atasnya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitrah manusia adalah pengakuan terhadap rububiyah Allah dan kesiapan untuk menerima syariat-Nya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "fitrah" dalam hadits ini adalah fitrah Islam, yaitu keadaan awal manusia yang bersih, suci, dan siap menerima kebenaran. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama, di antaranya:
- Imam Al-Bukhari menulis bab dalam shahihnya: "Bab: Jika salah seorang dari dua orang tua muslim, maka anaknya dihukumi muslim." Ini menunjukkan bahwa fitrah yang dimaksud adalah Islam.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata: "Fitrah adalah ciptaan Allah pada manusia berupa kecenderungan untuk mengenal-Nya dan mencintai-Nya, serta siap menerima perintah-Nya. Maka setiap anak dilahirkan di atas fitrah ini, yaitu Islam."
- Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa fitrah adalah keadaan awal penciptaan manusia yang lurus, dan agama Islam adalah penyempurna dari fitrah tersebut. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa ada anak yang lahir dari orang tua kafir, karena yang dimaksud adalah keadaan asal penciptaan, bukan hukum duniawi.
Peran Orang Tua:
Sabda Nabi ﷺ: "Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah berhala)" menunjukkan bahwa lingkungan dan pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar. Ini adalah peringatan bagi para orang tua untuk menjaga fitrah anak-anaknya dengan memberikan pendidikan Islam yang benar sejak dini.
Pertanyaan tentang Anak yang Meninggal Sebelum Baligh:
Ketika para sahabat bertanya tentang anak yang meninggal sebelum sempat dipengaruhi oleh orang tuanya, Nabi ﷺ menjawab: "Allah lebih tahu tentang apa yang mereka lakukan." Ini menunjukkan bahwa urusan mereka sepenuhnya dikembalikan kepada Allah. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mereka di akhirat:
- Sebagian ulama, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat, menyatakan bahwa anak-anak orang musyrik yang meninggal sebelum baligh akan diuji pada hari kiamat. Ini juga merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Imam Al-Bukhari.
- Pendapat lain menyatakan bahwa mereka selamat dan masuk surga, berdasarkan keumuman rahmat Allah. Ini adalah pendapat yang masyhur dari sebagian ulama.
- Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim memilih pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat, karena Allah tidak akan mengazab seseorang sebelum diutusnya rasul dan ditegakkannya hujjah. Ini adalah pendapat yang paling kuat dan hati-hati, karena tidak memastikan nasib seseorang tanpa dalil yang jelas.
Yang terpenting, kita tidak boleh memastikan nasib seseorang di akhirat kecuali dengan dalil yang shahih. Kita kembalikan urusan mereka kepada Allah yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
"Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana binatang ternak melahirkan anaknya yang sempurna. Apakah kalian melihat adanya cacat padanya?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Al-Aswad bin Sari' radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ia berperang bersama Rasulullah ﷺ, dan ia melihat anak-anak kecil dari kaum musyrik terbunuh dalam peperangan. Maka ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal itu, dan Nabi ﷺ menjawab: "Mereka adalah fitrah, dan Allah lebih tahu tentang apa yang mereka lakukan." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita tidak boleh menghakimi nasib seseorang di akhirat, termasuk anak-anak orang kafir, karena ilmu itu hanya milik Allah. Tugas kita hanyalah berusaha menjaga fitrah anak-anak kita dengan pendidikan yang baik, dan menyerahkan urusan yang ghaib kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu Islam dan kesucian.
- Jaga fitrah anak dengan memberikan pendidikan tauhid dan akhlak yang baik sejak dini, karena orang tua adalah faktor utama pembentuk keyakinan anak.
- Jangan menghakimi nasib orang lain di akhirat, termasuk anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh. Serahkan urusan tersebut kepada Allah yang Maha Adil.
- Perbanyak doa untuk anak-anak kita agar tetap istiqamah di atas fitrah Islam hingga akhir hayat.
- Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk memperbaiki lingkungan keluarga, karena lingkungan yang buruk dapat merusak fitrah yang suci.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.