Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan peristiwa agung pada Malam Isra' Mi'raj, di mana Allah ﷻ pada awalnya mewajibkan lima puluh shalat, lalu menguranginya hingga menjadi lima shalat. Meski jumlahnya lima, pahalanya tetap dicatat lima puluh karena ketetapan Allah tidak berubah. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada Nabi ﷺ dan umatnya, serta betapa pentingnya kedudukan shalat dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah ﷻ berfirman:
﴿ سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴾
QS. Al-Isra' [17]: 1
"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Shalat, Bab Apa yang Ditetapkan Allah atas Hamba-Nya dari Shalat, dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه. Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Anas bin Malik dan Malik bin Sha'sha'ah tentang peristiwa Isra' Mi'raj, yang menceritakan proses pengurangan shalat dari lima puluh menjadi lima.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan kemuliaan Nabi ﷺ dan kasih sayang Allah kepada umat Islam.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa pengurangan jumlah shalat tidak mengurangi pahala, karena Allah menetapkan pahala lima puluh untuk lima shalat.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, yaitu perjalanan malam Nabi ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Pada kesempatan itu, Allah ﷻ mewajibkan shalat lima puluh waktu. Nabi ﷺ kemudian bolak-balik menghadap Allah untuk memohon keringanan, hingga akhirnya shalat menjadi lima waktu. Namun Allah menegaskan bahwa pahala lima shalat tetap dicatat sebagai lima puluh, karena firman-Nya tidak berubah.
Pemahaman ulama:
- Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pengurangan ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi ﷺ, karena lima puluh shalat tentu sangat berat. Namun pahala tetap lima puluh, menunjukkan kemurahan Allah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat kalam (berbicara), dan firman-Nya tidak berubah. Ini juga menunjukkan kedudukan Nabi ﷺ yang mulia di sisi Allah.
- Ibnu Katsir menyebutkan bahwa peristiwa ini adalah mukjizat besar yang menegaskan kenabian Muhammad ﷺ dan kedudukan shalat sebagai ibadah paling utama.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Isra' Mi'raj adalah bukti kekuasaan Allah dan kemuliaan Nabi ﷺ. Shalat yang lima waktu memiliki pahala lima puluh, menunjukkan betapa Allah mencintai ibadah ini.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah Nabi ﷺ melihat Allah secara langsung pada Malam Isra'. Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepala. Namun yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Allah pada malam itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, tetapi hakikat penglihatan itu hanya Allah yang mengetahui.
Hikmah:
- Shalat adalah ibadah yang langsung diwajibkan oleh Allah tanpa perantara, menunjukkan kedudukannya yang sangat tinggi.
- Kasih sayang Allah kepada umat Islam sangat besar, sehingga beban shalat diringankan namun pahalanya tetap penuh.
- Peristiwa Isra' Mi'raj adalah mukjizat yang menegaskan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.
Story Telling
Kisah Isra' Mi'raj:
Pada suatu malam, Nabi ﷺ sedang berada di Masjidil Haram. Tiba-tiba Jibril عليه السلام datang membawa Buraq, seekor hewan yang sangat cepat. Nabi ﷺ dibawa terbang ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit lapis demi lapis. Di setiap langit, Nabi ﷺ bertemu para nabi: Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim عليهم السلام.
Di Sidratul Muntaha, Nabi ﷺ menerima perintah shalat lima puluh waktu. Ketika kembali, Nabi Musa عليه السلام menyarankan agar Nabi ﷺ memohon keringanan, karena umatnya tidak akan mampu. Nabi ﷺ bolak-balik menghadap Allah, hingga akhirnya shalat menjadi lima waktu. Allah berfirman: "Wahai Muhammad, lima shalat ini dicatat sebagai lima puluh. Firman-Ku tidak berubah."
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya shalat, kasih sayang Allah, dan kedudukan Nabi ﷺ yang mulia. (Sumber: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).
Kesimpulan Praktis
- Jaga shalat lima waktu dengan sebaik-baiknya, karena shalat adalah ibadah yang langsung diwajibkan oleh Allah dan memiliki pahala yang sangat besar.
- Renungkan kasih sayang Allah yang telah meringankan beban shalat namun tetap memberikan pahala lima puluh.
- Teladani Nabi ﷺ dalam kesungguhannya beribadah dan memohon keringanan untuk umatnya.
- Pelajari peristiwa Isra' Mi'raj untuk menambah keimanan dan kecintaan kepada Nabi ﷺ.
- Jangan remehkan shalat, karena shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.