Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2067 tentang Jamur bagian manna dan airnya obat mata

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan bahwa jamur (kam'ah) termasuk makanan yang Allah berikan kepada Bani Israil di padang pasir, yaitu "manna" yang disebut dalam Al-Qur'an. Selain itu, Nabi ﷺ juga mengabarkan bahwa air perasan jamur bisa menjadi obat untuk penyakit mata. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang menunjukkan keutamaan jamur, baik sebagai makanan maupun sebagai obat, dan kita sebagai umat Islam boleh memanfaatkannya dengan tetap meyakini bahwa kesembuhan sejati hanya datang dari Allah ﷻ.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman tentang nikmat manna kepada Bani Israil:

وَقُلْنَا يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ

"Dan Kami katakan: 'Wahai Bani Israil, tinggallah di negeri yang suci itu, dan makanlah darinya sesuka hatimu.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 58) — konteks tentang nikmat Allah kepada Bani Israil.

Atau lebih spesifik tentang manna:

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

"Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu." (QS. Al-Baqarah [2]: 57)

2. Hadits yang dimaksud:

Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Pengobatan, Bab tentang Jamur dan Kurma, nomor 2067. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini juga dalam Shahih-nya dari Sa'id bin Zaid, dan beliau menambahkan penjelasan bahwa "man" yang dimaksud adalah sesuatu yang Allah turunkan tanpa susah payah (bukan madu seperti yang dipahami sebagian orang).
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "man" dalam hadits ini dan perbedaan pendapat ulama tentangnya.

Penjelasan Rinci

Makna "Al-Kam'ah" (الْكَمْأَةُ):

Al-Kam'ah adalah jamur yang tumbuh di bumi tanpa ditanam, biasanya muncul setelah hujan di tanah yang subur. Dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai jamur truffle atau jamur liar.

Makna "Mina Al-Manni" (مِنَ الْمَنِّ):

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "man" di sini:

  1. Pendapat pertama: "Man" adalah sesuatu yang Allah turunkan dari langit kepada Bani Israil sebagai makanan tanpa usaha. Jamur diserupakan dengan manna karena keduanya diperoleh tanpa susah payah menanam. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  2. Pendapat kedua: "Man" di sini bermakna pemberian atau hadiah dari Allah. Jamur adalah pemberian Allah yang tumbuh tanpa ditanam manusia.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah jamur termasuk jenis makanan yang Allah berikan sebagai karunia, seperti manna yang Allah turunkan kepada Bani Israil. Namun beliau menegaskan bahwa ini bukan berarti jamur itu sama persis dengan manna yang turun dari langit.

Makna "Wa Mau'uha Syifa'ul Lil 'Ain" (وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ):

Maksudnya adalah air yang keluar dari jamur (setelah diperas atau direbus) bisa menjadi obat untuk penyakit mata. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang menunjukkan bahwa jamur memiliki khasiat untuk kesehatan mata.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menggunakan pengobatan dengan hal-hal yang Nabi ﷺ sebutkan, dan ini termasuk bagian dari thibbun nabawi (pengobatan ala Nabi). Namun beliau juga menekankan bahwa kita tidak boleh meyakini bahwa jamur itu sendiri yang menyembuhkan, tetapi Allah ﷻ yang menyembuhkan melalui perantara jamur tersebut.

Catatan penting dari para ulama:

  • Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa jamur termasuk makanan yang bermanfaat, dan airnya bermanfaat untuk mata. Beliau juga menyebutkan bahwa jamur yang baik adalah yang tumbuh di tanah yang tidak terkontaminasi.
  • Imam Asy-Syafi'i dan para ulama fiqih lainnya menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa jamur halal dimakan, tidak ada larangan dalam syariat tentangnya.

Hikmah di balik hadits ini:

  1. Nabi ﷺ mengabarkan tentang khasiat yang Allah ciptakan dalam makhluk-Nya, yang bisa diketahui melalui wahyu atau pengalaman.
  2. Hadits ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang umatnya memanfaatkan alam untuk pengobatan, selama tidak mengandung hal yang diharamkan.
  3. Ini juga menunjukkan keluasan ilmu Nabi ﷺ yang diberitahu Allah tentang berbagai hal, termasuk khasiat makanan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Zaid — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits tentang keutamaan makanan dan pengobatan dari Nabi ﷺ.

Ada kisah menarik tentang jamur ini: Para sahabat pernah mengumpulkan jamur setelah hujan di sekitar Madinah, lalu mereka membawanya kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bersabda bahwa jamur adalah bagian dari manna yang Allah berikan kepada Bani Israil. Ini menunjukkan bahwa para sahabat terbiasa memanfaatkan apa yang Allah tumbuhkan di bumi, dan Nabi ﷺ mengajarkan mereka untuk tidak berlebihan dan tetap bersyukur atas rezeki Allah.

Hikmah dari kisah ini: Para sahabat tidak menolak makanan yang tumbuh di bumi meskipun sederhana, dan Nabi ﷺ mengajarkan mereka untuk mengenali khasiat makanan tersebut sebagai bagian dari karunia Allah. Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan makanan sederhana yang Allah berikan, karena bisa jadi di dalamnya terdapat keberkahan dan kesembuhan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jamur (kam'ah) adalah makanan halal yang tumbuh tanpa ditanam, dan Nabi ﷺ menyebutnya sebagai bagian dari manna — karunia Allah yang diperoleh tanpa susah payah.
  2. Air perasan jamur bisa dijadikan obat mata berdasarkan sabda Nabi ﷺ, namun kita tetap meyakini bahwa kesembuhan sejati hanya dari Allah ﷻ.
  3. Boleh menggunakan pengobatan alami yang disebutkan dalam hadits, selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak meyakini bahwa benda itu sendiri yang menyembuhkan secara mutlak.
  4. Bersyukur atas makanan sederhana yang Allah berikan, karena bisa jadi di dalamnya terdapat keberkahan.
  5. Jangan berlebihan dalam memandang makanan — jadikanlah makanan sebagai sarana untuk beribadah dan menjaga kesehatan, bukan tujuan hidup.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?