Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2038 tentang Anjuran berobat karena setiap penyakit ada obatnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil utama yang menunjukkan bahwa berobat adalah perkara yang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ menjawab pertanyaan para sahabat dengan tegas, "Berobatlah wahai hamba-hamba Allah." Ini menegaskan bahwa ikhtiar medis tidak bertentangan dengan tawakal, justru merupakan bagian dari sebab yang diperintahkan. Hadits ini juga memberikan kabar gembira bahwa setiap penyakit yang Allah turunkan pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu kematian (usia tua).

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 2038):

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan sanad lengkap):

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ الْعَقَدِيُّ، قال حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلاَقَةَ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ، قَالَ قَالَتِ الأَعْرَابُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَتَدَاوَى قَالَ " نَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلاَّ دَاءً وَاحِدًا " . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ " الْهَرَمُ " .

Terjemahan: Usamah bin Sharik berkata: "Beberapa orang Badui bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah kami harus berobat?' Beliau menjawab: 'Ya, wahai hamba-hamba Allah! Berobatlah. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit kecuali Dia menciptakan obatnya' - atau - 'sebuah pengobatan. Kecuali satu penyakit.' Mereka bertanya: 'Wahai Rasulullah! Apa itu?' Beliau menjawab: 'Usia tua.'"

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dan beliau menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad, serta dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Sunan At-Tirmidzi.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai bantahan terhadap dua kelompok ekstrem:

  1. Kelompok yang melarang berobat dengan alasan tawakal yang keliru. Mereka menganggap berobat adalah bentuk tidak bersandar kepada Allah. Ini adalah pemahaman yang salah, karena Nabi ﷺ sendiri berobat dan memerintahkan umatnya untuk berobat.
  2. Kelompok yang terlalu bergantung pada obat sehingga melupakan Allah sebagai pemberi kesembuhan. Mereka menganggap obatlah yang menyembuhkan, bukan Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa berobat tidak bertentangan dengan tawakal. Beliau berkata, "Sesungguhnya Allah menjadikan obat sebagai sebab kesembuhan, sebagaimana Dia menjadikan makanan sebagai sebab kenyang dan air sebagai sebab hilangnya dahaga. Tawakal tidak menghalangi penggunaan sebab-sebab yang telah Allah tetapkan di alam ini." Inti dari perkataan beliau adalah bahwa seorang mukmin menggunakan sebab sambil meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan sebab dan akibat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa di antara bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya adalah Dia tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obatnya, baik yang sudah diketahui manusia maupun yang belum. Ini adalah dorongan untuk terus meneliti dan mencari pengobatan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berobat, bahkan dianjurkan, karena Nabi ﷺ memerintahkannya dengan lafaz perintah. Namun, beliau juga menekankan bahwa keyakinan seorang mukmin harus tertuju kepada Allah sebagai pemberi kesembuhan, sementara obat hanyalah sebab.

Adapun pengecualian dalam hadits ini adalah al-haram (usia tua/ketuaan). Ini bukanlah penyakit dalam arti sebenarnya, melainkan proses alami menuju akhir hayat yang tidak bisa dihindari. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kematian, karena usia tua adalah awal dari berakhirnya kehidupan. Tidak ada obat yang bisa mencegah kematian.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sendiri berobat ketika sakit. Dalam Shahih Al-Bukhari, Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah berbekam (hijamah) dan memberikan upah kepada tukang bekam tersebut. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya memerintahkan berobat, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa berobat adalah sunnah Nabi ﷺ dan bagian dari ikhtiar yang terpuji. Seorang mukmin yang sakit tidak boleh berputus asa, tetapi harus berusaha mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibolehkan syariat, sambil tetap berdoa dan berserah diri kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Berobat adalah perintah Nabi ﷺ dan bagian dari ikhtiar yang dianjurkan dalam Islam.
  2. Setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali kematian. Ini adalah kabar gembira bagi umat manusia untuk terus berusaha.
  3. Keyakinan harus tertuju kepada Allah sebagai pemberi kesembuhan, sementara obat hanyalah sebab yang Allah tetapkan.
  4. Jangan berputus asa dari rahmat Allah ketika sakit. Teruslah berikhtiar, berdoa, dan bersabar.
  5. Hindari pengobatan yang diharamkan syariat, seperti sihir, jimat, atau hal-hal yang mengandung kesyirikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.