Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2030 tentang Kezaliman menjadi kegelapan pada hari kiamat

Tentu, saya akan menjelaskan hadits tersebut sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa segala bentuk kezaliman—baik kepada Allah maupun kepada manusia—akan menjadi kegelapan yang menyesatkan pelakunya pada Hari Kiamat. Kegelapan ini adalah gambaran azab dan kesulitan yang akan dialami, sebagai balasan atas perbuatan zalim di dunia. Maka seorang Muslim wajib menjauhi kezaliman dan segera bertaubat serta meminta maaf jika telah menzalimi orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Jami' At-Tirmidzi, Kitab Perbuatan Baik dan Silaturahmi, Bab Apa yang Dikatakan tentang Kezaliman, nomor 2030. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur Ibnu Umar.

Teks hadits:

<p>عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»</p>

Terjemahan: "Dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: 'Kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada Hari Kiamat.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari jalur lain, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari. Imam Muslim meriwayatkannya dari Jabir bin Abdullah dengan lafaz: «اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» ("Takutlah kalian kepada kezaliman, karena kezaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada Hari Kiamat").

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

<p>وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ</p>

(QS. Ibrahim [14]: 42)

Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak."

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung peringatan yang sangat keras terhadap kezaliman. Para ulama yang tercantum dalam daftar rujukan menjelaskan maknanya sebagai berikut:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "kegelapan-kegelapan" (ظُلُمَاتٌ) adalah bentuk jamak, yang menunjukkan banyaknya jenis dan tingkatan kegelapan sesuai dengan banyaknya jenis kezaliman. Setiap kezaliman memiliki kegelapannya sendiri. Beliau juga menegaskan bahwa kezaliman terbagi menjadi tiga: (1) zalim kepada Allah dengan syirik dan maksiat, (2) zalim kepada manusia dengan mengambil hak mereka, dan (3) zalim kepada diri sendiri dengan meninggalkan kewajiban.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kegelapan ini bersifat hakiki, bukan kiasan semata. Di Hari Kiamat, pelaku kezaliman akan benar-benar diliputi kegelapan yang menghalanginya dari petunjuk dan cahaya. Beliau mengutip pendapat Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in) yang berkata: "Kezaliman itu akan menjadi kegelapan bagi pelakunya pada Hari Kiamat, sehingga ia tidak mendapatkan cahaya sedikit pun."

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mencakup semua bentuk kezaliman, bahkan yang tampak kecil. Beliau menukil perkataan Al-Hasan al-Bashri (tabi'in): "Sesungguhnya kezaliman itu akan datang pada Hari Kiamat sebagai kegelapan yang menutupi pelakunya, lalu ia dipanggil: 'Di mana cahayamu?' Maka tidak ada cahaya baginya."

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di ketika menafsirkan ayat-ayat tentang kezaliman menjelaskan bahwa kezaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan balasannya adalah kegelapan yang berlapis-lapis. Beliau menekankan bahwa kezaliman kepada manusia tidak akan diampuni oleh Allah kecuali dengan bertaubat dan mengembalikan hak yang dizalimi.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menyebutkan bahwa kegelapan di Hari Kiamat ada dua jenis: kegelapan karena kezaliman dan kegelapan karena kemaksiatan. Kegelapan kezaliman lebih berat karena berkaitan dengan hak orang lain yang tidak bisa dihapus hanya dengan istighfar, tetapi harus dengan mengembalikan hak atau meminta maaf.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i dalam berbagai riwayat dari murid-murid mereka menegaskan bahwa hadits ini adalah dasar larangan keras terhadap kezaliman, termasuk kezaliman kecil seperti menunda pembayaran utang bagi yang mampu, atau mengambil tanah orang lain walau sejengkal.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa membedakan antara kezaliman yang bisa dihapus dengan taubat (zalim kepada Allah) dan kezaliman yang memerlukan penyelesaian dengan manusia (zalim kepada makhluk). Namun semua sepakat bahwa kezaliman adalah dosa besar yang wajib dijauhi.

Pendapat yang paling kuat: Kezaliman dalam hadits ini bersifat umum, mencakup semua jenisnya, dan balasannya adalah kegelapan hakiki di Hari Kiamat. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama dari daftar, termasuk An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibn Rajab, dan As-Sa'di.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَ عَلَيْهِ»

"Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta maaf darinya sebelum datang hari di mana tidak ada dinar dan dirham. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka diambil dari keburukan saudaranya lalu dilemparkan kepadanya." (HR. Bukhari)

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menceritakan kisah seorang salaf yang sangat takut dengan hadits ini. Fudail bin 'Iyadh (seorang ulama tabi'ut tabi'in) berkata: "Sesungguhnya aku tidak iri kepada orang yang zalim ketika ia mendapatkan kezalimannya, tetapi aku iri kepada orang yang dizalimi ketika ia mengambil kebaikan orang yang menzaliminya pada Hari Kiamat."

Al-Hasan al-Bashri juga pernah berkata: "Sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada Hari Kiamat, dan sungguh seorang hamba akan datang dengan kebaikan sebesar gunung, lalu ia melihat kezalimannya, maka kebaikannya habis untuk orang-orang yang dizaliminya."

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi segala bentuk kezaliman, baik kepada Allah (syirik, meninggalkan ibadah), kepada diri sendiri (maksiat), maupun kepada orang lain (mengambil hak, menipu, menggunjing, menunda utang).
  2. Segera bertaubat jika telah menzalimi Allah, dan minta maaf serta kembalikan hak jika telah menzalimi manusia.
  3. Perbanyak istighfar dan amal saleh untuk menutupi kekurangan dan kesalahan yang pernah dilakukan.
  4. Ingatlah Hari Kiamat sebagai hari di mana tidak ada cahaya kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
  5. Berlaku adil dalam semua urusan, karena keadilan adalah cahaya, sedangkan kezaliman adalah kegelapan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?