Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan tiga keutamaan besar: sedekah tidak mengurangi harta, memaafkan menambah kemuliaan, dan tawadhu' (rendah hati karena Allah) mengangkat derajat seseorang. Semua ini menunjukkan bahwa keuntungan sejati di sisi Allah justru datang dari sifat-sifat mulia, bukan dari mengejar harta dan kedudukan dengan cara yang salah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Jami' At-Tirmidzi, Kitab Kebaikan dan Silaturahmi, Bab Apa yang Dikatakan tentang Kerendahan Hati, nomor 2029. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Teks hadits:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ رَجُلاً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
Terjemahan: "Sedekah tidak mengurangi harta, dan Allah tidak menambah seorang hamba dengan pengampunan kecuali dengan kemuliaan, dan tidaklah seorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah mengangkatnya."
Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, di antaranya dari Abdullah bin Abbas dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi dalam bab yang sama.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tawadhu' dan pengangkatan derajat:
QS. Al-Hujurat [49]: 13
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Terjemahan: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."
QS. Al-Furqan [25]: 63
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Terjemahan: "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, mereka mengucapkan salam."
Penjelasan Rinci
Pertama: Sedekah tidak mengurangi harta.
Secara zahir, orang yang bersedekah mengeluarkan hartanya, sehingga jumlahnya berkurang. Namun Nabi ﷺ mengabarkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Para ulama menjelaskan makna ini dalam beberapa sisi:
- Berkah pada harta yang tersisa. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keberkahan Allah pada harta yang tersisa jauh lebih besar daripada jumlah yang dikeluarkan. Harta yang sedikit namun diberkahi lebih bermanfaat daripada harta banyak tanpa berkah.
- Ganti dari Allah. Allah menjanjikan penggantian, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Saba' [34]: 39: "Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik."
- Pahala yang tersimpan. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "tidak berkurang" adalah berkah dan pahala, bukan semata hitungan angka.
Kedua: Memaafkan menambah kemuliaan.
Memaafkan orang yang bersalah kepada kita terasa berat bagi jiwa, karena seolah-olah kita merendahkan diri. Namun Nabi ﷺ mengabarkan sebaliknya: justru dengan memaafkan, Allah menambah kemuliaan. Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa memaafkan adalah bukti kekuatan jiwa, bukan kelemahan. Orang yang mampu membalas tetapi memilih memaafkan, maka Allah akan mengangkat derajatnya di hati manusia dan di sisi-Nya.
Ketiga: Tawadhu' mengangkat derajat.
Ini adalah inti bab yang dibahas At-Tirmidzi. Tawadhu' berarti merendahkan diri di hadapan Allah dan tidak sombong terhadap makhluk. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa tawadhu' memiliki dua tingkatan: (1) tawadhu' di hadapan perintah Allah dengan menerimanya, dan (2) tawadhu' terhadap makhluk dengan tidak merasa lebih tinggi. Siapa yang tawadhu' karena Allah, Allah akan mengangkatnya di dunia dan akhirat.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa pengangkatan derajat ini bisa berupa:
- Diangkat namanya dan dihormati manusia.
- Diberi kedudukan yang tinggi di hati orang-orang beriman.
- Diangkat derajatnya di akhirat di hadapan Allah.
Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keutamaan tiga amal ini. Yang ada hanyalah perbedaan penekanan: sebagian ulama menekankan sisi berkah harta (Ibn Katsir), sebagian menekankan sisi psikologis dan akhlak (Ibn Qayyim), dan sebagian menekankan sisi derajat di akhirat (Ibn Rajab). Semuanya saling melengkapi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Al-Hasan al-Bashri rahimahullah dan mengeluh tentang hartanya yang terus berkurang meskipun ia rajin bekerja. Al-Hasan al-Bashri berkata: "Apakah engkau bersedekah?" Lelaki itu menjawab: "Aku tidak punya kelebihan untuk disedekahkan." Al-Hasan berkata: "Justru karena engkau tidak bersedekah, hartamu berkurang. Sedekah adalah pintu berkah."
Kisah lain dari salaf: Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang mencela dan menghinanya. Beliau menjawab dengan lembut dan mendoakan kebaikan untuk orang tersebut. Ketika ditanya mengapa, beliau berkata: "Aku tidak ingin membalas keburukan dengan keburukan, karena aku tahu bahwa memaafkan akan menambah kemuliaanku di sisi Allah."
Kesimpulan Praktis
- Jangan takut bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta, tetapi justru mendatangkan berkah dan penggantian dari Allah.
- Latih diri untuk memaafkan. Memaafkan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan jiwa yang Allah akan balas dengan kemuliaan.
- Hiasi diri dengan tawadhu'. Rendah hati karena Allah akan mengangkat derajat kita, baik di dunia maupun di akhirat.
- Ingatlah bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan harta, jabatan, atau pujian manusia (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.