Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2021 tentang Keutamaan menahan amarah dan ganjarannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang mampu menahan amarah padahal ia memiliki kemampuan untuk melampiaskannya. Allah akan memberikan kehormatan istimewa di Hari Kiamat dengan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya kebebasan memilih bidadari surga yang ia inginkan. Ini adalah motivasi kuat untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Ali Imran [3]: 134

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

"(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Hadits:

Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2021 dari Mu'adh bin Anas Al-Juhani radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa menahan amarah termasuk akhlak mulia yang sangat dianjurkan, dan balasannya sangat besar di sisi Allah. Beliau mengutip hadits ini sebagai dalil keutamaan menahan amarah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Makna "menahan amarah" (كَظَمَ الْغَيْظَ)

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa "kazhm al-ghaizh" adalah menahan amarah yang sudah memuncak hingga hampir meluap, lalu ia menelannya dan tidak melampiaskannya. Ini lebih berat daripada sekadar tidak marah sejak awal.

2. Syarat "padahal ia mampu melampiaskannya"

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarhnya terhadap Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa keutamaan ini khusus bagi orang yang memiliki kekuatan atau otoritas untuk membalas, namun ia memilih menahan diri karena Allah. Misalnya seorang pemimpin, suami, atau orang tua yang bisa menghukum namun memaafkan.

3. Balasan di Hari Kiamat

Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa panggilan Allah di hadapan seluruh makhluk adalah bentuk penghormatan tertinggi. Ini menunjukkan betapa Allah memuliakan hamba-Nya yang mampu mengendalikan amarah.

4. Memilih bidadari

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah balasan yang sangat besar, karena bidadari adalah kenikmatan surga yang didambakan. Namun perlu diingat bahwa kenikmatan terbesar adalah melihat Allah, dan ini adalah tambahan keutamaan.

5. Derajat hadits

Imam At-Tirmidzi menilai hasan gharib. Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Ini menunjukkan hadits ini dapat diamalkan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, 'Wahai Rasulullah, ajarkan aku sesuatu yang dengannya aku masuk surga.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Janganlah engkau marah.'" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad)

Kisah ini menunjukkan bahwa menahan amarah adalah kunci masuk surga. Al-Hasan al-Bashri, seorang tabi'in besar, sering mengingatkan para sahabatnya tentang pentingnya mengendalikan amarah karena amarah bisa menghancurkan amal kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Latih diri untuk menahan amarah, terutama saat kita memiliki kekuatan untuk membalas
  2. Ingatlah bahwa balasan menahan amarah sangat besar, bahkan hingga bisa memilih bidadari surga
  3. Biasakan berwudhu saat marah, berganti posisi (duduk jika berdiri, berbaring jika duduk), dan membaca ta'awudz
  4. Jadikan sifat pemaaf sebagai kebiasaan, karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.