Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2018 tentang Akhlak mulia mendekatkan diri kepada Nabi di akhirat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa akhlak yang mulia adalah sebab seseorang dicintai oleh Nabi ﷺ dan akan ditempatkan paling dekat dengan beliau di hari kiamat. Sebaliknya, tiga sifat tercela—banyak bicara tanpa manfaat (al-tharthar), memaksakan diri dalam berbicara dan merendahkan orang lain (al-mutasyaddiq), serta sombong (al-mutafaihiq)—adalah sebab seseorang dibenci Nabi ﷺ dan dijauhkan dari beliau di hari kiamat. Ini adalah dorongan kuat untuk memperbaiki akhlak dan peringatan keras terhadap sifat-sifat yang merusak hubungan dengan sesama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 2018):

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ"

>

> "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat adalah al-thartharun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kami sudah tahu al-thartharun dan al-mutasyaddiqun, lalu siapakah al-mutafaihiqun?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang sombong." (HR. At-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa al-Shilah, Bab Ma Ja'a fi Husn al-Khuluq, no. 2018; dinilai hasan oleh Imam At-Tirmidzi)

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

QS. Luqman [31]: 18

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ

"Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."

Penjelasan Ulama tentang Makna Kata:

Imam At-Tirmidzi menjelaskan dalam kitabnya setelah meriwayatkan hadits ini:

  • Al-Tharthar adalah orang yang banyak bicara (tanpa manfaat).
  • Al-Mutasyaddiq adalah orang yang memaksakan diri dalam berbicara dan merendahkan orang lain.
  • Al-Mutafaihiq menurut penjelasan Nabi ﷺ adalah orang-orang yang sombong.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam:

1. Keutamaan Akhlak Mulia

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa akhlak yang mulia adalah bagian dari keimanan dan merupakan buah dari keyakinan yang benar. Beliau berkata bahwa agama ini seluruhnya adalah akhlak—akhlak kepada Allah dengan beribadah hanya kepada-Nya, akhlak kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya, dan akhlak kepada sesama dengan berbuat baik.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarij al-Salikin menjelaskan bahwa akhlak mulia adalah setengah dari agama, karena agama terbagi menjadi dua: hubungan dengan Allah (ibadah) dan hubungan dengan sesama (muamalah). Akhlak yang baik mencakup keduanya.

2. Makna "Dekat Majelis" dengan Nabi ﷺ di Hari Kiamat

Imam Al-Mubarakfuri—yang merupakan pensyarah Sunan At-Tirmidzi—menjelaskan bahwa "dekat majelis" di sini adalah kedekatan secara maknawi, yaitu kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik akan mengangkat derajat seseorang di akhirat, bahkan mendekatkannya kepada manusia terbaik, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

3. Tiga Sifat yang Dibenci

  • Al-Tharthar (الثَّرْثَارُ): Orang yang banyak bicara tanpa faedah, memperbanyak omongan yang tidak bermanfaat. Imam Al-Khattabi menjelaskan bahwa ini adalah orang yang berbicara dengan berlebihan dan tidak terkontrol.
  • Al-Mutasyaddiq (الْمُتَشَدِّقُ): Imam At-Tirmidzi menjelaskan bahwa ini adalah orang yang memaksakan diri dalam berbicara dan merendahkan orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa ini termasuk sikap melampaui batas dalam berbicara, merasa paling benar, dan meremehkan orang lain.
  • Al-Mutafaihiq (الْمُتَفَيْهِقُ): Nabi ﷺ menjelaskan langsung bahwa ini adalah orang-orang yang sombong. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Ini adalah sifat yang paling dibenci Allah dan Rasul-Nya.

4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Status Hadits

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur periwayatan ini. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian perawi meriwayatkannya tanpa menyebut 'Abd Rabbih bin Sa'id, dan ini menurut beliau lebih shahih. Namun, hadits ini tetap sahih maknanya karena dikuatkan oleh hadits-hadits lain tentang keutamaan akhlak.

5. Hikmah Larangan Sifat-Sifat Tersebut

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa sifat banyak bicara tanpa manfaat, memaksakan diri dalam berbicara, dan sombong adalah penyakit hati yang merusak amal. Orang yang memiliki sifat-sifat ini akan dijauhkan dari Nabi ﷺ di hari kiamat karena mereka tidak meneladani akhlak beliau yang penuh kesantunan, kelembutan, dan kerendahan hati.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang amalan yang paling banyak memasukkan seseorang ke surga. Beliau bersabda: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." (HR. At-Tirmidzi, no. 2004)

Kemudian beliau juga bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya." (HR. At-Tirmidzi, no. 2018)

Para sahabat sangat memahami bahwa akhlak bukan sekadar sopan santun, tetapi cerminan keimanan. Abdullah bin al-Mubarak—salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in—pernah ditanya tentang definisi akhlak yang baik, beliau menjawab: "Akhlak yang baik adalah wajah yang berseri, memberi kebaikan, dan menahan diri dari mengganggu orang lain."

Beliau juga berkata: "Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat tinggi dengan akhlaknya yang baik, meskipun ibadahnya biasa-biasa saja. Dan seorang hamba jatuh ke lembah yang paling dalam dengan akhlaknya yang buruk, meskipun ibadahnya banyak."

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak memperbaiki akhlak dalam keseharian—kepada keluarga, tetangga, teman kerja, dan semua orang. Ini adalah jalan untuk dicintai Nabi ﷺ dan dekat dengan beliau di akhirat.
  2. Jauhi banyak bicara tanpa manfaat. Biasakan berbicara seperlunya, dengan kata-kata yang baik dan bermanfaat. Diam lebih baik daripada berbicara yang tidak berguna.
  3. Jangan memaksakan diri dalam berbicara atau merasa paling benar. Rendah hatilah dalam berdiskusi dan menerima pendapat orang lain.
  4. Jauhi kesombongan dalam segala bentuknya—sombong dengan ilmu, harta, kedudukan, atau bahkan ibadah. Kesombongan adalah penghalang masuk surga.
  5. Teladani akhlak Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang, lembut, pemaaf, dan tidak pernah merendahkan orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.