Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2016 tentang Akhlak Nabi yang pemaaf dan tidak membalas kejahatan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan akhlak agung Nabi Muhammad ﷺ yang jauh dari segala bentuk kekasaran, kekotoran lisan, dan keributan. Inti hadits ini adalah bahwa Nabi ﷺ tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memilih untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini adalah puncak akhlak mulia yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Akhlak, Bab tentang Akhlak Nabi ﷺ, no. 2016. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Teks Hadits (sebagaimana yang Anda sebutkan):

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيَّ، يَقُولُ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ، رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا وَلاَ صَخَّابًا فِي الأَسْوَاقِ وَلاَ يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

Makna ringkas: Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ, beliau menjawab bahwa Nabi ﷺ tidak pernah berkata keji, tidak sengaja berkata keji, tidak berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi beliau memaafkan dan berlapang dada.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

"Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf [7]: 199)

Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah kepada Nabi ﷺ untuk berakhlak pemaaf, dan hadits di atas adalah bukti nyata bagaimana Nabi ﷺ mengamalkannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu pilar dalam memahami akhlak Nabi ﷺ. Mari kita bedah setiap kalimatnya:

  1. "Lam yakun fahishan" (لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا): Maknanya, beliau ﷺ tidak pernah memiliki sifat keji atau berkata-kata kotor. Sifat fuhsy (kekejian) adalah perangai yang sangat tercela, dan Nabi ﷺ terbebas dari semua itu. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah sebaik-baik akhlak, dan salah satu cirinya adalah lisannya yang selalu bersih dari perkataan buruk.
  2. "Wa la mutafahhishan" (وَلاَ مُتَفَحِّشًا): Ini adalah tingkatan yang lebih dalam. Mutafahhish adalah orang yang sengaja dan dengan sengaja berusaha untuk berkata keji atau berbuat keji. Aisyah menegaskan bahwa Nabi ﷺ bukan hanya tidak berkata keji, tetapi juga tidak pernah berniat atau berusaha untuk melakukannya. Ini menunjukkan kesucian bathin beliau.
  3. "Wa la shakhkhaban fil aswaq" (وَلاَ صَخَّابًا فِي الأَسْوَاقِ): Shakhkhab berarti orang yang berteriak-teriak dengan suara keras dan kasar. Sifat ini sangat tercela, terutama di tempat umum seperti pasar. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' dan ketenangan Nabi ﷺ. Beliau tidak pernah meninggikan suara karena marah atau untuk menunjukkan kekuasaan, meskipun di tempat yang biasanya ramai dan bising.
  4. "Wa la yajzi bis-sayyi'atis-sayyi'ah" (وَلاَ يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ): Ini adalah inti dari kemuliaan akhlak. Nabi ﷺ tidak pernah membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang serupa. Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang pilihan. Mereka menahan diri dari balas dendam dan menyerahkan urusan pembalasan kepada Allah.
  5. "Wa lakin ya'fu wa yashfahu" (وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ): Inilah puncaknya. Nabi ﷺ memilih untuk memaafkan ('afw) dan berlapang dada (safh). Para ulama membedakan keduanya:
  • 'Afw: Menghapus dosa dan tidak menuntut balas.
  • Safh: Lebih tinggi lagi, yaitu memaafkan dengan wajah yang berseri dan hati yang ikhlas, tanpa meninggalkan rasa dendam sedikit pun.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa memaafkan adalah akhlak yang paling utama, dan ini adalah perintah Allah dalam banyak ayat. Ini bukan berarti lemah, tetapi justru kekuatan jiwa yang paling besar.

Penerapan Ulama: Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan akhlak ini. Imam Ahmad bin Hanbal terkenal dengan sifat pemaafnya. Beliau pernah didatangi orang yang pernah menyakitinya, lalu beliau memaafkannya dengan sangat mulia. Ini adalah buah dari pemahaman mereka terhadap hadits-hadits akhlak Nabi ﷺ.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang akhlak pemaaf Nabi ﷺ. Suatu ketika, seorang Badui menarik selendang Nabi ﷺ dengan kasar hingga meninggalkan bekas di leher beliau, lalu berkata dengan nada kasar, "Wahai Muhammad, berikanlah aku harta ini yang ada padamu!" Para sahabat marah dan ingin menghardiknya, tetapi Nabi ﷺ menahan mereka dan tersenyum. Beliau lalu memerintahkan agar orang itu diberi hadiah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, meskipun diperlakukan kasar, Nabi ﷺ tidak membalas dengan kekasaran. Beliau memilih untuk memaafkan dan bahkan memberi hadiah. Ini adalah contoh nyata dari hadits yang kita bahas. Hikmahnya, dengan kelembutan dan pemaafan, hati orang tersebut menjadi lunak dan akhirnya masuk Islam dengan baik.

Kesimpulan Praktis

Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Menjaga Lisan: Berusahalah untuk tidak berkata kotor, kasar, atau menyakitkan. Ganti dengan perkataan yang baik dan bermanfaat.
  2. Menjaga Ketenangan: Hindari berteriak-teriak atau bertengkar di tempat umum. Tunjukkan sikap tenang dan santun di mana pun berada.
  3. Tidak Membalas Keburukan: Jika ada orang yang berbuat buruk kepada kita, jangan langsung membalas dengan keburukan yang sama. Berhentilah sejenak dan ingatlah teladan Nabi ﷺ.
  4. Melatih Diri untuk Memaafkan: Mulailah memaafkan kesalahan orang lain, sekecil apa pun. Latih hati untuk ikhlas dan tidak menyimpan dendam. Ini adalah jalan menuju ketenangan hati dan kemuliaan di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.