Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah pujian langsung dari Nabi ﷺ kepada seorang sahabat bernama Al-Asyaj bin Qais Al-'Ashri (dari kabilah Abdul Qais). Beliau ﷺ menyebutkan bahwa di dalam diri sahabat ini terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu al-hilm (sifat santun, tenang, tidak mudah marah, dan menahan diri) dan al-anaah (tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau bertindak, serta berhati-hati). Kedua sifat ini adalah akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, dan pujian Nabi ﷺ ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan akhlak tersebut di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 17) dengan lafaz yang lebih panjang, di mana Nabi ﷺ bersabda kepada Al-Asyaj:
"إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ"
"Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah: al-hilm (santun) dan al-anaah (tidak tergesa-gesa)."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Ali 'Imran [3]: 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya."
Ayat ini menunjukkan bahwa sifat lemah lembut (yang merupakan bagian dari al-hilm) adalah sifat yang dicintai Allah dan menjadi sebab keberkahan dalam hubungan antar manusia.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa al-hilm adalah menahan diri dari amarah dan bersikap tenang, sedangkan al-anaah adalah tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu sebelum waktunya. Beliau menukil penjelasan para ulama bahwa al-anaah lebih khusus dari al-hilm, karena al-anaah adalah bagian dari al-hilm.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menyebutkan bahwa sifat al-hilm dan al-anaah termasuk akhlak para nabi dan orang-orang shalih, dan keduanya adalah sebab datangnya pertolongan Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan dua sifat mulia ini secara rinci:
1. Al-Hilm (الحلم)
Al-hilm secara bahasa berarti kesantunan, kelembutan, dan kemampuan menahan diri dari amarah. Sifat ini mencakup:
- Tidak mudah marah ketika dihadapkan pada hal yang tidak disukai
- Mampu mengendalikan emosi dan bersabar dalam menghadapi ujian
- Bersikap lembut dalam perkataan dan perbuatan
- Memaafkan kesalahan orang lain
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa al-hilm adalah buah dari ilmu dan kesabaran. Orang yang berilmu akan memahami bahwa marah tidak akan menyelesaikan masalah, sehingga ia memilih untuk bersikap santun.
2. Al-Anaah (الأناة)
Al-anaah secara bahasa berarti tidak tergesa-gesa, berhati-hati, dan tidak terburu-buru. Sifat ini mencakup:
- Berpikir sebelum bertindak
- Tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan
- Bersikap tenang dalam menghadapi berbagai persoalan
- Tidak mudah terprovokasi oleh situasi
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ"
"Sikap tenang (tidak tergesa-gesa) itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa al-anaah adalah sifat yang sangat bermanfaat dalam segala urusan, baik urusan dunia maupun akhirat. Orang yang memiliki sifat ini akan selamat dari banyak kesalahan yang disebabkan oleh ketergesa-gesaan.
Kisah Al-Asyaj Abdul Qais:
Dalam riwayat yang panjang (HR. Muslim), diceritakan bahwa Al-Asyaj datang kepada Nabi ﷺ bersama delegasi Abdul Qais. Ketika tiba, beliau ﷺ sedang sibuk, sehingga Al-Asyaj menunggu dengan sabar. Setelah selesai, Nabi ﷺ bertanya tentang siapa yang menunggu, lalu beliau ﷺ memuji Al-Asyaj dengan dua sifat tersebut. Al-Asyaj kemudian berkata: "Apakah dua sifat ini bawaan dari Allah ataukah aku yang berusaha?" Nabi ﷺ menjawab: "Bahkan itu adalah bawaan dari Allah yang telah ditetapkan padamu." Maka Al-Asyaj berdoa: "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dua sifat yang dicintai oleh-Nya."
Kisah ini menunjukkan bahwa akhlak mulia adalah anugerah dari Allah, namun manusia tetap diperintahkan untuk berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak tersebut.
Story Telling
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Al-Asyaj:
"إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ"
Lalu Al-Asyaj bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah dua sifat ini adalah bawaan yang Allah ciptakan padaku, ataukah aku yang berusaha menghasilkannya?"
Nabi ﷺ menjawab: "Bahkan Allah telah menciptakan keduanya dalam dirimu."
Maka Al-Asyaj berkata: "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dalam diriku dua sifat yang dicintai oleh-Nya dan Rasul-Nya."
Hikmah dari kisah ini:
- Akhlak mulia adalah anugerah dari Allah, namun kita tetap diperintahkan untuk berusaha menghiasinya.
- Pujian dari Nabi ﷺ adalah kabar gembira yang menunjukkan bahwa Allah mencintai orang yang memiliki sifat santun dan tidak tergesa-gesa.
- Ketika seseorang diberi anugerah akhlak yang baik, hendaknya ia bersyukur dan tidak menjadi sombong.
Kesimpulan Praktis
- Berusahalah memiliki sifat al-hilm — bersikap santun, menahan amarah, dan lembut dalam bertutur kata.
- Berusahalah memiliki sifat al-anaah — tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, berpikir sebelum bertindak, dan berhati-hati dalam segala urusan.
- Jadikan kedua sifat ini sebagai sarana untuk meraih cinta Allah, karena Allah mencintai orang-orang yang memiliki sifat tersebut.
- Ketika diberi anugerah akhlak yang baik, bersyukurlah dan jangan merasa sombong, karena semua itu adalah karunia dari Allah.
- Hindari sifat tergesa-gesa dan mudah marah, karena keduanya adalah sumber dari banyak kesalahan dan penyesalan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.