Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2010 tentang Akhlak baik bagian dari kenabian

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa akhlak yang baik, sikap tenang/tidak tergesa-gesa (at-tu'adah), dan sikap sederhana (al-iqtishad) adalah sebagian dari sifat-sifat kenabian. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai satu bagian dari dua puluh empat bagian kenabian — bukan berarti orang yang memilikinya menjadi nabi, tetapi bahwa sifat-sifat ini adalah warisan akhlak para nabi yang patut kita teladani. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

"Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Sarjis Al-Muzani (sahabat Nabi ﷺ), dan dicatat oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Berbakti dan Menyambung Silaturahmi, Bab tentang Ketelitian dan Keterburu-buruan (no. 2010). At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharib." Dalam bab ini juga ada riwayat dari Ibnu Abbas (sahabat Nabi ﷺ).

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan "bagian dari kenabian" adalah bentuk tasybih (penyerupaan) — artinya sifat-sifat ini adalah akhlak para nabi, bukan berarti pelakunya menjadi nabi.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa yang dimaksud adalah akhlak yang menjadi ciri khas para nabi, sehingga siapa yang menghiasi diri dengannya, ia menyerupai mereka dalam akhlak.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa amal-amal yang disebut "bagian dari iman" atau "bagian dari kenabian" menunjukkan keutamaan amal tersebut, bukan hakikat kenabian itu sendiri.

Penjelasan Rinci

Makna kata kunci dalam hadits:

  1. السَّمْتُ الْحَسَنُ (as-samtul hasan) — Ibnu Hajar menjelaskan ini mencakup penampilan, cara berjalan, cara berbicara, dan sikap lahir yang baik. Al-Hasan al-Bashri menyebutkan bahwa samtul hasan adalah wajah yang berseri, tutur kata yang lembut, dan tidak menyakiti orang lain.
  2. التُّؤَدَةُ (at-tu'adah) — yaitu ketenangan dan tidak tergesa-gesa dalam segala urusan. Ini bukan lambat, tetapi tenang, terukur, dan penuh pertimbangan. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah sifat yang dicintai Allah, sebagaimana hadits lain: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal."
  3. الاِقْتِصَادُ (al-iqtishad) — yaitu sikap sederhana dan seimbang, tidak berlebihan dan tidak kurang. Dalam ibadah, muamalah, maupun akhlak. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa al-iqtishad adalah jalan tengah yang paling selamat, dan inilah yang disebut dalam QS. Al-Furqan [25]: 67 tentang tidak boros dan tidak kikir.

Makna "satu dari dua puluh empat bagian kenabian":

Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai angka ini:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa angka 24 menunjukkan banyaknya bagian akhlak kenabian, dan sifat-sifat ini adalah salah satunya. Bukan berarti kenabian terbagi 24, tetapi akhlak kenabian memiliki banyak cabang, dan ini salah satunya.
  • Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ini adalah bentuk motivasi agar umat Islam menghiasi diri dengan akhlak para nabi.
  • Ibn Rajab al-Hanbali menambahkan bahwa amal yang dinisbatkan kepada kenabian menunjukkan kemuliaan amal tersebut, karena ia adalah warisan dari para nabi.

Pendapat yang paling kuat: Hadits ini hasan (sebagaimana penilaian At-Tirmidzi), dan maknanya adalah anjuran untuk berakhlak dengan akhlak para nabi, bukan berarti pelakunya menjadi nabi atau mendapat derajat kenabian.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Sarjis Al-Muzani (sahabat Nabi ﷺ) adalah seorang yang dikenal dengan akhlak yang baik dan sikap yang tenang. Suatu ketika ia meriwayatkan hadits ini kepada para tabi'in, dan para ulama setelahnya menjadikannya sebagai dasar dalam bab adab dan akhlak.

Al-Hasan al-Bashri (tabi'in) pernah berkata: "Akhlak yang baik adalah cahaya dalam hati, dan ia adalah bagian dari kenabian." Beliau juga menegaskan bahwa orang yang berakhlak baik akan mudah diterima oleh manusia, sebagaimana Nabi ﷺ diterima karena akhlaknya yang agung.

Sufyan ats-Tsauri (tabi'ut tabi'in) pernah ditanya tentang akhlak yang baik, beliau menjawab: "Yaitu engkau memaafkan orang yang menzalimimu, engkau memberi kepada orang yang kikir kepadamu, dan engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutusmu." Ini adalah buah dari samtul hasan, at-tu'adah, dan al-iqtishad.

Kesimpulan Praktis

  1. Hiasi diri dengan akhlak yang baik — wajah berseri, tutur kata lembut, dan tidak menyakiti orang lain.
  2. Latih diri untuk tenang dan tidak tergesa-gesa — dalam berbicara, mengambil keputusan, dan beribadah.
  3. Bersikap sederhana dan seimbang — tidak berlebihan dalam dunia maupun akhirat.
  4. Sadari bahwa akhlak ini adalah warisan para nabi — maka jagalah dengan sungguh-sungguh.
  5. Jangan salah paham — memiliki akhlak ini tidak menjadikan seseorang nabi, tetapi ia menyerupai mereka dalam akhlak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi