Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2006 tentang Balas kebaikan meski orang lain tidak ramah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal utama: pertama, jangan membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang sama, tetapi tetaplah berbuat baik dan memuliakan tamu meskipun dia tidak memuliakan kita. Kedua, jika Allah memberi nikmat harta, maka hendaknya nikmat itu tampak pada diri seseorang sebagai wujud syukur, bukan untuk sombong, tetapi agar orang lain melihat karunia Allah dan tidak merendahkannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 2006):

Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dan benar. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Al-Ahwash dari ayahnya, yaitu Auf bin Malik bin Nudhlah Al-Jusyami radhiyallahu 'anhu.

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih (حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ) sebagaimana tercantum di akhir teks hadits tersebut.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Fushshilat [41]: 34

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

Penjelasan ulama tentang makna hadits:

Imam At-Tirmidzi sendiri menjelaskan dalam kitabnya bahwa makna "أَقْرِهِ" (aqrihi) adalah "أَضِفْهُ" (adhifhu) yaitu "berilah dia jamuan/tamu", dan "القِرَى" (al-qira) artinya "الضيافة" (ad-dhiyafah) yaitu "jamuan untuk tamu". Ini menunjukkan bahwa perintah Nabi ﷺ kepada sahabat tersebut adalah tetap memuliakan tamu meskipun orang itu tidak memuliakannya.

Penjelasan Rinci

1. Tentang Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Dalam hadits ini, sahabat Auf bin Malik bertanya kepada Nabi ﷺ tentang seseorang yang tidak mau menjamunya ketika dia singgah, tetapi kemudian orang itu datang ke tempatnya. Apakah dia boleh membalas dengan tidak menjamunya?

Nabi ﷺ menjawab dengan tegas: "لَا، أَقْرِهِ" — "Tidak, jamulah dia."

Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, membalas keburukan dengan keburukan yang sama bukanlah akhlak yang diajarkan. Justru yang diajarkan adalah membalas keburukan dengan kebaikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada kita adalah bagian dari akhlak para nabi dan orang-orang shalih, dan ini lebih utama daripada membalas dengan setimpal.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa derajat ihsan (berbuat baik) yang paling tinggi adalah ketika seseorang berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya. Ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Fushshilat ayat 34 di atas.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kita untuk menolak kejahatan dengan kebaikan, yaitu dengan cara memaafkan, berlapang dada, dan berbuat baik. Jika seseorang melakukan ini, maka musuh yang paling keras sekalipun akan berubah menjadi teman yang akrab.

2. Tentang Menampakkan Nikmat Allah

Di bagian kedua hadits, Nabi ﷺ melihat sahabat Auf bin Malik mengenakan pakaian yang compang-camping (رَثَّ الثِّيَابِ). Nabi ﷺ bertanya: "Apakah kamu memiliki harta?" Auf menjawab: "Allah telah memberiku berbagai jenis harta berupa unta dan kambing." Maka Nabi ﷺ bersabda: "فَلْيُرَ عَلَيْكَ" — "Maka hendaknya (nikmat itu) terlihat padamu."

Ini menunjukkan bahwa jika Allah memberi seseorang harta dan kecukupan, maka hendaknya dia menampakkan nikmat tersebut dalam bentuk yang pantas — seperti memakai pakaian yang baik dan bersih — sebagai wujud syukur kepada Allah. Ini bukan berarti bermewah-mewahan atau sombong, tetapi agar orang lain tidak merendahkannya dan agar nikmat Allah itu terlihat.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ"

"Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya." (HR. At-Tirmidzi no. 2819, hasan)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa menampakkan nikmat Allah bukanlah bentuk kesombongan, selama hati seseorang tetap tawadhu' dan bersyukur. Yang dilarang adalah bersikap sombong dan angkuh dengan hartanya.

3. Keseimbangan Antara Kedua Ajaran

Hadits ini menggabungkan dua pelajaran penting:

  • Akhlak kepada sesama: tetap berbuat baik meskipun diperlakukan buruk.
  • Akhlak kepada diri sendiri: menjaga penampilan yang pantas sebagai wujud syukur atas nikmat Allah.

Keduanya adalah bagian dari keindahan Islam yang mengajarkan keseimbangan antara hak orang lain dan hak diri sendiri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah — salah seorang tabi'in besar — pernah ditanya tentang orang yang berbuat buruk kepadanya. Beliau menjawab dengan bijak: "Ada tiga pilihan: jika kamu membalas, maka itu boleh (sebatas setimpal). Jika kamu memaafkan, maka itu lebih utama. Dan jika kamu berbuat baik kepadanya, maka itulah derajat yang paling tinggi."

Beliau kemudian membacakan firman Allah: "Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat: 34)

Inilah akhlak para salafush shalih — mereka tidak hanya memaafkan, tetapi bahkan berbuat baik kepada orang yang menyakiti mereka. Ini adalah buah dari keimanan yang mendalam dan keyakinan bahwa balasan terbaik ada di sisi Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan membalas keburukan dengan keburukan. Jika seseorang tidak berbuat baik kepada kita, tetaplah berbuat baik kepadanya. Ini adalah akhlak mulia yang dicontohkan Nabi ﷺ.
  2. Muliakan tamu meskipun dia tidak memuliakan kita ketika kita menjadi tamunya. Memuliakan tamu adalah bagian dari iman dan sunnah Nabi ﷺ.
  3. Tampakkan nikmat Allah dalam penampilan yang pantas dan baik. Jika Allah memberi kecukupan, maka gunakanlah pakaian yang bersih dan layak sebagai wujud syukur, bukan untuk sombong.
  4. Jaga keseimbangan: berbuat baik kepada orang lain tanpa mengorbankan hak diri sendiri untuk tampil layak di hadapan manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?