Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2005 tentang Akhlak baik: wajah berseri, berbuat baik, menahan diri

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukan sabda Nabi ﷺ, melainkan perkataan ‘Abdullah bin al-Mubārak rahimahullāh – seorang ulama besar tabi‘ut tabi‘in – yang menjelaskan bahwa akhlak yang baik itu mencakup tiga hal: wajah yang berseri dan ramah (tidak cemberut), gemar berbuat kebaikan (dalam bentuk harta, tenaga, ilmu, atau senyuman), dan menahan diri dari menyakiti (fisik, lisan, maupun perasaan orang lain). Beliau merangkum esensi akhlak Islam dalam tiga amalan yang sangat praktis dan mudah diamalkan.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Teks Atsar (Perkataan ‘Abdullah bin al-Mubārak)

Teks Arab (dengan harakat lengkap sesuai mushaf):

> حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو وَهْبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ، أَنَّهُ وَصَفَ حُسْنَ الْخُلُقِ فَقَالَ: هُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَىٰ.

Terjemahan:

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah adh-Dhabbi, telah menceritakan kepada kami Abū Wahb, dari ‘Abdullāh bin al-Mubārak – bahwa ia menjelaskan akhlak yang baik, kemudian ia berkata: "Akhlak yang baik adalah wajah yang berseri-seri, berbuat baik (kepada sesama), dan menahan diri dari menyakiti."

(H.R. at-Tirmidzi, no. 2005, dalam Kitāb al-Birr wa ash-Shilah, Bāb Mā Jā’a fī Ḥusni al-Khuluq)

Dalil Pendukung dari Al-Qur’an dan Hadits

  1. Al-Qur’an:
  • Firman Allah tentang akhlak Nabi kita ﷺ:

> وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

(QS. Al-Qalam [68]: 4)

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.”

  • Perintah untuk berbuat baik dan menjauhi gangguan:

> إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ

(QS. An-Nahl [16]: 90)

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”

  1. Hadits Nabi ﷺ:
  • Dari Abū Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

(HR. at-Tirmidzi, no. 1162, dan dishahihkan oleh al-Albāni)

Artinya: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

Kaitan dengan Ulama dalam Daftar

  • Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam menjelaskan bahwa Ibnu al-Mubārak telah mengumpulkan semua kebaikan akhlak dalam tiga kalimat ini, dan ia menegaskan bahwa akhlak yang baik adalah gabungan dari tawāḍu‘ (rendah hati), basyāshah (ramah muka), dan kaf f al-adzā (menahan gangguan) – lihat syarah hadits 17.
  • Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn (bab tentang akhlak baik) menyebutkan hadits-hadits tentang senyum dan menahan diri dari menyakiti, yang sejalan dengan makna atsar ini.
  • ‘Abdullah bin al-Mubārak sendiri adalah seorang imam dalam ilmu hadits, zuhud, dan akhlak. Beliau dikenal sangat rendah hati dan gemar memberi. Perkataan ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang sahih.

---

Penjelasan Rinci

1. Basyṭu al-Wajh – Wajah yang Berseri dan Ramah

Maksudnya adalah menampakkan muka yang bersih, senyum, dan sambutan hangat ketika berhadapan dengan orang lain. Ibnu al-Mubārak tidak mengatakan “banyak tertawa”, tetapi “memberi kelapangan pada wajah”, yaitu tidak bermuka masam atau cemberut. Ini merupakan sedekah yang paling ringan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

> تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1956; dishahihkan al-Albāni)

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah (w. 728 H) dalam Majmū‘ al-Fatāwā menekankan bahwa keramahan wajah termasuk bagian dari ḥusn al-khuluq karena dapat melapangkan hati orang lain dan menghilangkan rasa canggung.

2. Badzlu al-Ma‘rūf – Berbuat Baik (Memberi Kebaikan)

Ma‘rūf adalah setiap perbuatan baik yang dikenal dan dibenarkan oleh syariat. Mencakup:

  • Memberi harta (sedekah, hadiah, pinjaman).
  • Membantu dengan tenaga atau waktu.
  • Menebar ilmu dan nasihat.
  • Sekadar menunjukkan jalan atau ucapan yang menyenangkan.

Imam Aḥmad bin Ḥanbal (w. 241 H) pernah ditanya tentang ḥusn al-khuluq, beliau menjawab: “Engkau bersabar terhadap apa yang datang darimu dari manusia, dan engkau tidak membalas kejelekan dengan kejelekan.” (Riwayat al-Khallāl dalam al-Adab)

Al-Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Madārij as-Sālikīn menjelaskan bahwa badzl al-ma‘rūf adalah inti dari iḥsān (berbuat baik), yaitu memberi tanpa diminta dan memaafkan sebelum diampuni.

3. Kaffu al-Adzā – Menahan Diri dari Menyakiti

Artinya tidak mengganggu orang lain, baik dengan lisan (ghibah, cacian, ejekan), perbuatan (pukulan, perampasan hak), maupun dengan sikap yang menyakiti hati. Ini merupakan syarat minimal seorang muslim, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

> الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhāri, no. 10; Muslim, no. 40)

Imam Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) berkata: “Akhlak yang baik adalah engkau tidak marah meskipun engkau mampu marah, dan engkau tidak membalas kejelekan dengan kejelekan.” (Riwayat Abū Nu‘aim dalam Ḥilyah al-Awliyā’)

---

Story Telling

‘Abdullah bin al-Mubārak sendiri adalah teladan akhlak mulia. Konon, beliau sangat ringan tangan dan suka memberi. Pada suatu musim haji, beliau melihat seorang wanita tua sedang memunguti biji-bijian dari sela-sela batu karena tidak punya makanan. Maka Ibnu al-Mubārak mendekat dan dengan ramah bertanya, “Wahai ibuku, apakah engkau mau menemaniku ke pasar? Aku akan membelikanmu makanan.” Wanita itu setuju. Setelah membeli apa yang diperlukan, beliau juga memberikan sebagian hartanya tanpa sepengetahuan wanita itu. Beliau tidak ingin disebut dermawan, ia hanya ingin mempraktekkan badzl al-ma‘rūf dan basyṭ al-wajh.

Kisah ini menunjukkan bahwa definisi akhlak yang ia sampaikan benar-benar diamalkan dalam hidupnya. (Sumber: Siyar A‘lām an-Nubalā’, karya adz-Dzahabi, jilid 8, hlm. 391)

---

Kesimpulan Praktis

  1. Mulailah dari wajah – Biasakan tersenyum, jangan cemberut meskipun sedang sedih. Ini ringan tapi berpahala.
  2. Biasakan memberi – Tawarkan bantuan sekecil apa pun, baik harta, ilmu, atau tenaga. Jangan pelit dalam kebaikan.
  3. Jaga lisan dan tangan – Jangan menyakiti siapa pun, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika ada kesalahan, maafkan.
  4. Raih kesempurnaan iman – Dengan menerapkan tiga hal ini, kita mendekati akhlak Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.