Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah jawaban Nabi ﷺ yang sangat agung dan ringkas tentang dua kunci utama keselamatan dan kebinasaan manusia. Kunci masuk Surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang mulia. Adapun kunci masuk Neraka adalah lisan (mulut) dan kemaluan (farji) yang tidak dijaga. Ini menunjukkan bahwa keselamatan agama seseorang sangat bergantung pada amalan hati (taqwa), interaksi sosial (akhlak), serta menjaga dua anggota tubuh yang paling sering menjadi sumber dosa besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Birr wash-Shilah (Kebaikan dan Silaturahmi), Bab Ma Ja'a fi Husnil Khuluq (Bab Tentang Akhlak yang Baik), no. 2004. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ" وَقَالَ: "الْفَمُ وَالْفَرْجُ"
Artinya: "Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik." Dan (ketika ditanya tentang yang paling banyak memasukkan manusia ke Neraka), beliau menjawab: "Mulut dan kemaluan."
Dalil penguat dari Al-Qur'an tentang pentingnya menjaga lisan dan kemaluan adalah firman Allah Ta'ala:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya." (QS. An-Nur [24]: 31)
Juga firman-Nya tentang menjaga lisan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir (Raqib dan 'Atid)." (QS. Qaf [50]: 18)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah ringkasan agama yang sangat agung. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa taqwa adalah inti dari semua kebaikan batin, sedangkan akhlak yang baik adalah buah dari taqwa yang tampak dalam interaksi dengan sesama. Keduanya adalah sebab terbesar untuk meraih Surga.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (ketika menafsirkan ayat tentang taqwa) menjelaskan bahwa taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dengan landasan iman dan mengharap pahala. Ini mencakup menjaga hati dari syirik, riya', hasad, dan penyakit hati lainnya.
Adapun tentang "mulut" (الفم) dan "kemaluan" (الفرج), para ulama menjelaskan bahwa keduanya adalah sumber utama dosa besar yang menjerumuskan manusia ke Neraka. Dari mulut keluar perkataan kufur, syirik, dusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), fitnah, dan ucapan keji. Dari kemaluan lahir perbuatan zina, liwath (homoseksual), dan segala bentuk perbuatan keji lainnya.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa'd, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ يَضْمَنُ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin Surga untuknya." (HR. Al-Bukhari no. 6474)
Hadits ini sangat sejalan dengan hadits At-Tirmidzi di atas. Keduanya menegaskan bahwa menjaga lisan dan kemaluan adalah kunci keselamatan dari Neraka.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa akhlak yang baik mencakup akhlak kepada Allah (ikhlas, taat, sabar atas takdir) dan akhlak kepada sesama makhluk (jujur, amanah, pemaaf, tidak menyakiti). Adapun taqwa adalah akar dari semua itu, karena orang yang bertaqwa akan terdorong untuk berakhlak mulia dan menjauhi segala yang haram.
Story Telling
Ada kisah yang sangat masyhur tentang seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang wasiat yang ringkas namun mencakup banyak kebaikan. Dalam riwayat lain yang shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Seorang mukmin yang benar-benar beriman akan berpikir seribu kali sebelum berbicara. Jika ucapannya baik, ia akan berbicara; jika tidak, lebih baik diam. Ini adalah cabang dari akhlak mulia yang disebutkan dalam hadits At-Tirmidzi di atas.
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Sesungguhnya di antara tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Dia menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." Maka seorang mukmin sejati akan menjaga waktunya, lisannya, dan seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang dimurkai Allah.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak taqwa dengan cara mempelajari ilmu syar'i, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya dengan ikhlas.
- Perbaiki akhlak kepada sesama: jujur, lemah lembut, pemaaf, dermawan, dan tidak menyakiti orang lain.
- Jaga lisan dari perkataan dusta, ghibah, namimah, dan semua ucapan yang tidak bermanfaat. Biasakan berkata baik atau diam.
- Jaga kemaluan dari perbuatan zina dan segala yang mengarah kepadanya, seperti melihat yang haram, berdua-duaan dengan lawan jenis, dan membuka aurat.
- Jadikan dua hal ini sebagai prioritas dalam muhasabah harian: apakah hari ini saya sudah bertaqwa dan berakhlak baik? Apakah lisan dan kemaluan saya sudah saya jaga?
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.