Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1998 tentang Larangan sombong walau sebesar biji sawi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang dua perkara yang sangat penting: bahaya kesombongan (kibr) dan keutamaan iman. Hadits ini menegaskan bahwa kesombongan, meskipun hanya sebesar biji sawi, adalah penghalang masuk surga. Sebaliknya, iman sekecil apa pun di hati seorang mukmin akan menjauhkannya dari kekekalan di neraka. Ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang sangat serius, sementara iman adalah keselamatan yang hakiki.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Kebaikan dan Silaturahmi, Bab tentang Kesombongan, nomor 1998. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ وَلاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ "

Makna Ringkas: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi, dan tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi."

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-A'raf [7]: 40

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan."

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah larangan keras terhadap kesombongan. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa kesombongan adalah menghinakan kebenaran dan meremehkan manusia. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa kesombongan adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya karena ia merupakan akar dari keengganan menerima kebenaran.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki dua bagian yang saling melengkapi:

Pertama, tentang kesombongan. Rasulullah ﷺ mengaitkan kesombongan dengan tidak masuk surga. Ini adalah ancaman yang sangat keras. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud di sini adalah kesombongan yang menghalangi seseorang dari menerima kebenaran dan merendahkan orang lain. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesombongan adalah penyakit yang pertama kali muncul di muka bumi, yaitu ketika Iblis enggan sujud kepada Adam karena merasa lebih mulia. Dari sini kita paham bahwa kesombongan adalah pangkal dari segala kemaksiatan.

Kedua, tentang iman. Bagian kedua hadits ini memberikan kabar gembira bahwa iman sekecil apa pun akan menjadi penghalang seseorang dari kekekalan di neraka. Ini menunjukkan bahwa iman adalah sebab keselamatan. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa iman sekecil biji sawi pun akan membawa pelakunya keluar dari neraka pada akhirnya, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan sekecil apa pun.

Perbedaan pendapat ulama tentang "tidak masuk surga": Ada dua penafsiran utama:

  1. Tidak masuk surga secara mutlak - Ini adalah pendapat yang lebih hati-hati, bahwa kesombongan yang menghalangi dari kebenaran adalah kekufuran yang membuat pelakunya kekal di neraka.
  2. Tidak masuk surga pada awalnya - Ini adalah pendapat mayoritas ulama Ahlus Sunnah, bahwa seorang muslim yang memiliki kesombongan namun tetap beriman, ia akan masuk surga setelah dibersihkan dosanya di neraka (jika Allah menghendaki), atau langsung masuk surga jika kesombongannya tidak sampai menghalangi dari kebenaran.

Pendapat yang lebih kuat adalah yang kedua, karena hadits ini juga menyebutkan bahwa iman sekecil biji sawi akan menghalangi seseorang dari kekekalan di neraka. Ini menunjukkan bahwa kedua bagian hadits ini berbicara tentang dua kelompok yang berbeda: orang kafir yang sombong (tidak masuk surga sama sekali) dan orang mukmin yang memiliki iman (tidak kekal di neraka).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, aku suka jika sandalku bagus dan pakaianku bagus. Apakah ini termasuk kesombongan?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Tidak. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa kesombongan bukanlah tentang penampilan atau harta, melainkan tentang sikap hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kesombongan yang tercela adalah ketika seseorang menolak kebenaran karena merasa dirinya lebih tinggi, atau merendahkan orang lain karena merasa lebih mulia. Adapun memperindah diri dengan hal yang halal adalah sesuatu yang disukai Allah selama tidak melampaui batas.

Kesimpulan Praktis

  1. Periksa hati kita - Apakah ada rasa sombong ketika kita diberi ilmu, harta, atau kedudukan? Jika ada, segera istighfar dan ingatlah bahwa semua itu adalah titipan Allah.
  2. Terima kebenaran dari siapa pun - Jangan menolak nasihat baik hanya karena datangnya dari orang yang lebih muda atau lebih rendah statusnya.
  3. Jangan meremehkan orang lain - Setiap manusia memiliki kehormatan di sisi Allah. Merendahkan orang lain adalah ciri kesombongan.
  4. Jaga iman sekecil apa pun - Jangan pernah meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun, karena iman sekecil biji sawi pun bisa menjadi penyelamat.
  5. Perbanyak doa - Mintalah kepada Allah agar dijauhkan dari penyakit hati, terutama kesombongan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.