Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sesekali bergurau dengan para sahabatnya, termasuk dengan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Beliau memanggil Anas dengan panggilan "Wahai pemilik dua telinga" sebagai bentuk candaan yang lembut dan penuh kasih sayang. Ini mengajarkan bahwa bergurau itu boleh, asalkan tidak mengandung kebohongan, tidak berlebihan, dan tidak menyakiti hati orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat At-Tirmidzi:
Teks hadits yang Anda sampaikan adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَهُ " يَا ذَا الأُذُنَيْنِ " . قَالَ مَحْمُودٌ قَالَ أَبُو أُسَامَةَ يَعْنِي مَازَحَهُ . وَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ .
Terjemahan: Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: "Wahai pemilik dua telinga!" Mahmud berkata: "Abu Usamah mengatakan: 'Ia hanya bermaksud bercanda.'"
Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H) dalam Sunan At-Tirmidzi, Kitab Perbuatan Baik dan Silaturahmi, Bab Apa yang Dikatakan tentang Bergurau, no. 1992, menyatakan hadits ini hasan shahih gharib.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
"Dan sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah kunci dalam pergaulan, dan bergurau yang baik adalah bagian dari kelembutan tersebut.
Hadits Pendukung Lainnya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau bergurau dengan kami?" Beliau menjawab:
إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا
"Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali yang benar." (HR. At-Tirmidzi no. 1990, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa bergurau adalah bagian dari akhlak mulia jika dilakukan dengan adab yang benar. Mari kita simak penjelasan mereka:
1. Panggilan "Wahai Pemilik Dua Telinga"
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (wafat 1421 H) menjelaskan bahwa panggilan ini adalah bentuk gurauan Nabi ﷺ kepada Anas bin Malik. Setiap manusia memang memiliki dua telinga, sehingga panggilan ini adalah candaan yang ringan dan tidak mengandung ejekan yang menyakitkan. Ini menunjukkan kedekatan dan kasih sayang Nabi ﷺ kepada pembantunya itu.
2. Adab Bergurau Menurut Para Ulama
Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa bergurau itu boleh selama tidak berlebihan dan tidak mengandung kebohongan. Beliau menukil bahwa sebagian ulama memakruhkan banyak bergurau karena dapat melalaikan hati dan menjatuhkan wibawa.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) menjelaskan bahwa bergurau yang dibolehkan adalah yang bersifat sesekali, tidak berlebihan, dan tidak mengandung unsur dusta. Beliau berkata: "Bergurau yang dilakukan oleh Nabi ﷺ adalah gurauan yang benar, tidak mengandung kebohongan, dan dilakukan sesekali saja."
3. Perbedaan Pendapat Ulama
Ada sebagian ulama yang memakruhkan bergurau secara mutlak karena khawatir menjatuhkan wibawa dan melalaikan. Namun pendapat yang lebih kuat—dan didukung oleh hadits-hadits shahih—adalah bahwa bergurau itu boleh dengan syarat:
- Tidak mengandung kebohongan
- Tidak berlebihan
- Tidak menyakiti perasaan orang lain
- Tidak menjatuhkan wibawa dan kehormatan
- Dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bergurau tetapi tidak pernah berkata kecuali yang benar. Ini menunjukkan bahwa gurauan beliau adalah gurauan yang bersih dari kebohongan.
4. Hikmah di Balik Gurauan Nabi ﷺ
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) menjelaskan bahwa gurauan Nabi ﷺ memiliki tujuan pendidikan, yaitu:
- Menghilangkan kejenuhan dan ketegangan
- Menunjukkan kasih sayang kepada sahabat-sahabatnya
- Mengajarkan bahwa Islam tidak kaku dan membosankan
- Membangun kedekatan hati antara pemimpin dan yang dipimpin
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Nu'aiman radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai pribadi yang suka bergurau. Suatu ketika, ia datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, bawakan aku unta untuk kutunggangi." Nabi ﷺ bersabda: "Aku tidak punya unta untukmu." Tidak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki membawa unta untuk diserahkan kepada Nabi ﷺ. Nu'aiman berkata kepada laki-laki itu: "Rasulullah ﷺ menyuruhku untuk mengambil untamu ini." Laki-laki itu pun menyerahkan untanya kepada Nu'aiman. Ketika laki-laki itu datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu, Nabi ﷺ bersabda: "Semoga Allah merahmati Nu'aiman, sesungguhnya ia tidak berkata kecuali yang benar." (Kisah ini disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab sirah dan adab)
Kisah ini menunjukkan bahwa gurauan yang dilakukan dengan jujur dan tidak menyakiti adalah hal yang dicontohkan dan dihargai dalam Islam.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Berguraulah dengan cara yang baik — candaan yang ringan, tidak mengandung kebohongan, dan tidak menyakiti hati orang lain.
- Jangan berlebihan dalam bergurau — karena banyak bergurau dapat melalaikan hati dan menjatuhkan wibawa.
- Gunakan gurauan untuk mendekatkan hati — seperti yang dilakukan Nabi ﷺ kepada para sahabatnya, gurauan bisa menjadi sarana untuk mencairkan suasana dan membangun keakraban.
- Jadikan kejujuran sebagai batas — dalam bergurau pun, kita tidak boleh berbohong. Nabi ﷺ bersabda: "Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta agar membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia." (HR. Abu Dawud no. 4990, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
- Perhatikan perasaan orang lain — jangan sampai gurauan kita menyakiti atau merendahkan orang lain, karena itu bukan lagi gurauan melainkan ejekan yang dilarang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.