Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1990 tentang Rasulullah bercanda namun tetap berkata benar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sesekali bergurau dengan para sahabatnya, namun gurauan beliau tetap dalam koridor kebenaran. Beliau tidak pernah berdusta, bahkan dalam candaan sekalipun. Ini adalah pelajaran agung bahwa bergurau itu boleh, tetapi harus dijaga agar tidak mengandung kebohongan, hinaan, atau hal yang dilarang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda tuliskan):

حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا. قَالَ "إِنِّي لاَ أَقُولُ إِلاَّ حَقًّا". قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Makna: Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau bergurau dengan kami?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Perbuatan Baik dan Silaturahmi, Bab Tentang Bergurau, no. 1990. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

"Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

(QS. An-Najm [53]: 3-4)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh perkataan Nabi ﷺ — termasuk gurauan beliau — adalah benar dan terjaga dari kebatilan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung faedah yang sangat besar tentang adab bergurau dalam Islam.

1. Bergurau adalah bagian dari akhlak Nabi ﷺ

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ kadang bergurau dengan para sahabatnya, namun gurauan beliau selalu benar dan tidak pernah mengandung dusta. Ini menunjukkan bahwa bergurau yang baik adalah bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Nabi ﷺ, selama tidak melanggar syariat.

2. Larangan berdusta dalam bergurau

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan keras berdusta dalam bergurau. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa orang yang suka berdusta untuk membuat orang tertawa telah keluar dari akhlak Nabi ﷺ.

3. Batasan bergurau menurut para ulama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa bergurau yang diperbolehkan adalah yang tidak mengandung kebohongan, tidak merendahkan orang lain, dan tidak berlebihan. Adapun bergurau yang mengandung dusta, hinaan, atau membuat orang lain takut, maka itu terlarang.

4. Contoh gurauan Nabi ﷺ yang benar

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa seorang lelaki tua datang kepada Nabi ﷺ meminta didoakan. Beliau bersabda, "Semoga Allah memberkatimu." Orang itu berkata, "Engkau tidak bercanda?" Beliau menjawab, "Aku tidak bercanda, tetapi aku benar-benar mendoakanmu." Ini menunjukkan bahwa gurauan Nabi ﷺ tetap mengandung kebaikan dan kebenaran.

5. Hikmah gurauan Nabi ﷺ

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bergurau untuk menyenangkan hati para sahabatnya, menghilangkan kejenuhan, dan mempererat ukhuwah. Namun beliau tetap menjaga keagungan dan ketenangan beliau, tidak berlebihan dalam tertawa.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Suatu ketika seorang lelaki dari penduduk pedalaman bernama Zahir bin Haram radhiyallahu 'anhu. Ia biasa menghadiahkan sesuatu kepada Nabi ﷺ dari kampungnya, dan Nabi ﷺ juga menyiapkan sesuatu untuknya ketika ia hendak pergi. Nabi ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya Zahir adalah kebanggaan kami, dan kami adalah kebanggaan baginya.'

Suatu hari Nabi ﷺ datang menemuinya secara diam-diam dari belakang ketika Zahir sedang menjual barangnya. Nabi ﷺ memeluknya dari belakang. Zahir berkata, 'Lepaskan aku, siapa ini?' Ketika ia menoleh dan melihat Rasulullah ﷺ, ia justru menempelkan punggungnya ke dada beliau karena gembira. Nabi ﷺ bersabda dengan bercanda, 'Siapa yang mau membeli budak ini?' Zahir menjawab, 'Wahai Rasulullah, kalau begitu engkau akan mendapatkanku sebagai budak yang rugi.' Nabi ﷺ bersabda, 'Tetapi di sisi Allah, engkau tidak rugi.'" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Hikmah: Gurauan Nabi ﷺ kepada Zahir menunjukkan kasih sayang beliau kepada para sahabatnya. Beliau membuat Zahir merasa dekat dan dicintai, tanpa mengurangi keagungan beliau. Ini pelajaran bahwa bergurau bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan kasih sayang, selama dilakukan dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bergurau itu boleh selama tidak berlebihan dan tidak melalaikan dari dzikir kepada Allah ﷻ.
  2. Jangan pernah berdusta dalam bergurau — ini adalah batasan paling penting. Rasulullah ﷺ bersabda, "Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia." (HR. Abu Dawud, shahih)
  3. Hindari gurauan yang merendahkan, menghina, atau menakut-nakuti orang lain — ini termasuk perbuatan yang dilarang.
  4. Jadikan gurauan sebagai sarana kebaikan — seperti menyenangkan hati orang lain, menghilangkan kejenuhan, dan mempererat silaturahmi.
  5. Teladani Nabi ﷺ — beliau bergurau tetapi tetap menjaga kejujuran, kesopanan, dan tidak berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.