Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1977 tentang Larangan mencela, melaknat, dan berkata kotor

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin sejati tidak memiliki sifat suka mencela, melaknat, berkata keji, atau berkata kotor. Ini adalah akhlak mulia yang harus dimiliki setiap muslim, karena sifat-sifat tersebut bertentangan dengan keimanan dan kesempurnaan iman seseorang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Berbuat Baik dan Menyambung Silaturahmi, Bab Tentang Laknat, no. 1977. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Teks Hadits:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ

Terjemahan: "Seorang mukmin tidaklah suka mencela, tidak suka melaknat, tidak suka berkata keji, dan tidak suka berkata kotor."

Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Munawi (dalam Faidhul Qadir) menjelaskan bahwa ath-tha'an adalah orang yang suka mencela kehormatan orang lain, al-la'an adalah orang yang sering melaknat makhluk, al-fahisy adalah orang yang berkata keji dan tidak sopan, dan al-badzi' adalah orang yang berkata kotor dan tidak beradab.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa sifat-sifat ini adalah kebalikan dari akhlak seorang mukmin yang sempurna imannya.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum, baik terhadap manusia, hewan, maupun benda mati, karena melaknat adalah perbuatan yang tidak pantas bagi seorang mukmin.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan gambaran tentang akhlak mulia yang harus dimiliki seorang mukmin. Rasulullah ﷺ menafikan sifat-sifat buruk ini dari seorang mukmin sejati, artinya sifat-sifat tersebut tidak layak melekat pada dirinya.

1. Ath-Tha'an (Suka Mencela)

Mencela adalah perbuatan yang merendahkan dan menghina orang lain. Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya) menjelaskan bahwa mencela termasuk dosa besar karena dapat menyakiti hati sesama muslim. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)."

2. Al-La'an (Suka Melaknat)

Melaknat berarti mengusir dari rahmat Allah. Imam An-Nawawi mengatakan bahwa melaknat seorang muslim adalah haram, bahkan melaknat hewan atau benda pun tidak diperbolehkan. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah, kemurkaan-Nya, atau neraka." (HR. Abu Dawud, no. 4906, shahih)

3. Al-Fahisy (Berkata Keji)

Kata-kata keji adalah ucapan yang tidak sopan, kasar, dan mengandung dosa. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, melaknat, dan berkata keji." (HR. Al-Bukhari, no. 6046)

4. Al-Badzi' (Berkata Kotor)

Al-Badzi' adalah orang yang ucapannya tidak beradab, kotor, dan tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa seorang mukmin harus menjaga lisannya karena lisan adalah cerminan iman.

Pendapat Ulama:

  • Imam Ahmad bin Hanbal sangat menekankan pentingnya menjaga lisan dan menjauhi sifat-sifat ini. Beliau berkata, "Seorang mukmin itu lembut, tidak kasar, dan tidak suka berkata keji."
  • Imam Asy-Syafi'i juga menegaskan bahwa akhlak mulia adalah bagian dari kesempurnaan iman. Beliau berkata, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.'" (HR. At-Tirmidzi, no. 1977)

Dalam kehidupan sehari-hari, para sahabat sangat menjaga lisan mereka. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47)

Kisah Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah: Suatu hari beliau melihat seseorang yang suka mencela orang lain. Maka Al-Hasan menasihatinya: "Wahai saudaraku, janganlah engkau mencela orang lain, karena celaanmu itu akan kembali kepadamu. Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya, ia melihat kebaikan dan menutupi aibnya."

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan dari mencela, melaknat, dan berkata kotor.
  2. Biasakan berkata baik atau diam jika tidak ada kebaikan.
  3. Latih diri untuk berakhlak mulia, karena akhlak adalah bagian dari kesempurnaan iman.
  4. Ingatlah bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?