Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1975 tentang Keutamaan akhlak terbaik dan larangan berkata kotor

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang muslim di sisi Allah dan Rasul-Nya diukur dari akhlaknya. Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya, dan teladan terbaik dalam hal ini adalah Nabi Muhammad ﷺ yang suci dari perkataan kotor dan keji. Hadits ini juga menegaskan bahwa akhlak yang mulia adalah bagian dari kesempurnaan iman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الأَعْمَشِ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ، يُحَدِّثُ عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا " وَلَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا.

Terjemahan: 'Abdullah bin 'Amr berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya.' Dan Nabi ﷺ tidak pernah berkata kotor, maupun berkata yang keji."

Kaitan dengan Ulama:

Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya menilai hadits ini hasan shahih (baik dan sahih). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3559) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2321) dari jalur yang berbeda, yang menunjukkan kekuatan sanadnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua pelajaran besar:

Pertama: Tolok ukur kemuliaan adalah akhlak.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitabnya Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا" (Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya) menunjukkan bahwa akhlak yang mulia adalah sifat yang paling utama dan paling dicintai Allah. Orang yang paling baik di antara manusia bukanlah yang paling kaya, paling tampan, atau paling tinggi kedudukannya, melainkan yang paling baik akhlaknya.

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa akhlak yang baik adalah buah dari keimanan yang benar. Semakin kuat iman seseorang, semakin indah akhlaknya. Maka, akhlak yang mulia adalah cerminan dari kualitas keimanan.

Kedua: Nabi ﷺ terbebas dari perkataan kotor.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa sifat fuhsy (kekejian/kekotoran) dan tafahhusy (berkata keji dengan sengaja) adalah perangai tercela yang tidak pernah dimiliki oleh Nabi ﷺ. Beliau adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, paling lembut tutur katanya, dan paling jauh dari perkataan yang menyakiti.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa al-fahisy adalah orang yang terbiasa berkata kotor, sedangkan al-mutafahhisy adalah orang yang sengaja berusaha berkata keji. Kedua sifat ini sama sekali tidak ada pada diri Nabi ﷺ. Bahkan dalam kondisi marah sekalipun, beliau tetap menjaga lisannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menambahkan bahwa hadits ini juga menjadi dalil bahwa seorang mukmin harus menjauhi perkataan kotor, karena perkataan yang baik adalah sedekah dan termasuk akhlak mulia yang dicintai Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

> "Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Demi Allah, tidaklah seorang budak atau pembantu memanggil beliau kecuali beliau menjawabnya. Aku pernah berjalan bersama beliau, lalu beliau memakai selendang Najrani yang tebal. Tiba-tiba seorang Badui datang dan menarik selendang itu dengan keras hingga aku melihat bekas tarikan itu di pundak beliau. Orang itu berkata: 'Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku dari harta Allah yang ada padamu!' Maka Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya sambil tersenyum, lalu memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu." (HR. Al-Bukhari no. 6034)

Lihatlah bagaimana Nabi ﷺ membalas kekasaran orang Badui itu dengan senyuman dan kebaikan. Beliau tidak membalas dengan kemarahan atau perkataan kasar. Inilah contoh nyata dari akhlak mulia yang beliau ajarkan kepada umatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan akhlak sebagai prioritas dalam memperbaiki diri, karena ia adalah tolok ukur kemuliaan di sisi Allah.
  2. Jaga lisan dari perkataan kotor, baik saat marah maupun senang, karena itu bukan sifat orang beriman.
  3. Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam setiap interaksi, baik dengan keluarga, tetangga, maupun orang lain.
  4. Perbanyak doa agar Allah memperbaiki akhlak kita, sebagaimana doa Nabi ﷺ: "Ya Allah, jadikanlah akhlakku sebaik-baik akhlak."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.