Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita dua perkara besar: pertama, bahwa keburukan (al-fuhsy) adalah sesuatu yang merusak dan memperburuk keadaan, di mana pun ia berada. Kedua, bahwa rasa malu (al-haya') adalah perhiasan yang memperindah dan memuliakan, di mana pun ia berada. Hadits ini menekankan pentingnya menjauhi perkataan dan perbuatan keji, serta menghiasi diri dengan sifat malu yang merupakan cabang dari iman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Berbuat Baik dan Menjalin Silaturahmi, Bab tentang Keburukan dan Keburukan yang Berlebihan, nomor 1974. Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ"
Makna ringkas: "Tidaklah kekejian (al-fuhsy) itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperburuknya. Dan tidaklah rasa malu (al-haya') itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya."
Imam At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata: "Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Abdurrazzaq." Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki derajat hasan dan layak untuk diamalkan.
Hadits ini juga memiliki penguat dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha yang disebutkan dalam bab yang sama. Dan dalam riwayat lain yang shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Al-haya' tidaklah datang pada sesuatu melainkan ia memperindahnya, dan tidaklah kekejian itu datang pada sesuatu melainkan ia memperburuknya." (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kaidah besar dalam akhlak Islam. Mari kita rinci maknanya:
Pertama: Makna Al-Fuhsy (الْفُحْشُ)
Al-fuhsy secara bahasa berarti perkataan atau perbuatan yang keji, kotor, melampaui batas, dan buruk. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa al-fuhsy mencakup perkataan keji, perbuatan keji, dan akhlak yang buruk. Ini termasuk mencaci maki, berkata kotor, berbuat zina, dan segala bentuk kemaksiatan yang dipandang buruk oleh syariat dan akal sehat.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa al-fuhsy adalah lawan dari al-haya'. Jika al-haya' adalah akhlak mulia yang menjadi akar dari segala kebaikan, maka al-fuhsy adalah akhlak tercela yang menjadi sumber segala keburukan.
Kedua: Makna Al-Haya' (الْحَيَاءُ)
Al-haya' adalah rasa malu yang terpuji, yaitu rasa malu yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perkara-perkara yang Allah larang dan melakukan perkara-perkara yang Allah perintahkan. Ini bukan rasa malu yang tercela, yaitu rasa malu yang menghalangi seseorang dari menuntut ilmu atau melakukan kebenaran.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa al-haya' terbagi menjadi dua: haya' yang merupakan tabiat bawaan (gharizah) dan haya' yang merupakan hasil usaha (muktasabah). Keduanya terpuji selama tidak menghalangi dari kebenaran.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa al-haya' adalah akhlak yang mendorong pelakunya untuk menjauhi keburukan dan mencegah dari kekurangan dalam menunaikan hak orang lain.
Ketiga: Kandungan Hadits
Hadits ini menunjukkan bahwa:
- Al-fuhsy adalah sifat yang merusak. Jika seseorang memiliki sifat ini, ia akan kehilangan kehormatan dan wibawanya di mata manusia. Bahkan jika sifat ini ada pada suatu perkara yang baik sekalipun, ia akan merusaknya.
- Al-haya' adalah sifat yang memperindah. Jika seseorang memiliki sifat ini, ia akan dicintai manusia dan dimuliakan. Bahkan jika sifat ini ada pada suatu perkara yang kurang baik, ia akan memperbaikinya.
Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dan al-haya' adalah salah satu cabang iman." Ini menunjukkan bahwa al-haya' bukan sekadar akhlak biasa, melainkan bagian dari keimanan itu sendiri.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa al-haya' adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih. Ia adalah sifat yang mencegah pemiliknya dari perbuatan buruk dan mendorongnya untuk berbuat baik. Dengan al-haya', seseorang akan menjaga pandangannya, lisannya, dan seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang Allah haramkan.
Keempat: Penerapan dalam Kehidupan
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menjadi pedoman dalam bermuamalah dan berdakwah. Seseorang yang ingin menyampaikan kebenaran hendaknya melakukannya dengan cara yang santun dan penuh rasa malu, bukan dengan kekejian dan kekasaran. Karena kekejian hanya akan merusak dakwah, sedangkan kelembutan dan rasa malu akan memperindahnya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin juga menjelaskan bahwa al-haya' memiliki tingkatan: haya' kepada Allah, haya' kepada malaikat, haya' kepada manusia, dan haya' kepada diri sendiri. Haya' kepada Allah adalah dengan tidak melakukan maksiat di hadapan-Nya, haya' kepada malaikat adalah dengan tidak berbuat buruk karena merasa diawasi, haya' kepada manusia adalah dengan tidak berkata atau berbuat yang menyakiti mereka, dan haya' kepada diri sendiri adalah dengan menjaga kehormatan diri dari perbuatan hina.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun di Madinah. Beliau berkata: "Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Demi Allah, tidaklah beliau berkata kepadaku 'ah' (ungkapan tidak suka) terhadap sesuatu yang aku lakukan, dan tidaklah beliau berkata terhadap sesuatu yang aku lakukan: 'Mengapa kamu lakukan ini?'" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Dalam riwayat lain, Anas berkata: "Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku 'uff' (ungkapan bosan) dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang aku lakukan: 'Mengapa kamu lakukan ini?' dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: 'Mengapa kamu tidak lakukan ini?'" (HR. Al-Bukhari).
Ini adalah contoh nyata bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ yang penuh dengan al-haya' dan kelembutan, jauh dari al-fuhsy dan kekasaran. Beliau ﷺ adalah teladan terbaik dalam menerapkan hadits ini.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi al-fuhsy dalam segala bentuknya: perkataan kotor, caci maki, ejekan, dan perbuatan keji. Karena ia hanya akan merusak kehormatan dan hubungan kita dengan sesama.
- Hiasi diri dengan al-haya': rasa malu untuk berbuat maksiat, malu untuk menyakiti orang lain, dan malu untuk meninggalkan kewajiban.
- Gunakan kelembutan dalam berdakwah dan menasihati: karena kekejian tidak akan pernah membawa kebaikan, sedangkan kelembutan dan rasa malu akan membuka hati.
- Tanamkan al-haya' kepada anak-anak dan keluarga: karena ia adalah akhlak mulia yang akan menjaga mereka dari keburukan.
- Ingatlah bahwa al-haya' adalah cabang iman: semakin kuat iman seseorang, semakin besar rasa malunya kepada Allah dan sesama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.