Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada sesama manusia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Orang yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan orang lain, berarti ia juga tidak memiliki hakikat syukur kepada Allah. Karena syukur kepada Allah itu diwujudkan dengan mengakui kebaikan, dan salah satu bentuknya adalah dengan berterima kasih kepada sesama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda tuliskan):
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ لاَ يَشْكُرِ اللَّهَ " . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi no. 1954, beliau berkata: hadits hasan shahih)
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14]: 7)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad (no. 216) dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) dengan lafaz yang semakna. Imam Al-Khathib Al-Baghdadi juga menyebutkan dalam Al-Jami' li Akhlaq Ar-Rawi bahwa para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa orang yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna hadits ini dengan beberapa penjelasan yang saling melengkapi:
1. Penjelasan Imam Al-Khathabi dan para ulama hadits:
Makna hadits ini adalah bahwa Allah ﷻ tidak menerima syukur seorang hamba kepada-Nya jika hamba tersebut tidak berterima kasih kepada manusia yang telah berbuat baik kepadanya. Ini karena syukur kepada Allah dan syukur kepada manusia adalah dua hal yang saling berkaitan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa syukur kepada Allah itu mencakup syukur kepada makhluk-Nya, karena Allah memerintahkan kita untuk membalas kebaikan orang lain.
2. Penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari:
Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia dianggap tidak bersyukur kepada Allah. Karena syukur kepada Allah itu tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan. Dan di antara perbuatan syukur adalah mengakui kebaikan orang lain dan membalasnya dengan baik.
3. Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin:
Beliau menjelaskan bahwa hadits ini memiliki dua makna:
- Pertama, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Karena Allah yang memerintahkan kita untuk berterima kasih kepada sesama.
- Kedua, orang yang tidak bersyukur kepada Allah, maka ia juga tidak akan bersyukur kepada manusia. Karena syukur kepada Allah adalah sumber dari segala kebaikan.
4. Penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulub Al-Abrar:
Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menggabungkan antara hak Allah dan hak hamba. Syukur kepada Allah tidak akan sempurna kecuali dengan berterima kasih kepada manusia. Dan orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak mengenal kebaikan dan tidak menghargainya. Ini menunjukkan kurangnya iman dan kurangnya syukur kepada Allah.
5. Penjelasan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad:
Beliau meletakkan hadits ini dalam bab "Man La Yasykur An-Nas" (Bab Orang yang Tidak Bersyukur kepada Manusia), menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari adab dan akhlak yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Kesimpulan dari para ulama:
Hadits ini mengajarkan bahwa syukur itu memiliki dua dimensi: vertikal (kepada Allah) dan horizontal (kepada sesama). Keduanya tidak bisa dipisahkan. Orang yang hanya pandai berdoa dan berterima kasih kepada Allah, tetapi tidak pernah berterima kasih kepada manusia, maka syukurnya dianggap kurang sempurna. Bahkan bisa dikatakan ia tidak bersyukur kepada Allah, karena ia tidak mengamalkan perintah Allah untuk membalas kebaikan orang lain.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Fudhail bin 'Iyadh — salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in yang sangat zuhud — pernah ditanya tentang makna syukur. Beliau berkata:
"Syukur itu adalah engkau melihat nikmat dari Allah, kemudian engkau gunakan nikmat itu untuk taat kepada-Nya, dan engkau tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Dan di antara bentuk syukur itu adalah engkau berterima kasih kepada orang yang menjadi perantara sampainya nikmat itu kepadamu."
Beliau juga pernah berkata: "Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Karena Allah tidak menerima syukur seorang hamba yang tidak mau berterima kasih kepada sesamanya."
Kisah lain yang sangat terkenal adalah ketika Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang tidak berterima kasih:
"Sesungguhnya sebaik-baik manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berterima kasih kepada manusia."
Para sahabat bertanya: "Bagaimana caranya berterima kasih kepada manusia, wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda: "Engkau ucapkan: 'Jazakallahu khairan' (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)." (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa berterima kasih itu tidak harus dengan balasan materi yang besar. Cukup dengan doa yang tulus, "Jazakallahu khairan", itu sudah merupakan bentuk syukur kepada manusia.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang berbuat baik kepada kita, baik dengan ucapan "Jazakallahu khairan" atau ungkapan terima kasih lainnya.
- Jangan meremehkan kebaikan orang lain, sekecil apa pun. Karena Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun itu hanya engkau berwajah ceria saat bertemu saudaramu." (HR. Muslim)
- Balaslah kebaikan dengan kebaikan, jika mampu. Jika tidak mampu, maka doakanlah kebaikan untuk orang tersebut.
- Sadari bahwa syukur kepada Allah dan terima kasih kepada manusia adalah satu paket. Keduanya harus berjalan beriringan dalam kehidupan sehari-hari.
- Jadikan hadits ini sebagai pengingat bahwa akhlak yang baik kepada sesama adalah bagian dari ibadah kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.