Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1953 tentang Bab Apa yang Dikatakan tentang Menerima Hadiah dan Memberikan Balasan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa menerima hadiah dengan baik dan membalasnya adalah sunnah Nabi ﷺ. Ini menunjukkan akhlak mulia dalam bermuamalah, yaitu saling memberi dan menghargai pemberian orang lain tanpa merasa berat hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha:

"Bahwa Nabi ﷺ menerima hadiah dan memberikan balasan untuknya." (HR. At-Tirmidzi no. 1953, Kitab Berbuat Baik dan Menyambung Silaturahmi, Bab Menerima Hadiah dan Memberikan Balasan)

At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib shahih dari jalur ini.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 2585) dan Muslim (no. 2196) dari sahabat lain dengan makna serupa.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa adab penting:

  1. Menerima hadiah dengan tangan terbuka – Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy-Syafi'i menekankan bahwa menolak hadiah tanpa alasan syar'i dapat menyakiti hati pemberi. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri: "Memberi hadiah adalah salah satu pintu kebaikan, maka janganlah engkau menutupnya."
  2. Membalas hadiah – Ini adalah bentuk syukur dan menjaga hubungan baik. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa membalas hadiah hukumnya sunnah, bukan wajib, namun sangat dianjurkan agar tidak terkesan hanya menerima tanpa memberi.
  3. Tidak memberatkan diri – Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa balasan tidak harus sama nilainya, tetapi sesuai kemampuan. Yang penting adalah niat membalas kebaikan.
  4. Larangan menerima hadiah yang menimbulkan fitnah – Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengingatkan bahwa hadiah dari pejabat atau hakim bisa menjadi suap (risywah) yang haram. Maka konteks hadits ini adalah hadiah biasa antar sesama muslim.

Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zaadul Ma'ad menambahkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menolak hadiah kecuali jika ada unsur syubhat atau karena kondisi tertentu (seperti daging kurban yang disedekahkan).

Story Telling

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa suatu ketika Nabi ﷺ diberi hadiah sepotong daging. Beliau menerimanya dan kemudian mengirimkan hadiah balasan yang lebih baik kepada pemberi. Aisyah berkata: "Beliau tidak pernah menerima hadiah kecuali membalasnya, meskipun dengan sesuatu yang lebih sedikit, karena beliau tidak suka berhutang budi." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Hikmah: Ini mengajarkan kita untuk tidak merasa besar hati saat menerima, dan tidak merasa berat saat memberi balasan. Cukup dengan doa atau hadiah sederhana, asalkan tulus.

Kesimpulan Praktis

  1. Terimalah hadiah dengan wajah ceria dan ucapan terima kasih.
  2. Usahakan membalas meskipun dengan sesuatu yang kecil atau doa.
  3. Jangan menolak hadiah tanpa alasan syar'i yang jelas.
  4. Hindari menerima hadiah yang bisa menimbulkan fitnah atau kewajiban yang memberatkan.
  5. Niatkan saling memberi sebagai bentuk silaturahmi dan ibadah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.