Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1949 tentang Memaafkan pelayan hingga tujuh puluh kali sehari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya sangat luas hati dalam memaafkan pelayan atau pembantunya, sampai disebutkan angka "tujuh puluh kali setiap hari" — yang menunjukkan banyaknya, bukan batas hitungan kaku. Ini adalah anjuran akhlak mulia: sabar, tidak cepat marah, dan tidak menyimpan dendam terhadap orang yang membantu urusan kita.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Ali 'Imran [3]: 134

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Terjemahan: "…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

QS. Al-A'raf [7]: 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Terjemahan: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Berbuat Baik dan Menyambung Silaturahmi, Bab Memaafkan Pelayan, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan gharib."

Hadits pendukung dari Abdullah bin Umar juga diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad bin Hanbal dengan makna serupa tentang memaafkan pelayan.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ berapa kali ia harus memaafkan kesalahan pelayannya. Nabi ﷺ awalnya diam — ini menunjukkan bahwa pertanyaan itu berat dan jawabannya perlu direnungkan. Ketika ditanya lagi, beliau menjawab: "Setiap hari tujuh puluh kali."

Angka tujuh puluh di sini menurut para ulama bukanlah batas maksimal yang kaku, melainkan ungkapan banyaknya (mubalaghah) — artinya: maafkanlah terus-menerus, jangan hitung-hitungan, karena pelayan adalah manusia yang bisa lupa dan salah.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Islam sangat menekankan akhlak mulia terhadap pelayan dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita. Beliau menegaskan bahwa memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan tanpa nasihat, tetapi menahan amarah dan tidak membalas dengan kasar.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang memaafkan pelayan menunjukkan keutamaan hilm (santun) dan 'afw (memaafkan), dan bahwa seorang majikan tidak boleh merasa lebih mulia hanya karena statusnya.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa memaafkan berulang kali adalah tanda hati yang bersih dan iman yang kuat, bukan tanda kelemahan.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa memaafkan adalah salah satu tingkatan tertinggi akhlak, dan bahwa orang yang mudah memaafkan akan mendapatkan cinta Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali 'Imran [3]: 134.

Catatan tentang sanad:

At-Tirmidzi menyebut hadits ini hasan gharib. Sebagian perawi menyebut "Abdullah bin Amr" bukan "Abdullah bin Umar" — ini adalah perbedaan riwayat yang biasa dalam ilmu hadits, dan tidak mengubah makna hadits. Para ulama hadits seperti Abu Zur'ah ar-Razi dan Abu Hatim ar-Razi menilai riwayat ini dapat diterima sebagai hasan.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memahami "tujuh puluh kali" sebagai angka literal (batas maksimal), sebagian lain memahaminya sebagai ungkapan banyaknya. Yang lebih kuat menurut dalil adalah pemahaman mubalaghah (ungkapan banyaknya), karena Islam tidak membatasi jumlah maaf — sebagaimana QS. Al-A'raf [7]: 199 memerintahkan "jadilah engkau pemaaf" tanpa batas angka.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma — perawi hadits ini — adalah teladan dalam memaafkan pelayannya. Beliau dikenal sangat lembut terhadap pelayan dan tidak pernah membalas kesalahan mereka dengan kasar. Ketika ditanya mengapa, beliau mengingatkan bahwa Nabi ﷺ sendiri melayani keluarganya, menjahit sandalnya, dan tidak pernah memukul pelayan atau wanita.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — yang melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun — bersaksi: "Beliau tidak pernah mengatakan 'ah' kepadaku, tidak pernah bertanya 'mengapa engkau lakukan ini' atau 'mengapa engkau tidak lakukan itu'." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah bukti nyata bahwa memaafkan pelayan adalah sunnah Nabi ﷺ yang agung.

Hikmahnya: seorang yang memaafkan pelayan berulang kali akan mendapatkan keberkahan dalam rumah tangganya, ketenangan hati, dan pahala dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Maafkan pelayan atau pembantu berulang kali — jangan hitung-hitungan, karena mereka manusia yang bisa salah.
  2. Tahan amarah dan jangan membalas dengan kata kasar atau hukuman yang menyakitkan.
  3. Tetap beri nasihat dengan lembut jika ada kesalahan, karena memaafkan bukan berarti membiarkan tanpa perbaikan.
  4. Ingatlah teladan Nabi ﷺ yang tidak pernah memukul pelayan dan selalu memaafkan.
  5. Renungkan QS. Ali 'Imran [3]: 134 — Allah mencintai orang yang menahan amarah dan memaafkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?