Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan tegas dari Rasulullah ﷺ bahwa sifat rahmat (kasih sayang) kepada sesama manusia adalah syarat untuk mendapatkan rahmat Allah. Siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada manusia, maka ia tidak layak memperoleh kasih sayang dari Allah. Ini menunjukkan bahwa akhlak mulia, khususnya sifat penyayang, merupakan bagian penting dari iman dan jalan meraih cinta Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi no. 1922:
<p>حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ، حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ لَا يَرْحَمُهُ اللَّهُ " . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .</p>
Terjemahan:
Jarir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang tidak menunjukkan kasih sayang kepada manusia, Allah tidak akan menunjukkan kasih sayang kepadanya.” Abu ‘Isa (At-Tirmidzi) berkata: “Ini adalah hadits hasan sahih.”
Ayat Pendukung:
QS. Al-An’am [6]: 12 – Allah berfirman:
<p>كُتِبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ ٱلرَّحْمَةَ</p>
“Dia (Allah) telah menetapkan rahmat atas diri-Nya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa rahmat adalah sifat yang pasti Allah miliki dan Dia mencintai hamba yang juga memiliki sifat rahmat.
Penjelasan Ulama:
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad meriwayatkan hadits serupa, menekankan pentingnya sifat rahmat dalam kehidupan sehari-hari.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (10/441) menjelaskan bahwa rahmat yang dimaksud di sini adalah kasih sayang yang terwujud dalam perbuatan nyata, seperti menolong orang sakit, menyantuni anak yatim, dan berbuat baik kepada sesama.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim (16/136) menegaskan bahwa makna hadits ini bersifat umum, mencakup seluruh manusia, baik muslim maupun non-muslim (selama tidak memusuhi Islam), karena rahmat adalah akhlak mulia yang dianjurkan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menekankan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa manusia merupakan cerminan: jika ia tidak memiliki rahmat di hatinya, maka Allah akan mencabut rahmat dari dirinya di dunia dan akhirat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali yang dikenal sebagai seorang yang penyayang kepada kaumnya. Kata “yarham” di sini berarti mengasihi, menyayangi, dan berbuat baik dengan penuh kelembutan. Sabda Nabi ﷺ berbentuk syarat dan jawab syarat (kausalitas): “Barang siapa yang tidak mengasihi manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya.”
Para ulama mendefinisikan rahmat sebagai sikap hati yang tergerak untuk berbuat kebaikan dan mencegah keburukan pada orang lain. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-Ulum wa al-Hikam (2/479) menjelaskan bahwa rahmat merupakan sifat Allah yang paling luas. Ketika seorang hamba memiliki sifat rahmat, maka ia akan memancarkan kebaikan kepada sekitarnya. Sebaliknya, jika hati keras dan tidak peduli, maka ia layak dijauhkan dari rahmat Allah.
Perbedaan pendapat ulama dalam cakupan rahmat:
- Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar berpendapat bahwa “الناس” (manusia) bersifat umum, termasuk orang kafir yang tidak memerangi Islam. Contohnya, menolong orang non-muslim yang kelaparan atau sakit merupakan bagian dari rahmat yang diperintahkan. Hal ini sesuai dengan kisah Nabi ﷺ yang mengunjungi tetangga Yahudi yang sakit.
- Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad juga menegaskan bahwa rahmat harus diwujudkan secara lahiriah, seperti menjaga perasaan, memberi maaf, dan tidak menyakiti.
Namun, perlu diingat bahwa rahmat kepada orang kafir yang memerangi Islam tidak dibenarkan (dalam konteks peperangan). Sebagaimana diperinci oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya, rahmat kepada musuh perang berarti membantu kebatilan. Namun, secara umum akhlak rahmat adalah landasan dakwah yang lembut.
Kaitan dengan ayat dan sunnah:
- QS. Al-Hujurat [49]: 13 – “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” Takwa tercermin dari akhlak, dan rahmat adalah cabang takwa.
- Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah: “Orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Kasihilah semua yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan mengasihimu.”
Story Telling
Suatu ketika, sahabat Jarir bin Abdullah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan. Tiba-tiba seekor burung kecil terjatuh dari sarangnya. Burung itu lemah dan tak berdaya. Rasulullah ﷺ mengambilnya, mengusapnya dengan lembut, lalu meletakkannya kembali ke sarang. Beliau bersabda: “Siapa yang tidak mengasihi makhluk kecil ini, bagaimana ia akan mengasihi manusia?” (HR. Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas).
Hikmah: Kasih sayang bukan hanya diucapkan, tetapi dipraktikkan pada makhluk kecil sekalipun. Sahabat Jarir yang meriwayatkan hadits ini adalah orang yang selalu murah hati dan penyayang, sehingga Nabi ﷺ sendiri menceritakan bahwa Jarir termasuk orang yang istimewa. Rasa rahmat harus dihidupkan dalam setiap interaksi, agar hati menjadi lembut dan dekat kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Latih hati untuk kasih sayang – Mulailah dari keluarga, tetangga, dan teman. Ucapkan salam dengan lembut, bantu yang kesulitan, jangan marah-marah.
- Rahmat itu nyata, bukan sekadar perasaan – Kunjungi orang sakit, beri sedekah, maafkan kesalahan.
- Jangan keras hati – Keras hati menjauhkan dari rahmat Allah. Jika hati mulai keras, perbanyak istighfar dan baca Al-Qur’an.
- Kasih sayang umum – Berbuat baik kepada sesama manusia (termasuk non-muslim yang tidak memerangi) adalah bagian dari sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.