Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa kasih sayang, termasuk mencium anak, adalah bagian dari akhlak mulia yang diperintahkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada sesama, terutama kepada anak-anak, maka ia tidak akan mendapatkan rahmat (kasih sayang) dari Allah. Ini menunjukkan bahwa mengekspresikan cinta kepada anak bukanlah kelemahan, melainkan ibadah dan tanda keimanan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
(QS. Al-Anbiya' [21]: 107)
Terjemahan: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
Ayat ini menunjukkan bahwa sifat utama Nabi ﷺ adalah rahmat (kasih sayang), dan hadits di atas adalah salah satu bentuk nyata dari sifat tersebut.
Hadits:
Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Jami' At-Tirmidzi no. 1911, sebagaimana yang disebutkan. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya mencium anak kecil dan larangan bersikap keras (kasar) terhadap mereka.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menegaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang menganggap mencium anak sebagai perbuatan yang mengurangi kewibawaan atau kejantanan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhus Shalihin) menjelaskan bahwa rahmat (kasih sayang) yang dimaksud dalam hadits adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim, dan balasannya adalah rahmat dari Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini terjadi ketika Al-Aqra' bin Habis, seorang sahabat yang terkenal dengan kehormatannya di kalangan Arab, melihat Rasulullah ﷺ mencium cucunya, Al-Hasan atau Al-Husain. Ia merasa heran dan berkata, "Aku memiliki sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka." Ini menunjukkan bahwa di kalangan sebagian orang Arab saat itu, mencium anak dianggap sebagai perbuatan yang terlalu lembut dan mengurangi kegagahan.
Rasulullah ﷺ langsung membantah pemikiran ini dengan sabda beliau: "Siapa yang tidak menunjukkan kasih sayang, dia tidak akan disayangi." Makna hadits ini sangat dalam:
- Rahmat adalah Sifat Allah yang Harus Diteladani: Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sebagai hamba, kita diperintahkan untuk meneladani sifat-sifat Allah yang mungkin bagi kita, termasuk kasih sayang. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa rahmat adalah sumber dari segala kebaikan, dan orang yang tidak memiliki rahmat berarti hatinya mati.
- Kasih Sayang adalah Sebab Mendapatkan Rahmat Allah: Ini adalah kaidah yang sangat penting. Balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan. Jika kita menyayangi makhluk Allah, maka Allah akan menyayangi kita. Sebaliknya, jika kita keras dan tidak memiliki rasa sayang, maka kita akan terhalang dari rahmat Allah.
- Mencium Anak adalah Bentuk Ibadah: Imam Asy-Syafi'i dan para ulama lainnya menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa mencium anak adalah perbuatan yang dianjurkan (mustahab) dan bukan sesuatu yang tercela. Bahkan, ini adalah bagian dari menyempurnakan akhlak.
- Bantahan terhadap Kekerasan dalam Mendidik: Hadits ini juga menjadi landasan bahwa mendidik anak tidak boleh dengan kekerasan dan kekasaran hati. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kasih sayang adalah kunci keberhasilan dalam mendidik.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri (seorang tabi'in besar), beliau berkata: "Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melihat seorang anak kecil, lalu ia memangku dan menciumnya. Maka orang Badui berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau mencium anak? Demi Allah, aku memiliki sepuluh anak dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.' Maka Umar berkata, 'Sesungguhnya Allah tidak menaruh rahmat di hatimu. Barangsiapa yang tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.'" (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dengan sanad yang shahih).
Kisah ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang kasih sayang ini sudah diajarkan oleh para sahabat dan tabi'in. Mereka memahami bahwa kerasnya hati adalah penyakit yang harus diobati dengan kelembutan dan cinta.
Kesimpulan Praktis
- Ciumlah anak-anak kita sebagai bentuk kasih sayang dan ikutlah sunnah Nabi ﷺ.
- Jangan menganggap remeh ekspresi cinta kepada keluarga, karena itu adalah sebab turunnya rahmat Allah.
- Hindari sikap keras dan kasar dalam mendidik anak. Kasih sayang adalah metode terbaik.
- Yakinlah bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, termasuk menyayangi makhluk, akan dibalas oleh Allah dengan rahmat-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.