Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1906 tentang Kewajiban berbakti kepada ayah dan batasannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan tentang kedudukan orang tua yang sangat tinggi dalam Islam. Seorang anak tidak akan pernah bisa membalas kebaikan orang tuanya secara sempurna, kecuali dalam satu keadaan yang sangat spesifik, yaitu jika orang tua menjadi budak lalu anaknya membeli dan memerdekakannya. Ini menunjukkan bahwa jasa orang tua begitu besar, sehingga balasan yang setara pun hampir mustahil dilakukan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 1906)

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda kutip):

> لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

Makna: "Seorang anak tidak dapat berbuat cukup (membalas) untuk ayahnya, kecuali jika ia menemukannya sebagai budak lalu ia membelinya dan memerdekakannya."

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari jalur Suhail bin Abi Shalih, dan Sufyan Ats-Tsauri serta ulama lainnya turut meriwayatkannya. Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki jalur periwayatan yang kuat dan diterima oleh para ulama hadits.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan tentang hak orang tua yang sangat besar atas anaknya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: seorang anak tidak akan mampu membalas kebaikan orang tuanya dengan balasan yang setimpal, karena jasa orang tua dalam mendidik, merawat, dan membesarkan anak tidak bisa dihitung. Satu-satunya cara yang bisa dianggap "membalas" adalah ketika anak menemukan orang tuanya dalam keadaan menjadi budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya. Perbuatan ini dianggap sebagai balasan yang setara karena memerdekakan seseorang dari perbudakan adalah nikmat yang sangat besar, sebagaimana orang tua telah "memerdekakan" anaknya dari ketidakberdayaan saat kecil.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan memerdekakan budak, dan juga menunjukkan bahwa hak orang tua tidak bisa dibalas kecuali dengan perbuatan yang sangat besar. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini tidak berarti anak tidak perlu berbuat baik kepada orang tua; justru sebaliknya, hadits ini memotivasi anak untuk terus berbuat baik karena balasan yang sempurna itu hampir mustahil.

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang tidak ada batasnya. Seorang anak harus terus berusaha berbakti semampunya, meskipun ia tidak akan pernah bisa membalas sepenuhnya. Beliau juga menekankan bahwa memerdekakan budak dalam konteks ini adalah contoh balasan yang paling tinggi, bukan satu-satunya cara.

Imam As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan anak untuk berbuat baik kepada orang tua, dan hadits ini memperkuat perintah tersebut dengan menunjukkan bahwa balasan yang sempurna itu mustahil, sehingga anak harus berusaha semaksimal mungkin.

Poin penting: Hadits ini tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk tidak berbakti. Justru sebaliknya, hadits ini adalah dorongan untuk terus berbuat baik, karena kita tidak akan pernah "selesai" membalas jasa orang tua.

Story Telling

Ada kisah yang masyhur dari Imam Ahmad bin Hanbal tentang seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Suatu hari, ibunya meminta air minum, dan pemuda itu segera mengambilnya. Namun, saat ia tiba, ibunya sudah tertidur. Pemuda itu berdiri menunggu di samping ibunya dengan membawa air, tidak mau membangunkan ibunya, dan juga tidak mau meletakkan air karena takut ibunya terbangun dan kehausan. Ia berdiri semalaman hingga subuh. Ketika ibunya bangun, ia langsung memberikan air itu.

Kisah ini menunjukkan bahwa bakti seorang anak tidak mengenal lelah dan waktu. Namun, meskipun pemuda itu telah berbuat sangat baik, ia tetap tidak bisa membalas jasa ibunya secara penuh. Ini sesuai dengan hadits di atas: bakti yang besar pun tidak akan pernah "cukup" untuk membalas orang tua.

Kesimpulan Praktis

  1. Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang tidak terbatas. Jangan pernah merasa "cukup" dalam berbuat baik kepada mereka.
  2. Jangan menunda-nunda bakti. Selagi orang tua masih hidup, manfaatkan waktu untuk berbakti, karena setelah mereka tiada, pintu bakti hanya tersisa melalui doa dan sedekah atas nama mereka.
  3. Bersabar dan ikhlas dalam melayani orang tua, meskipun mereka sudah tua, rewel, atau sulit dipahami.
  4. Jangan pernah berkata "ah" atau membentak mereka, sebagaimana larangan Allah dalam QS. Al-Isra' [17]: 23.
  5. Perbanyak doa untuk orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?